Berita

Menggugat Stereotipe dan Objektifikasi dalam Film Melalui Aplikasi Ponsel Mango Meter

Akhir pekan lalu (16/2) majalah daring yang aktif mengangkat isu gender Magdalene.co, bekerja sama dengan yayasan politik Jerman Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) meluncurkan aplikasi ponsel Mango Meter. Mango Mater merupakan aplikasi yang mengulas film dari perspektif feminis. Pengguna aplikasi ini dapat melihat nilai atau bahkan memberi nilai apakah sebuah film sadar gender atau tidak.

Baca juga: Rooftop Cinema #1: Film dan Isu Gender

Dalam sambutannya Devi Asmarani selaku Editor-In-Chief Magdalene.co, menyebut kebanyakan film masih saja melanggengkan stereotipe gender dan ras, menjadikan perempuan objek seksual, serta menormalisasi kekerasan berbasis gender. Sementara mengapa memilih film sebagai medium, karena film dianggap efektif untuk menyebarkan norma dan nilai dalam masyarakat. Di sisi lain, industri film hingga saat ini, sering kali berdalih mereka hanya berusaha memenuhi permintaan pasar. Sehingga secara sadar atau tidak menyampingkan perspektif gender.

Diskusi Jelang Peluncuran Mango Meter

Diskusi bertajuk “Menuju Industri Perfilman yang Melek Gender” yang digelar sebelum peluncuran aplikasi Mango Meter berlangsung dengan menarik. Salah satu yang menjadi sorotan antara lain Ardina Rasti. Aktor yang telah ditunjuk menjadi Duta Anti Kekerasan ini menceritakan salah satu pengalamannya berperan dalam film berkaitan dengan stereotipe gender. Awalnya ia mendapat brief bahwa film yang akan ia mainkan itu merupakan film laga yang menampilkan perempuan sebagai jagoan, namun setelah proses selesai film tersebut berubah genre menjadi horror, tanpa ada pemberitahuan. Bahkan ada sejumlah pemeran tambahan yang tidak pernah dibicarakan sebelumnya. Sementara Mouly Surya selaku sutradara yang juga turut hadir memaparkan pengalamannya membuat film seputar perempuan dan bagaimana perlakuan yang ia rasakan saat produksi maupun di luar produksi. Mouly menegaskan bahwa tiap perempuan memiliki pilihan, mau bersikap atau hanya berdiam melanggengkan pelecehan/kekerasan berbasis gender. Lisa Bona Rahman sebagai kritikus film dan Sharmee Hossain sebagai salah satu penggagas Mango Meter juga turut memaparkan dari sisi pengamat perfilman dan budaya.

Suasana peluncuran Mango Meter dan diskusi dapat ditonton pada video berikut.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top