Festival Film Indonesia 2021
Programa

Daftar Film Unggulan yang Akan Tayang dalam ScreenDocs Expanded

“Dokumenter adalah tentang penemuan, keterbukaan, pembelajaran, dan mengikuti rasa ingin tahu” –Spike Jonze

Sebuah perhelatan besar film dokumenter bertajuk “ScreenDocs Expanded” akan segera diselenggarakan awal Desember ini, yakni tanggal 1 hingga 4. Acara ini merupakan program In-Docs untuk menunjukkan dan memutar film-film dokumenter berkualitas baik dari dalam negeri maupun internasional. Ada sekitar tiga puluh film yang siap untuk dipertontonkan di 2 venue pemutaran (Erasmus Huis dan Institut Fraincais d’Indonesie) yang dibagi ke dalam beberapa program (International Highlights, Generation of Tomorrow, Emerging Asia, Freedom of Expression and FFD Shorts 2016).

Menurut Amelia Hapsari selaku In-Docs Program Director, film-film yang akan diputar di perhelatan ini merupakan dokumenter-dokumenter yang telah dipilih dari berbagai festival dunia, film-film yang telah memenangkan berbagai penghargaan, serta film-film yang diperkirakan memiliki dampak-dampak tersendiri. Segenap kurator juga mengutamakan film-film Asia yang umumnya memiliki konten dan konteks yang kurang lebih sama dengan kehidupan masyarakat di Indonesia. Adapun berikut ini adalah ulasan singkat tentang film-film dokumenter yang menjadi unggulan di ScreenDocs Expanded.

Nokas (Alberto Maia)

nokasSebuah film dokumenter unggulan asal Kupang, Indonesia karya Alberto Maia yang telah masuk seleksi berbagai festival internasional, seperti Singapore International Film Festival dan Eurasia International Film Festivas. Nokas, seorang petani muda yang berkeinginan besar untuk dapat menikahi kekasihnya, Ci. Keinginan Nokas tersebut terbentur tradisi, yaitu mahar yang sangat besar yang dikehendaki oleh keluarga Ci. Film ini juga diproduseri oleh Shalahuddin Siregar yang pernah menuai pujian atas film dokumenternya Negeri di Bawah Kabut.

The Borneo Case

the-borneo-caseSebuah film jurnalistik asal Swedia yang telah melalui proses selama 25 tahun. Film ini berawal dari hilangnya seorang aktivis lingkungan asal Swiss, Bruno Manser di Sarawak karena berusaha menghentikan illegal logging.  Dengan bantuan dari para peneliti dan aktivis, sang pembuat film mengungkap kembali skandal hancurnya 90% hutan di Sarawak yang turut melibatkan Kepala Menteri Negara Bagian Sarawak dimana milyaran dolar telah dicuci oleh bank-bank global besar ke dalam berbagai rekening dan properti di seluruh dunia. Film ini telah diputar di International Documentary Film Festival Amsterdam 2016 dan Freedom Film Festival.

Among the Believers

among-the-believersBagaimana jika rumah ibadah atau sekolah menyatakan peperangan dan melatih anak-anak untuk berperang? Abdul Aziz Ghazi adalah pendukung ISIS dan Taliban. Keinginannya menerapkan hukum syari’ah di Pakistan membuatnya bertekad berjihad melawan pemerintahan. Di Red Mosque, ia latih dan ia ubah anak-anak sejak dini menjadi senjatanya. Jika kalian tidak suka kami, katanya, kalian bisa menahan kami atau menembak kami. Tapi jika kalian ingin mengubah kami, maka lupakanlah tentang itu. Among the Believers telah memenangkan “Best Feature Documentary” di Hollywood Film Festival.

Notes on Blindness

notes-on-blinednessJohn Hull, seorang penulis dan teolog mengalami buta total pada tahun 1983 sebelum anak laki-laki pertamanya lahir. Demi tetap memahami kehidupan dan pergolakannya, ia merekam segala pengakuan dan pengalamannya tentang dunia dalam kebutaan melalui kaset. Hal itu berlangsung selama 3 tahun dengan 16 jam rekaman. Rekaman-rekaman tersebut dipublikasikan tahun 1990. Film “Notes on Blindness” yang puitis tentang dunia di luar penglihatan dibuat berdasarkan diary rekaman John Hull tersebut. Sebuah film yang telah memenangkan Storyscapes Award di Tribeca Film Festival 2016.

Cameraperson

camera-personKirsten Johnson merangkum 25 tahun karirnya sebagai sinematografer film dokumenter di dalam film “Cameraperson”. Film ini merupakan memoar visual berani yang terdiri dari footage-footage yang Kirsten telah rekam di berbagai belahan dunia. Sebuah film tentang perjalanan yang menggabungkan sisi dokumenter dan autobiografi. Cameraperson memenangkan Golden Gate Award di San Francisco International Film Festival 2016 dan diputar di berbagai festival bergengsi di dunia.

  That Sugar Film

that-sugar-filmDengan visual yang unik, menghibur dan informatif,  Damon Gameau mendokumentasikan pola makan tinggi gula dan makanan yang secara awam dianggap sehat. Ia menunjukkan begitu banyaknya produk gula di supermarket dan masalah-masalah yang ada di industri gula. Film ini mengajak kita berpikir, benarkah makanan sehat yang kita makan sehari-hari betul-betul sehat? Film ini memenagkan Best Feature Length Documentary di Australian Film Institute 2016.

Transit Havana

transit-havana

Di tengah masalah-masalah berupa intoleransi, kemiskinan dan prostitusi di Kuba, Odette, Juani dan Malu tengah menunggu giliran mereka untuk operasi kelamin yang akan ditangani oleh ahli bedah terkenal Eropa atas persiapan yang dilakukan oleh Putri Presiden, Mariela Castro. Mariela sendiri tengah giat dalam aksinya memimpin revolusi seksual dengan paham sosialisme negara klasik. Transit Havana dinominasikan sebagai film terbaik di Karlovy Vary International Film Festival 2016,

Selain film-film di atas, tentu masih banyak lagi film-film dokumenter berkualitas pembuka wawasan yang sayang sekali untuk dilewatkan. Daftar lengkapnya bisa dilihat di http://www.in-docs.org/screendocs-expanded

Mari menonton!

Festival Film Indonesia 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top