Europe On Screen 2021Sundance Film Festival 2021 Asia
Uncategorized

Eksplorasi dalam Kesederhanaan – Catatan Cinema Conclave: Focus on BW Purba Negara

Dari berbagai pembuat film di dunia, relatif jarang yang dapat kita lihat berani bergerak dari zona nyamannya. Kerap kali pembuat film tersangkut pada satu genre yang mereka terjuni, namun hal ini rupanya tidak berlaku pada B. W. Purba Negara atau yang akrab disapa dengan Mas BW. Pada hari Selasa tanggal 7 Juni 2016 yang lalu, Cinema Conclave mengundang sutradara pemenang Piala Citra Festival Film Indonesia 2008 dan 2011 ini untuk berdiskusi dengan para penonton pasca pemutaran lima film pendeknya. Ada pun kelima film pendek tersebut adalah: Musafir, Say Hello to Yellow, Bermula dari A, Kamu di Kanan Aku Senang, dan Digdaya Ing Bebaya.

Baca juga: Pengantar Program Cinema Conclave

Dari penjelasan beliau akan kecintaannya dengan medium gerak, diketahui bahwa eksplorasi yang dilakukan Mas BW terhadap dunia film rupanya bermula dari usia yang relatif belia, sejak kelas 4 SD. Ketika itu ia mulai terkesima terhadap sensai gambar dan gerak lewat hal yang sangat sederhana, yaitu gambar pada halaman buku yang ketika dibalik dengan cepat menimbulkan ilusi gerak. Mas BW akhirnya semakin tenggelam ke dalam dunia film pada kelas 3 SMA, terutama sejak bertemu dengan Yosep Anggi Noen, teman sekelasnya yang kini juga dikenal sebagai pembuat film yang konsisten dengan jalan sinemanya.

Berberbekal pengetahuan sebagai sutradara teater sekolah, Mas BW bersama rekan-rekannya berhasil membuat suatu film garapan bersama; dengan Mas BW sebagai penulis skenario serta aktor dan Yosep Anggi Noen sebagai sutradaranya. Seiring berjalannya waktu, eksplorasi yang mereka lakukan bersama rupanya membuahkan hasil yang berbeda, terutama dari segi gaya. Meskipun demikian, keduanya tidak berhenti di situ dalam hal saling memberi masukan.

Variasi genre karya Mas BW berasal pandangannya akan film sebagai sebuah ruang tafsir yang lentur, sebagaimana Kamu di Kanan Aku Senang yang terbuka bagi banyak tafsir. Pun begitu ia tetap tidak berhenti dari kebiasannya dalam memetakan hal-hal yang harus terlebih dulu dilakukan dalam membuat sebuah film, terutama dari segi garis besar. Say Hello to Yellow dan Digdaya Ing Bebaya merupakan film proyek yang diinisiasi bersama organisasi tertentu yang memiliki pesan dan tujuan tersendiri. Dalam kasus Digdaya Ing Bebaya, Mas BW tidak ingin berhenti sampai di proyek ini saja; jangan sampai film tersebut hanya berakhir di arsip seperti kebanyakan film NGO lain. Tanpa menggunakan bahasa program, dengan bentuk yang tidak kaku, Mas BW berhasil menggarap film tersebut sedemikian rupa dan memiliki nilai sebagai sebuah karya film, hingga akhirnya pun mendapat penghargaan di 21 Short Film Festival 2015.

digdaya-ing-bebaya-bw-purba-negara

Tiga karakter dalam Digdaya Ing Bebaya yang tidak sekedar terekam, namun tereksplorasi kekuatan karakternya – red

Berbeda dengan Bermula dari A, Mas BW menginisiasi film tersebut bersama teman-temannya dari keinginan untuk mengeksplor karakter yang unik. Terinsipirasi dari seorang teman, Mas BW merasa tertantang dalam menciptakan sebuah karakter. Kata karakter di sini lah yang kian menciptakan keintiman dalam film-filmnya. Tanpa menggunakan unsur-unsur artifisial yang berlebih, Mas BW berhasil merangkul penontonnya dengan berangkat dari hal-hal sederhana dengan situasi yang apa adanya. Oleh karena itu tidak lah heran dengan keputusan Mas BW mempertahankan bahasa Jawa dalam situasi yang semestinya dalam beberapa film, karena itu lah film-filmnya mengalir serta membuat para penonton nyaman.

Tidak lupa dalam pemutaran ini, diputar trailer dari Ziarah, film panjang perdana mas BW yang sedianya disiapkan untuk tayang akhir tahun 2016.

Europe On Screen 2021Sundance Film Festival 2021 Asia

Most Popular

To Top