Festival Film Indonesia 2021
Berita

Catatan Malam Penganugerahan dan Penutupan Festival Film Dokumenter (FFD) 2018

Sore hari menjelang malam penutupan, Festival Film Dokumenter (FFD) 2018 masih menyajikan diskusi yang informatif di IFI – LIP Yogyakarta, Rabu, 12 Desember 2018. Diskusi tersebut membahas tentang Papuan Voices yang berdiri sejak 2011 dan acara yang mereka inisiasi sejak 2017: Festival Film Papua. Hadir sebagai narasumber adalah Ottow Wanma, koordinator Papuan Voices Wilayah Tambrauw Papua Baratdan Imanuel Hindom, anggota Papuan Voices Wilayah Keerom. Diputar juga sebelum diskusi 4 film yang dibuat oleh semangat para pembuat film dari Papua, yakni RPP (Papua Education Recipe) (Yosep Lev), Tete Manam (Siska Manam), Generasi Kayu Lapuk (Rizal Lani), dan Dipenjara (Strakky Yalli). Ottow Wanma mengatakan, tujuan mereka membuat Festival Film Papua adalah untuk membawa pesan perdamaian lewat film. Sementara Imanuel menambahkan, dengan tantangan berupa wilayah-wilayah Papua yang masih sulit untuk dijangkau, mereka membuat film dengan modal seadanya, bahkan ia pernah membuat film dengan modal tiga ratus ribu rupiah.

Baca juga: FFD 2018 Hadirkan Sudut Pandang Alternatif

Selain diskusi tersebut dan pemutaran-pemutaran film, ada juga Doc-Talklain sepanjang penyelenggaraan FFD sejak tanggal 5 hingga 12 Desember, antara lain tentang kritik film dan programasi film. Di IFI – LIP dilaksanakan pula tanya jawab dengan beberapa pembuat film melalui skype. Para pengunjung juga bisa melihat pameran dalam Waterland Exhibitiondan merasakan sensasi menonton film dokumenter melalui VRlewat program Interactive Documentary: The Feelings of Reality bekerjasama dengan National Film  Board of Canada. Menonton film dengan cara ini dimana penonton bisa merasakan langsung latar cerita adalah pengalaman menonton masa depan. Tahun ini FFD juga aktif merangkul para penyandang difabel melalui bioskop bisik.

Film-Film Penerima Penghargaan

Malam Penganugerahan dan Penutupan FFD 2018 diadakan di Gedung Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta. Pada sambutannya, Sazkia Noor Anggraini, (Direktur ProgramFFD 2018) mengatakan, ada 94 film dalam 19 program selama delapan hari perhelatan FFD 2018. Sementara Ukky Satya Nugrahani (Direktur FFD 2018) menyampaikan empat hal penting selama pelaksanaan acara: antusiasme berbagai pihak yang mendukung terselenggaranya FFD 2018, evaluasi yang harus dilakukan untuk bekal dalam acara berikutnya, program yang harus ditata agar lebih tepat sasaran, dan ia juga mengapresiasi para panitia dan volunteeryang selalu sigap.

Penghargaan pertama yang diberikan malam itu adalah Akatara Award yang dipersembahkan oleh AsiaDoc dan diberikan oleh Amerta Kusuma, perwakilan  Forum Film Dokumenterdan Agung Sentausa dari BPI. AsiaDoc dicetuskan oleh Forum Film Dokumenter untuk sarana pengembangan naskah dokumenter bagi para pembuat film di Asia. Akatara Award diberikan kepada naskah film The Ant vs.the Elephant,karya Linda Nursanti, peserta asal Indonesia. Ini merupakan salah satu naskah dari 12 naskah yang dipilih.

Penghargaan berikutnya merupakan tiga penghargaan utama dalam FFD. Henricus Pria Setiawan (Direktur Forum Film Dokumenter) memimpin sesi ini. Kategori Pelajar berhasil dimenangkan oleh Naira Capah dan Fauzan Syam Adiya dengan filmnya “Tarian Kehidupan”. Secara umum pilihan topik kategori pelajar cukup beragam, tapi masih kurang memiliki fokus dan perspektif yang lebih mendalam, ujar Alexander Matius, perwakilan juri. “Tarian Kehidupan” dianggap dapat menangkap isu yang dekat dengan sang pembuat film dan menjadikan film dokumenter tersebut sajian yang eksploratif dan menarik, tambahnya.

Sementara yang cukup mengejutkan, tahun ini tidak ada pemenang dalam kategori Dokumenter Pendek. Mewakili keputusan juri yang berhalangan hadir, Adrian Jonathan Pasaribu menyampaikan beberapa catatan: film-film yang masuk ke meja penilaian memiliki kesamaan cara bercerita; kurangnya eksplorasi dalam bahasa sinema; topik menarik,  tapi sayangnya belum mampu menyajikan cerita secara utuh. Ia menambahkan, para pembuat film musti mengeksplorasi kembali cara bercerita dalam proses kreatif nya. Walaupun Kategori Dokumenter Pendek tidak diberikan, juri memberikan penghargaan lain berupa Special MentionJury Awards kepada film “The Nameless Boy” karya Diego Batara. Menurut juri, film ini mencoba untuk mengeksplorasi penceritaan yang berbeda, meskipun masih perlu menguatkan cara penyampaian isu yang dipilih.

Kategori yang terakhir adalah film panjang internasional terbaik, dan pemenangnya adalah “In The Claws Of Century Wanting”karya Jewel Maranandari Filipina. Amerta Kusuma, mewakili para juri yang berhalangan hadir menyampaikan, film ini berhasil menunjukkan realitas masyarakat yang berani walaupun mereka terasing dalam hal mata pencaharian mereka, yang bisa dilihat melalui penyajian sudut pandang yang obsesif dan editingyang radikal.

Acara diakhiri dengan pemutaran film peraih penghargaan kategori dokumenter pelajar: Tarian Kehidupan (Naira Capah dan Fauzam Syam Adiya) yang berasal dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Menyaksikan film tersebut, memandang FFD secara keseluruhan, kita seolah diingatkan: realitas itu seringkali lebih rumit dan seru dibanding fiksi.

Festival Film Indonesia 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top