Europe On Screen 2021Sundance Film Festival 2021 Asia
Berita

5 Film Jerman Terpopuler di Perpustakaan Digital Goethe-Institut

Siaran Pers

Goethe-Institut Indonesien pekan ini mengumumkan 5 film Jerman paling populer di Onleihe. Kelima film ini dapat diakses secara gratis dari mana pun dan kapan pun di Indonesia. Onleihe merupakan perpustakaan digital milik institusi kebudayaan Jerman, Goethe-Institut. Onleihe menawarkan lebih dari 35.000 media berbahasa Jerman berkualitas seperti film, e-book, buku audio, dan majalah.

Lima film yang paling banyak ditonton di Onleihe merupakan film-film rilisan tahun 2011 hingga 2018 dengan genre komedi dan drama. Judul dari kelima film yang dimaksud ialah Fack ju Göthe 1 (2013), Agnes (2016), Louisa (2011), Rettet Raffi! (2015), dan 100 Dinge (2018). Seluruh film ini, kecuali Rettet Raffi!, dilengkapi teks terjemahan bahasa Inggris.

Baca juga: Pandemi Corona, Goethe-Institut Jakarta Buka Layanan Pengambilan Media

Untuk dapat menyaksikan film-film ini, publik di rumah dapat mengakses Onleihe melalui PC dan laptop dengan terlebih dahulu membuat akun di laman Mein Goethe.de. Pendaftaran cukup dengan memasukkan email, kata sandi, dan asal negara. Informasi lebih lanjut terkait proses registrasi dapat dilihat di www.goethe.de/perpusdigital.

“Film-film di Onleihe bisa dinikmati dengan nyaman karena bebas dari iklan. Koleksi media film dan media lainnya di Onleihe merupakan sumber daya yang unik untuk semua orang di Indonesia yang meminati budaya dan bahasa Jerman,” ujar Nico Sandfuchs, Kepala Bagian Layanan Informasi dan Perpustakaan Goethe-Institut untuk Kawasan Asia Tenggara, Jumat (5/2/2021).

Berikut sinopsis lima film Jerman terpopuler di Onleihe:

  1. Fack ju Göthe 1 (2013)

Di atas tempat persembunyian barang curiannya, tahu-tahu sudah ada gedung olahraga. Mantan napi Zeki Müller (diperankan Elyas M’Barek) tidak punya pilihan dan terpaksa berpura-pura menjadi guru pembantu di sekolah Goethe-Gesamtschule. Fack ju Göthe yang disutradarai Bora Dagtekin bercerita tentang guru-guru yang kewalahan dan murid-murid yang bermasalah. Film ini merombak total genre komedi sekolah dengan ucapan apa adanya dan dialog yang tajam.

  1. Agnes (2016)

Walter, seorang penulis buku nonfiksi, jatuh cinta pada mahasiswi fisika bernama Agnes. Sikap Agnes yang radikal terhadap kehidupan menjadi masalah tersendiri bagi Walter, yang telah nyaman dengan hidupnya yang serba biasa dan tanpa komitmen. Suatu hari Agnes mengusulkan sesuatu yang mengejutkan: Walter diminta menulis cerita mengenai hubungan asmara mereka. Awalnya, ini sekadar main-main, namun tidak lama kemudian kisah bersama mereka mengambil alih komando dan timbul pertanyaan siapakah penentu jalan ceritanya.

  1. Louisa (2011)

Louisa berusia 23 tahun. Ia tidak bisa dan tidak mau lagi berpura-pura: Ia tidak bisa mendengar sama sekali. Sepanjang hidupnya ia berusaha keras untuk menyamai semua orang. Baginya, komunikasi adalah perjuangan yang tidak adil untuk membaca bibir – diiringi perasaan gagal yang selalu membayang. Tapi sekarang Louisa mulai belajar bahasa isyarat, memutuskan untuk tidak menggunakan alat bantu dengar, dan untuk pertama kali pindah ke apartemen yang ditempati sendiri. Orang lain mungkin bingung bahwa ia tetap mencintai hiphop dan menulis lirik, tapi bagi ia itu biasa saja.

  1. Rettet Raffi! (2015)

Sammy berumur delapan tahun dan sangat menyayangi hamster piaraannya, yang merupakan hadiah dari sang ayah. Raffi memang hamster istimewa: Di dalam kandangnya, Raffi bisa mencetak gol bagaikan pemain sepak bola profesional. Tapi kemudian Raffi jatuh sakit dan harus dioperasi. Setelah operasi terjadilah sesuatu yang tidak terbayangkan: Raffi diculik! Sammy pun bertualang menyusuri kota Hamburg untuk mencari hamster kesayangannya.

  1. 100 Dinge (2018)

Toni mencintai mesin espresso miliknya. Paul memuja ponsel pintarnya. Toni tidak berdaya tanpa pil penumbuh rambut andalannya. Paul tidak bisa hidup tanpa Amazon, Siri dan sepatu kets kesayangannya. Yang lebih penting, Paul dan Toni tidak sanggup melewati satu hari pun tanpa kehadiran yang lainnya. Hanya saja, mereka justru terlibat persaingan tanpa ujung mengenai siapa yang besar terhebat. Tetapi suatu hari, segalanya berubah dan keduanya mendapati diri mereka duduk di rumah tanpa harta benda sedikit pun, telanjang, dan kedinginan. Ini Hari ke-1 tantangan 100 hari yang disepakati mereka berdua. Keduanya melepaskan segala milik mereka dan hanya akan memperoleh kembali satu barang per hari.

 

Foto ilustrasi: Goethe-Institut Indonesien

Europe On Screen 2021Sundance Film Festival 2021 Asia
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top