Festival Film Indonesia 2021
Artikel

BW Purba Negara dan Perkembangan Warna Filmnya

Penulis dan Sutradara Ziarah (2016), BW Purba Negara baru saja mengeluarkan garapan terbarunya, film musikal anak-anak Doremi & You yang dibintangi Adyla Rafa Naura Ayu atau akrab dikenal dengan Naura. Bagaimana perjalanan BW hingga film panjang keduanya ini, serta apa yang digarapnya pada film panjang ketiganya? Infoscreening punya bocorannya untuk kamu terkait proyek yang tengah ia garap dan akan dikeluarkan setelah film keduanya.

Doremi & You bukanlah film anak-anak perdana bagi sutradara asal Yogyakarta ini.  Ketika ia menggarap film pendek, BW sudah punya dua film anak, Cheng Cheng Po yang menyabet film pendek terbaik FFI 2008, dan Say Hello to Yellow. Namun, menurutnya Doremi & You tetap menjadi hal baru sebab karakter di dalamnya melibatkan anak-anak usia SMP, berbeda dengan kedua film anak sebelumnya yang menampilkan anak usia sekolah dasar.

Melihat garapan barunya ini, tentu orang akan bertanya, apa yang terjadi dengan BW ketika ia menelurkan film panjang perdananya Ziarah yang lebih memiliki nuansa “festival” harus beralih pada film yang digarap dengan tujuan menjangkau pasar yang lebih luas pada Doremi & You? Baginya, segala kemungkinan harus dicoba dan ia masih baru menjajaki industri sinema.

“Saya ingin selalu coba cari bentuk baru dalam setiap karya, tidak ingin berhenti pada satu jenis karya, perkara penonton suka yang mana silakan,” ungkapnya seusai press screening Doremi & You, di Jakarta Pusat, Jumat, (14/6).

Alasan itu jadi berdasar, ketika ia menyebut setelah film panjang keduanya ini, ia tengah merampungkan film panjang ketiganya yang akan dibintangi Ayu Laksmi dan bocah berusia 3,5 tahun, dengan latar di Bali. “Lebih pada jenis film meditatif, sedikit dialog, sangat tidak berisik.”

BW Purba Negara di sela syuting Doremi & You  (dok. goodwork)

Soal selera yang akan disukai penonton film-filmnya nanti itu, juga tampaknya ia selipkan di film terbarunya, dalam salah satu adegan Naura dan Devano Danendra, yang menyoal makan bubur dengan cara diaduk atau tidak. Meski Devano makan bubur dengan cara diaduk, ia paham dan mengerti dengan cara orang yang makan bubur tidak diaduk. Begitu pula dengan film-film garapannya, pasti bakal ada yang lebih berselera dengan film “festivalnya” atau film “komersialnya.”

Lalu, kita bakal khawatir, apakah ketika BW menggarap film dengan pasar yang lebih luas akan menyimpang dari yang ia yakini? Mungkin jawaban ini bisa jadi pelega kita, atau kamu yang ingin nonton Doremi & You tidak perlu khawatir bakal dicolok dengan drama-drama yang mendayu-dayu.

Baca juga: Cinema Conclave Juni 2016: Focus on BW Purba Negara

“Sejak awal dalam membuat film ini (Doremi & You), bahkan sebelum naskah ditulis, ketika pengembangan naskah, bersama produser, saya sudah tahu kalau bikin film untuk dirancang komersil, akan banyak gula-gulanya, dan saya enggak bisa kasih banyak bumbu penyedapnya, adegan yang dimanis-maniskan, melodrama yang sangat di-push sesuai logika pasar. Kalau saya buat seperti itu enggak akan bisa, saya tertarik bikin ini karena yang diutamakan adalah filmnya jadi dulu, logikannya masuk, ceritanya jalan, internal filmnya sinkron, masuk akal, secara plotnya juga bagus, dramanya ada, tapi saya bukan tipe yang buat dramanya terlalu dipaksakan, ditambahkan. Buat saya meski ini dirancang untuk market luas, ini tetep film yang sederhana, ceritanya sederhana, bukan cerita tentang seorang bintang yang menyanyi, ini anak biasa punya persoalan mencoba menjawab persolan itu dengan seni, masih berada dalam wilayah yang saya menyukainya.”

Benturkan Paradoks Jadi Harmoni

Dalam setiap filmnya, penulis skenario terbaik 2016 versi majalah Tempo ini selalu bertumpu pada rumus harmoni sebagai estetika film. Harmoni yang ia ciptakan dari perbenturan paradoks. Ini pula yang menjadi prinsipnya dalam menggarap sinema, menghadirkan keindahan kepada penonton.

“Buat saya, ya prinsipnya hakikat seni. Seni yang ketika dilihat penonton terasa indah. Kenapa jadi indah? Karena ada harmoni antara unsur yang membentuk. Buat saya dasar estetika harmoni, di dalamnya ada paradoks. Bermula Dari A, ada paradoks yang dibentuk dari tunanetra dan tunarungu, di Ziarah dinamika masa lalu dengan sekarang. Di Doremi, karena anak-anak bersahabat dengan cara pandang yang berbeda, mereka mencoba memecahkan masalah secara bersama.”

Bakal Ada Lanjutan Bermula Dari A

Setelah menggarap Doremi, masih ada garapan lain dari BW yang saat ini memasuki tahap post production. Film yang masih dirahasiakan judulnya itu, memang bakal dilepas BW ke beberapa festival. Namun, ia belum mau berbicara lebih jauh. Ia pun melanjutkan, film itu ditujukan bagi penonton yang ingin merenung. Film yang juga ditulisnya sendiri ini justru syuting terlebih dahulu sebelum Doremi, yakni pada medio Desember tahun lalu dan berakhir pada Januari.

Salah satu adegan dalam film BW Purba Negara selanjutnya yang masih dirahasiakan judulnya

(Sumber: IG @bewe_bw)

Selain film yang akan dibintangi Ayu Laksmi itu, BW juga akan punya proyek film panjang berikutnya yang meneruskan film pendek Bermula Dari A. “Akan ada lanjutannya, film panjang dengan karakter sama persoalan berbeda. Sekarang masih nyambi proses development. Saya tulis sendiri tapi akan ada partner produser lain yang membantu, judulnya Lelaki dalam Lemari, bakal ada di tahun 2020.

Festival Film Indonesia 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top