Festival Cinema Prancis 2021Jakarta Film Week 2021
Artikel

Catatan Menonton dan Diskusi Jihad Selfie

Sering kita dengar di hari-hari yang kini bahwa anak remaja semakin susah diatur, semakin susah jadi orangtua punya anak puber di era informatika, apa perlu remaja dikasi gelang elektronik ber-GPS? Dunia ini sangat mempertakut. Jihad Selfie, film dokumenter berdurasi 49 menit ini menyadarkan kaum orangtua bahwa remaja pun bisa tergoda masuk ISIS. Absurdnya, bukan karena alasan keyakinan namun alasan: ingin diakui keren dan macho.

Alkisah seorang remaja bernama Teuku Akbar Maulana (17 tahun), seorang remaja pintar banget yang hafizh (penghapal Al-Qur’an) dan mahir berbahasa Arab. Remaja dari Aceh ini mendapat beasiswa dari pemerintah Turki untuk belajar agama di Imam Katip High School – setara dengan MA di Indonesia.

Akbar punya teman, Yazid yang juga cerdas. Sayangnya Yazid malah memilih drop out dan bergabung karena terpikat bujuk rayu rekruter ISIS di facebook. Akbar yang galau dan sedang mencari jati diri menganggap menenteng senapan AK 47 dan bergabung dengan ISIS akan membuatnya menjadi keren. Tentu bagi kita-kita yang sudah bukan remaja ini, bergabung dengan ISIS adalah sesuatu yang nggak masuk akal.

Tetapi dalam pemutaran terbatas di Kemang, 24 Juli lalu, dengan bahasa Indonesia beraksen Aceh yang kental, Akbar sendiri menjelaskan tentang psikisnya saat itu kenapa “hampir” bergabung dengan ISIS dan menyebrang ke Suriah: “ya keren aja gitu kalau difoto pake senapan terus di-like teman, apalagi kalau di-likenya sama yang cantik”. Mengejutkan memang betapa urusan like-like ini bagi remaja amat sangat penting.

Apa yang membuat Akbar mengurungkan niatnya? Emaknya di Aceh sering mendapat foto Akbar yang menurutnya “kok anak saya sepertinya galau nih dan menuju hal-hal yang berbahaya”, maka si emak nggak merestui anaknya gabung sama ISIS. Ditambah lagi guru agamanya di Turki membujuknya agar jangan ikut-ikutan yang ga bener.

Inti dari film ini adalah bagaimana konstelasi global dan sosial media menjadi tantangan baru orangtua dalam mendidik anaknya yang menginjak remaja. Apalagi ISIS rajin banget merekrut lewat media sosial. Jadi nggak bisa punya mindset kalau mereka berada di tempat yang jauh dan menyepelekan.
diskusi jihad selfie di kemang

Kiri: Noor Huda Ismail, kanan: Teuku Akbar Maulana dalam pemutaran terbatas di Kemang (foto: Mohamad Takdir)

Maka Jihad Selfie berakhir manis pahit dengan Akbar menangis pulang ke ortunya dan info bahwa Yazid serta Wildan (satu lagi teman Yazid), gabung ke ISIS dan tewas tahun lalu. Sesudah screening, Akbar sendiri berkesimpulan bahwa jihad ala ISIS nggak bener, ngajar orang agar pinter dan membantu emak juga jihad.

Sutradara film ini adalah Noor Huda Ismail, dia memang bukan filmmaker sehingga dokumenter ini editannya terasa MTV suatu hal yang dapat dimaklumi karena mungkin Jihad Selfie memang ditujukan untuk remaja dan orangtua (bukan sengaja ditujukan untuk yang kritis dan sering menonton film -red). Ada beberapa typo dan banyak adegan yang harusnya statis malah goyang. Durasinya juga terlalu pendek, masih banyak sub tema yang sebenarnya bisa masuk. Selain kisah Akbar, disorot juga tempat benih-benih radikalisme di Indonesia.

Misalnya melalui Noor Huda yang merupakan alumnus pesantren Ngruki. Teman sekamar Noor di Ngruki adalah pelaku bom Bali 1. Bedanya, Noor mengambil jalan akademis, dia pintar dan mendapat banyak beasiswa sampai ke Australia sehingga Noor berpaham humanis, bersebrangan dengan ISIS fanboys.

Ini memang dokumenter yang nggak bisa ditonton begitu saja secara streaming tapi harus ditonton bersama sama dan didiskusikan. Makanya Noor Huda nggak mau merilis Jihad Selfie full di dunia maya, sebab dia punya misi membangun komunitas dengan diskusi.

Dalam diskusi tersebut terungkap sisi lain soal terorisme global. Seperti dari 180 juta an muslim di Indonesia “hanya” 500an yang gabung ISIS. Tapi jangan salah, yang 500 itu kalau pulang bisa bikin masalah. Begitu pula dengan penyelidikan Noor Huda kepada keluarga Wildan dan Yazid. Yazid dianggap asosial dan tidak punya teman, tidak dekat dengan ayahnya.

Jadi ada sejenis pemenuhan aktualisasi diri kemachoan yang tidak didapatkan sehingga Yazid bergabung ISIS. Sedangkan Wildan adalah korban poligami yang tidak dekat dengan ayahnya, dia bergabung ISIS karena percaya berjihad akan memberikan surga bagi ibunya.

Noor Huda memang sedang kuliah S3 di Australia soal maskulinitas dan terorisme. Hal ini yang pemerintah malas ungkit, strategi pemerintah menghadapi terorisme bukan pada “kenapa” tapi tembakin aja satu-satu (terorisnya). Padahal sisi psikologis ini yang kalau ditangani dengan baik, bisa mencegah the next Santoso or the next Afif (pelaku bom Sarinah).

Ada hal penting, yakni kedekatan anak dengan orangtua lah yang membedakan Akbar dan Yazid. Orangtua Akbar lengkap dan sepertinya dekat dengan anaknya, sehingga se galau-galaunya Akbar, dia lebih memilih nurut sama emak.

Bagi yang belum punya anak, dokumenter ini memberikan sisi lain… mendidik anak itu susah. Bagi yang sudah punya, mungkin saatnya mengevaluasi diri agar jangan sampai suatu malam anak Anda nelepon sambil berbisik: “Pah saya mau gabung Hydra”. Karena bagaimana pun dalam film ini ditunjukan juga kehangatan orangtua Akbar lah yang menyelamatkan remaja pintar ini dari cengkeraman ISIS.
Festival Cinema Prancis 2021Jakarta Film Week 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top