Event

Apa Pentingnya Menghadiri Festival Film?

Jika Anda adalah seorang pembuat film yang filmnya masuk official selection pada sebuah festival, datang ke festivalnya! Banyak teman saya, pembuat film, yang malas datang ke festival film. Mungkin mereka sudah cukup senang kalau filmnya masuk saja. Padahal hampir tidak ada gunanya kalau film Anda masuk ke sebuah festival, tetapi orangnya tidak ada di acaranya.

Jika Anda adalah seorang yang bidang pekerjaannya berkaitan dengan film, rajin-rajinlah datang ke festival film! Jika Anda suka film, juga rajin-rajinlah datang ke festival film! Biasanya masuknya gratis, atau harga tiketnya sangat murah, dan terbuka untuk umum.

Menghadiri Minikino Film Week 5

Saya akan menceritakan pengalaman terbaru saya menghadiri serangkaian acara festival film, Minikino Film Week 5: Bali International Short Film Festival minggu lalu. Ini adalah festival film yang paling saya sukai di Indonesia, karena suasana, acara, dan orang-orangnya sangat menyenangkan. Ini sudah tahun ke-3 saya menghadiri festival ini berturut-turut. Walaupun tahun ini tidak ada film saya yang masuk official selection, saya tetap ingin datang. Festival berlangsung selama 8 hari, saya hanya bisa datang mulai hari ke-5.

Pada hari pertama saya datang, saya langsung menyaksikan pemutaran program film-film eksperimental pendek yang luar biasa, walaupun cara bertuturnya aneh tetapi berhasil mengaduk-aduk emosi dan pikiran para penonton. Saat menonton, saya disapa oleh orang yang duduk di sebelah saya, Koyo Yamashita, seorang programer film dari Jepang, dia ternyata masih mengingat saya karena pernah bertemu di festival yang sama tahun lalu. Setelahnya ada QnA dengan beberapa filmmaker yang hadir, Eric dari Hong Kong dan pasangan suami-istri Lore dan Kristof dari Belgium.

Penting untuk diketahui, acara di festival film bukan hanya terdiri dari pemutaran dan awarding saja. Ada acara-acara yang disebut fringe-events, dan juga bisa ada talks, workshop, forum, sesi diskusi, dan lain-lain. Acara yang menurut saya cukup spesial di Minikino adalah sesi sharing untuk sesama filmmaker, di sana kami semua berbagi kisah perjuangan membuat film dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi di negara masing-masing.

Selain itu, ada talks dari penyelenggara festival-festival film di luar negeri. Jadi kami bisa mengetahui bagaimana festival film luar negeri diadakan.

Ada juga sesi Open Screening, siapa saja yang hadir bisa memutarkan filmnya melalui flashdisk, film yang durasinya paling pendek akan diputar duluan. Film-film yang diputar di sini bisa mengejutkan, karena tanpa kurasi dan program. Setelah filmnya diputar, pembuatnya harus maju untuk mempresentasikan sebentar.

Baca juga: Minikino Film Week 5 Umumkan Para Peraih Penghargaan

Hal yang membuat orang-orang yang menghadiri festival, termasuk para filmmaker, panitia, volunteer, dan tamu lainnya semakin dekat adalah makan-makan! Setiap kali makan-makan selalu ada pembicaraan menarik dengan orang-orang yang baru kami kenal. Contohnya, saya dan adik saya mengobrol dengan Jukka-Pekka Laakso, dari Finlandia tentang pengalaman gila temannya yang pernah dua kali diundang ke festival film di Korea Utara.

Lalu, malam pada hari ke-7 festival, setelah pemutaran film, salah seorang filmmaker, Gina, dari Singapura mengajak kami makan Nasi Jinggo. Karena Nasi Jinggo itulah, kami ber-7, Winner dan Rayner, Gina dari Singapura, Mary dan Eunice dari Malaysia, Ice dan Tony dari Thailand menjadi sangat dekat dan membentuk sebuah geng sementara. Lalu keesokan harinya, saat jadwal kosong, kami janjian untuk bermain di pantai.

Saat hari terakhir, ada pesta penutupan di Omah Apik, Pejeng. Tempatnya sangat indah. Dihadiri banyak tamu dan ada makan-makan. Setelah acara selesai, ada after party atau bisa juga disebut dengan nongkrong-nongkrong di rooftop sampai pagi ditemani alkohol dan bintang-bintang di langit. Kami bermain permainan-permainan teka-teki klasik seperti Naik Lift sampai Lantai Berapa, Black Magic, Bumi itu Bulat, Ada Berapa Nyamuk yang Mati, dan lain-lain, yang ternyata cukup internasional.

Jangan Ragu untuk Akrab

Pada saat menghadiri festival film, jangan takut untuk mengajak orang mengobrol. Karena hampir setiap orang pergi ke sana karena ingin mengobrol. Filmmaker atau artis seterkenal apa pun, atau orang yang penampilannya seaneh dan menyeramkan apa pun, jangan takut untuk diajak mengobrol, mereka pasti dengan senang hati meladeni. Banyak artis atau orang hebat lainnya yang terlihat duduk sendiri diam saja menunggu diajak omong, tetapi orang-orang terlalu takut untuk approach.

Untuk para filmmaker yang filmnya masuk festival, jangan hanya datang untuk nonton filmnya sendiri saja! Mengobrol, bersosialisasi, membangun network, berteman, ikuti acara lainnya, tonton film lainnya untuk membuka pikiran tentang dunia film yang lebih luas. Dengan rajin menghadiri festival film dan berteman, bisa membuat nama Anda dikenal dalam bidang perfilman. Karena industri perfilman Indonesia yang relatif kecil, pasti bakal sering bertemu dengan orang-orang yang sama terus di acara-acara ini dan cepat menjadi akrab.

Datang ke festival film bisa dengan banyak cara, bisa mendapat undangan karena film buatan Anda terpilih, bisa mendaftarkan menjadi volunteer atau panitia, bisa menjadi tamu, atau bisa langsung datang saja.

Selamat berfestival dan sampai jumpa di festival-festival film!

 

Kalau bingung kapan dan di mana ada pemutaran atau festival film, bisa lihat informasinya di @infoscreening

Sumber gambar: @minikinofilmweek dan dokumentasi pribadi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top