Festival Film Indonesia 2021
Uncategorized

Cinema Conclave Juni 2016: Focus on BW Purba Negara

Juni 2016, program Cinema Conclave mengajak pengunjungnya bersantai sejenak, berkontemplasi, menonton film-film yang mengangkat tentang keselarasan hubungan, baik antara manusia dengan manusia, maupun dengan alam melalui Focus on BW Purba Negara 7 Juni 2016 dan dan Mirror Never Lies 21 Juni 2016.

Pengantar mengenai program Focus on BW Purba Negara

BW Purba Negara dengan reputasinya yang telah melanglang buana di berbagai festival film, selama ini dikenal sebagai filmmaker yang konsisten, baik dalam membuat karya, kualitas yang diberikan dari tiap karya, maupun gaya dari film-film yang ia keluarkan. Ada benang merah yang dapat dirasakan sendiri, tema-tema yang diangkat oleh film-film BW Purba Negara membahas tentang spiritualitas dan keselarasan hubungan manusia, baik dengan sesamanya, maupun dengan alam. Menonton film-film BW Purba Negara, kita sering kali diajak berempati dengan keadaan yang ada dalam film cara yang unik tanpa harus mempertontonkan kesedihan.

Focus on BW Purba Negara - cinema conclave

Berikut lima film BW Purba Negara yang akan diputar beserta pengantar dari BW sendiri.

Musafir (2008)

Musafir diproduksi pada tahun 2008. Film dokumenter observasional berdurasi 16 menit ini saya buat sekedar untuk berbagi kesan, perasaan, dan pengalaman saya saat mengamati dari dekat kehidupan Pak Kemal dan Ida, sepasang pemulung kota Jakarta.

Saya membiarkan diri saya hadir apa adanya bersama mereka. Sebenarnya ini adalah pengalaman sederhana saja. Namun saya yakin bahwa kesederhanaan ini memiliki arti yang penting jika kita mau berefleksi tentangnya. Film Musafir diundang untuk international premiere di Berlin International Film Festival 2009. Film ini juga diputar di Jakarta International Film Festival 2008, dan Lyon Asiexpo Film Festival 2009.

Bermula Dari A (2011)

Seorang gadis meminjamkan suaranya pada seorang pria, dan sebaliknya sang pria meminjamkan kemampuannya untuk melihat. Suara sang gadis menjadi suara sang pria, dan pengelihatan sang pria menjadi pengelihatan sang gadis.

Festival-festival
• Winner – Best Short Film Award, Hanoi International Film Festival 2012, Vietnam.
• Winner – Best Short Film Award, Vladivostok International Film Festival 2012
• Winner – Miglior Fotografia, Capalbio Cinema International Short Film Festival, 2012, Italy.
• Winner – Ladrang award for best short film, Festival Film Solo 2011, Indonesia.
• Winner – Audience award, Europe on Screen Short Film competition 2011, Indonesia.
• Winner – Citra award for best short film, Festival Film Indonesia 2011, Indonesia.
• Jury special menAon, Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2011, Indonesia.

Say Hello to Yellow (2011)

Pada tahun 2011, Limaenam films dan Persekutuan Sahabat Gloria bekerjasama membuat produksi film komedi anak-anak Say Hello to Yellow. Film ini mempresentasikan sebuah ironi atas modernitas di mana alat komunikasi yang seharusnya mendekatkan yang jauh justru bisa berdampak sebaliknya, menjauhkan yang dekat.

Say Hello to Yellow pernah menjadi nominator film terbaik dalam Festival Film Solo 2011, nominator film terbaik dalam Festival Film Indonesia 2011, Official Selection Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2011, Official Selection International Festival of Film for Children and Young Adults, Isfahan, Iran 2012, memenangkan film pendek terbaik Apresiasi Film Indonesia 2012, dan memenangkan Local Culture Film Festival (LOCFEST) 2013.

Kamu di Kanan Aku Senang (2013)

Kamu di Kanan Aku Senang adalah sebuah film pendek dengan spirit puisi. Diperankan oleh Kuntz Agus dan Novi Hanabi. Terdiri dari adegan-adegan shot tunggal dengan sejumlah pengulangan yang disengaja untuk menekankan isi, bunyi, dan impresi. Berkisah tentang gadis yang menginginkan lelakinya duduk disamping kirinya seperti di pelaminan. Dia tidak meminta, dia hanya menyampaikan apa yang membuatnya senang, sementara si lelaki selalu memujinya dari sisi yang berbeda.

Film ini adalah film yang paling sederhana di antara semua film saya yang sederhana. Film ini memenangkan penghargaan skenario terbaik Festival Film Prancis 2013 yang diadakan oleh Institut Français d’Indonésie, dan telah diputar di Vladivostok International Film Festival ‘Pacific Meridian’ 2013 (Russia), Ozu Film Festival 2013 (Italy), World Film Festival of Bangkok 2013 (Thailand), Jakarta International Film Festival 2013, dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2013.

Digdaya Ing Bebaya (2014)

digdaya-ing-bebaya-bw-purba-negara

Film dokumenter ‘Digdaya Ing Bebaya’ memberi sedikit gambaran tentang penduduk Glagaharjo yang menolak untuk direlokasi pasca erupsi gunung Merapi 2010. Setelah kondisi dirasa aman, mereka kembali ke desa mereka, membersihkan material dan membangun kembali rumah mereka. Sekelompok nenek yang tangguh menaiki dan menuruni bukit untuk mendapatkan regedek atau tanaman Pegagan sebagai bahan jamu. Disela-sela perjalanan mereka, mereka bercerita tentang pengalaman seputar erupsi, alasan untuk tetap bertahan di kampung halamannya, juga tentang perasaan, cinta, dan kepercayaan mereka.

Film dokumenter pendek ini mendapatkan penghargaan sebagai Pemenang Film Dokumenter terbaik pilihan official jury, XXI Short Film Festival 2015, Pemenang Film Dokumenter terbaik pilihan Indonesian Motion Picture Association (IMPAS), XXI short film Festival 2015, serta menjadi finalis Chop Shots Documentary Film festival 2014.

Festival Film Indonesia 2021

Most Popular

To Top