Berita

20Kuldesak: Ketika Pelopor Industri Perfilman Modern Indonesia Kembali Lagi

Tidak ada yang menyangka bahwa film yang menjadi pelopor industri perfilman modern negeri ini kembali lagi. Dua puluh tahun yang lalu, 27 November 1998, film ini tayang serentak di tiga layar bioskop di Jakarta (Taman Ismail Marzuki dan juga Hollywood 21 salah satunya), dan akhirnya muncul di Bandung, Jogja, dan Surabaya. Meraup penonton lebih dari 100.000 dengan layar yang minim dan juga dibawah gempuran film luar yang kala itu cukup merajai ranah bioskop tanah air. Film yang dibuat dengan dana minim pula dan mulai dibuat sejak tahun 1995, KULDESAK kembali lagi ke ranah publik 20 tahun kemudian, kembali membangkitkan kenangan yang pernah menonton film ini dulu, ataupun, mereka yang muda, tetapi tahu betul dengan pengaruh besar film ini.

Digelar persis duapuluh tahun setelah release-nya, 20KULDESAK diselengarakan Miles Films beserta kerjasama dengan Bekraf dan juga jaringan bioskop 21, dimana perayaan dua puluh tahun film yang membuka jalan untuk perfilman modern negeri ini dirayakan dengan screening Kuldesak (dengan cut yang langsung discan dari arsip para sutradara), dan juga peluncuran 20Kuldesak: Berjejaring, Bergerak, Bersiasat, Berontak, yakni buku “Arsip” atas segala hal yang berhubungan dengan Kuldesak, dari kolase reportase media atas Kuldesak saat itu, foto foto behind the scene, sampai analisis berbagai individual yang menjadikan Kuldesak bahan thesis atau diskusi mereka, semua dikompilasi dalam satu buku oleh Mirwan Andan. Banyak tokoh tokoh yang terlibat dalam buku yang nantinya akan ada di berbagai perpustakaan ini, seperti tulisan Leila S. Chudori atau Tam Notosusanto yang kala itu adalah jurnalis/kolumnis ternama, atau Phillip Cheah, yang dulu berjasa membawa Kuldesak ke Festival Film Singapura.

Selain peluncuran buku tersebut, juga ada Pameran Sehari Arsip Kuldesak, dimana buku tersebut dapat dibaca secara publik di acara tersebut, dan juga terpampang berbagai kolase hal-hal yang terkait dan juga ada di buku tersebut, terlebih, semua ditemani euphoria Kuldesak yang mendadak bangkit lagi, dimana mereka yang datang demi merayakan 20Kuldesak berbincang bincang, menunggu pemutaran film (setelah press conference), atau bahkan berbincang bincang dengan para ke-empat director yang ada di lokasi tersebut, semua bersama alunan lagu-lagu soundtrack dari film ini, terlebih “Main soundtrack” film ini yang dinyanyikan Ahmad Dhani, dengan judul yang sama dengan film.

Kuldesak adalah film yang benar benar menggebrak industri perfilman kita yang saat itu masih banyak polemik. Dengan format omnibus yang tidak pernah ada sebelumnya di kancah perfilman negeri ini, para sutradaranya (yang kini menjadi figur figur besar di perfilman negeri) melawan segala kemungkinan yang ada. Mereka mengerjakan filmnya secara gotong royong, mementingkan jejaring koneksi yang mereka miliki, bergerak secara spontan, dan juga bersiasat-untuk “memberontak” terhadap iklim perfilman Indonesia yang sedang “Buntu” pada saat itu. Dengan empat segmen, Kuldesak menceritakan empat cerita berbeda. Segmen pertama yang disutradarai Nan Achnas melihat Dina yang diperankan Oppie Andaresta menghadapi “Obsesi” dia dengan Max Mollo (Dik Doank) dimana ia juga bertemu dengan pasangan sesama jenis yang menjadi teman dalam kesepiannya tersebut. Segmen kedua, disutradarai oleh Riri Riza melihat penampilan terakhir almarhum Ryan Hidayat sebagai Andre, seseorang anak dari keluarga kaya yang hidup dalam kesendirian, dan identifikasi dirinya dengan Kurt Cobain, seorang penyanyi besar era itu. Segmen ketiga disutradarai oleh Rizal Mantovani, dimana isu “Sexual Harrasment” di kantor diangkat dan dibuat ke titik yang mirip dengan film film balas dendam ala Death Wish, dimana Lina yang diperankan oleh Bianca Adinegoro mengalami pemerkosaan yang memicunya untuk main hakim sendiri. Terakhir, yaitu segmen yang seolah berperan sebagai self commentary dan kondisi film saat itu, yang disutradari oleh Mira Lesmana, yang melihat Aksan dan Aladin, yang diperankan oleh Aksan Sjuman dan Tio Pakusadewo dengan siasat mereka untuk mencari dana untuk mewujudkan mimpi Aksan, seorang yang bermimpi menjadi filmmaker. Semua segmen ini tidak berjalan secara terpisah, tetapi disajikan back-to back, dan berakhir pada saat yang bersamaan, tidak seperti film omnibus pada umumnya.

Baca juga: Catatan Seusai Pemutaran dan Diskusi Istirahatlah Kata-kata

Time capsule yang berjudul Kuldesak ini benar benar mengantarkan kita kembali ke era itu. Kemunculan Dik Doank, Teuku Edwin, penampilan terakhir sang Lupus yang legendaris, atau ke hal hal background seperti lokasi setting dari Circle K sampai Bioskop Wijaya, semua yang dibawa Kuldesak adalah apa yang terjadi pada era itu. Segala pesan, dari pengaruh seorang publik figur terhadap rakyat biasa, pendapat era itu terhadap LGBT, atau hal besar seperti kritik segmen Mira Lesmana terhadap industry film negeri ini pada saat itu, semua dibawa dengan cara yang sangat unik. Kapan lagi sih, kita ngeliat Aksan Sjuman di-implikasikan mau membobol berankas ayahnya sendiri? Atau dunia grunge Indonesia pada saat itu? Atau bahkan bagaimana bioskop era itu terlihat? Kuldesak pada dasarnya adalah kapsul waktu yang menjadi legenda tersendiri.

Nama nama yang terkait di Kuldesak, dari sisi crew dan pemain jelas betul bukanlah nama nama sembarangan. Memang. Semua cast yang terkait mayoritas memiliki nama besar pada saat itu, tetapi untuk para crew, tiada yang tahu siapa Rizal Mantovani. Mira Lesmana. Nan Achnas. Atau Riri Riza. Rizal Mantovani datang dari dunia video klip, dan akhirnya masuk ke dunia film layar lebar, sebelum nantinya menjadi bapak film horror modern Indonesia. Mira Lesmana dan Riri Riza terus berjuang untuk mengmodernisasikan industri film Indonesia, dan akhirnya berhasil dengan Ada Apa Dengan Cinta 4 tahun kemudian. Nan Achnas, di sisi lain, bergerak di genre yang lebih artistik. Bila dilihat pun, Kuldesak juga melahirkan talenta talenta lain seperti Findo Purwono yang kini aktif di genre horror dan juga romance, Baskoro Adi Nugroho yang kini menjadi penulis naskah, atau bahkan Yunus Pasolang, sang sinematografer pemenang piala FFI tahun ini. Terlihat juga bahwa (Terlebih di bagian Rizal Mantovani), bahwa style penggarapan film yang sudah melekat di diri mereka, semua dimulai dari Kuldesak. Baik permainan warna ataupun framing khas Rizal Mantovani, atau sinematografi yang dinamis yang dibawa Mira Lesmana dan Riri Riza. Semua dimulai dari sini.

Kembalinya Kuldesak ini mengingatkan kita kalau kita jangan sama sekali lupa sejarah. Atau juga, bahwa yang muda bisa berkarya, dan yang muda harus beraksi. Kuldesak adalah bukti bahwa sejarah bisa diukir sedemikian rupa bila ada usaha dan niat, terlepas dari background siapa yang menulis sejarah tersebut. Kuldesak akan kembali lagi di layar bioskop, di sembilan kota, dengan satu show. Tanggal 30 Desember, kalian yang berada di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Yogyakarta, Semarang, Solo, Malang, dan juga Padang dapat menyaksikan Kuldesak sekali lagi, dan merasakan apa yang membuat Kuldesak dapat menjadi pelopor industry negeri ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top