Berita

Kembali ke Laut dan Keluarga: Dari Hari Terakhir Pekan Sinema Jepang 2018 di Jakarta

Hari penutupan Pekan Sinema Jepang 2018 di Jakarta diawali dengan pemutaran tambahan film “Shoplifters” di Starium CGV Grand Indonesia yang kembali tidak menyisakan kursi kosong. Rupanya prestasi film ini dan cerita dari satu akun medsos ke akun lainnya menjadikan film ini incaran utama di Pekan Sinema Jepang 2018. Hari itu pula Koji Fukada secara khusus meluangkan waktu untuk melakukan tanya-jawab lebih dekat dengan pers. Serta filmnya, “The Man From The Sea” diputar dan dihadiri oleh Koji sendiri dan para pemainnya (Dean Fujioka, Taiga, Sekarsari dan Adipati Dolken) sebagai tanda usainya acara. Mereka bercerita bagaimana mereka saling mengadaptasikan perbedaan masing-masing selama proses pembuatan film tersebut. Koji yang menyutradarai dengan bantuan penerjemah, Taiga yang belajar menjadi Indonesia, Dean Fujioka yang tidak tahu tokoh yang ia perankan manusia atau bukan, serta Sekarsari dan Adipati yang berbagi pengalaman yang sama: mengirim video rekaman sebagai syarat audisi.

Jika dihubungkan antara Jepang – Indonesia dan kerjasama kedua negara yang sudah terjalin selama 60 tahun, maka dua film di atas bisa mewakili persahabatan dua negara ini.

Baca juga: Merayakan 60 tahun hubungan diplomatik Jepang dan Indonesia melalui Pekan Sinema Jepang

“Shoplifters” adalah film yang mencoba menyampaikan keluarga tetaplah keluarga, walau tidak berasal dari rahim yang sama. Rahim bukanlah sumber kasih sayang, nasib yang bisa memberikannya. Jepang dan Indonesia tidak memiliki budaya, bahasa dan ciri fisik yang sama. Jelasnya banyak sekali perbedaan. Tapi toh kedua negara ini bisa memilih menjadi keluarga dan ke depannya bisa semakin erat, saling bahu membahu dan saling bantu. Sementara “The Man From The Sea” mengingatkan kembali bahwa laut mempersembahkan banyak hal untuk manusia, juga bisa mengambilnya kembali. Tokoh Laut menjadi cerminan laut itu sendiri. Ia hadir begitu saja: memberi, membuat penasaran, manusia mencoba mengeksploitasi, dan akhirnya ia mengambil. Laut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Jepang dan Indonesia. Keduanya diuntungkan oleh laut dan juga pernah mengalami nasib yang sama: tsunami. Pekan Sinema Jepang mencoba tidak hanya mengingatkan persamaan kedua negara, tapi juga merayakan segala perbedaan.

Selama sepuluh hari berlangsung, Pekan Sinema Jepang 2018 memberikan banyak sekali sajian: 36 film dengan beragam genre yang mayoritas merupakan film-film terbaru yang dikelompokkan dalam beberapa segmen, antara lain New J-Director, New J-Film, “Samurai” Historical, “Kira-Kira” Teen, “Tokusatsu” Special Effects, dan Documentary. Beberapa film yang diputar juga telah dihadiri para sineas maupun pemainnya. Selain itu, Pekan Sinema Jepang juga diramaikan oleh beragam acara pendamping berupa simposium dan workshop, antara lain Talk with a Director and the Producer of Modest Heroes from Studio Ghibli to Studio Ponoc, Let’s Enjoy Tokusatsu (Special Effect Films), Symposium with Young Film Directors, Let’s Make Clouds! (Special Effect workshop), dan Talk about International Co-Production between Indonesia and Japan.

 

Pekan Sinema Jepang hadir memberikan banyak persembahan, dan ia pergi mengambil kenangan dari para penonton Indonesia yang penuh beragam kesan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top