Artikel

Diskusi Atambua 39˚ Celsius: Film Tidak Hanya Diukur dari Jumlah Penonton

Seusai pemutaran Kreasi Movie Corner: Atambua 39˚ Celsius di FX Sudirman tanggal 17 November 2019, ada diskusi bersama Sutradara Riri Riza dan Produser Mira Lesmana yang dimoderatori oleh B. P. Dhana. Atambua 39˚ Celsius adalah film yang dirilis tahun 2012 di jaringan bioskop Indonesia. Riri Riza menceritakan tentang filmnya yang proses produksinya cukup unik, berlokasi di Atambua; tim produksi yang sangat kecil hanya dua belas orang; menggunakan bahasa lokal, bahasa Tetun; menggunakan lokasi asli, tidak membangun set; diperankan oleh penduduk lokal yang bukan aktor profesional, dan skenario yang ditulis berdasarkan kisah-kisah asli hidup mereka di sana.

Awal Atambua 39˚ Celsius

Pada waktu itu, Riri Riza, Mira Lesmana, dan sejumlah pembuat film Indonesia membuat kelompok I-sinema yang mengeksplorasi bentuk pembuatan film pendek yang berbeda. Riri mengatakan bahwa proses pembuatan film Atambua 39˚ Celsius ini terinspirasi juga oleh gerakan Dogme 95 yang dimulai oleh sekelompok pembuat film Denmark, Lars von Trier dan Thomas Vinterberg. Mereka berusaha memurnikan kembali film dengan membuat peraturan-peraturan yang membatasi proses produksi film. Seperti proses syuting harus dilakukan di lokasi asli dan tidak membawa props dari luar, tanpa menggunakan pencahayaan buatan, dan lain-lain.

Riri Riza mengatakan bahwa ide pembuatan film ini tercetus karena sebelumnya mereka membuat dokumenter di Atambua dan menemukan banyak kisah-kisah menarik. Salah satu subjek dokumenter mereka, Petrus Beyleto menjadi pemeran utama dalam film Atambua 39˚ Celsius. Membuat film seperti ini penting karena mengangkat sisi Indonesia yang lain dari kebanyakan film yang hanya mengangkat kehidupan kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Ini adalah kesempatan untuk menceritakan sesuatu yang lain. Contohnya adegan perayaan paskah yang sangat ramai, seperti lautan manusia. Parade di jalan yang tidak mungkin ada di Jawa. Juga lebih dari 90% menggunakan bahasa Tetun yang kemungkinan akan punah karena semakin jarang digunakan oleh generasi muda dan tidak ada kamus resminya. Mira Lesmana dan Riri Riza menyebutkan, mereka memilih menggunakan bahasa itu karena mereka dapat merasakan jarak ketika penduduk lokal berbicara dengan mereka menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan ketika berbicara dan bermain dengan teman dekat atau keluarganya selalu menggunakan bahasa asli mereka.

Tantangan Atambua 39˚ Celsius

Mira Lesmana menceritakan bahwa tantangan besar dalam membuat film seperti ini adalah pencarian dana. Setengah biaya pembuatan film ini berasal dari crowdfunding di wujudkan.com. Selain itu, produksi harus dijaga agar skalanya tidak besar. Menggunakan pemeran yang bukan merupakan aktor juga membutuhkan kemampuan penyutradaraan yang baik dan persiapan yang cukup untuk mereka dapat tetap nyaman. Mereka diminta menjadi diri sendiri dan dapat menceritakan kisah hidupnya. Proses ini menjadi lebih mudah karena sebelumnya sudah mengenal subjek-subjek itu dari pembuatan dokumenter. Lokasi yang tidak mudah diakses juga menjadi tantangan tersendiri, karena selain rute pesawat yang banyak transit, mereka harus menggunakan mobil selama tujuh jam. Riri Riza menceritakan bahwa di sana mereka harus membangun kepercayaan dengan penduduk lokal. Apalagi meminjam rumah-rumah mereka untuk ssyuting, di Jakarta orang mengenal mereka sebagai sutradara dan produser ternama tetapi di Atambua tidak. “Kita waktu pinjam rumah untuk dipakai syuting adegan menonton film dewasa, ya enggak boleh ngibul bilang nonton film anak-anak. Jujur kalau ini adegannya nonton film dewasa.” Kata Riri. “Saya menceritakan kisah milik mereka, jadi saya juga harus sangat hati-hati, tidak boleh judgemental, tidak boleh malas, tidak boleh ‘ini gue filmmaker-nya ya mau-mau gue dong!’. Ini kisah yang membicarakan tragedi, ada aspek sejarah dan politiknya, ada aspek nasionalisme Indonesia dan Timor Leste, jadi harus hati-hati sekali membuatnya.” lanjut Riri.

Baca juga: Mengenal Teddy Setiawan Kho, Mengenal Tata Artistik Film

Mira Lesmana mengatakan bahwa strategi marketing dan distribusi film seperti ini juga tidak dapat sembarangan. “Kalau saya bikin film kaya gini, terus mikir bakal box-office hit. Wah, itu berarti sudah agak-agak nggak beres saya. Jadi waktu itu saya mikir kalau dapat tiga puluh penonton saja, itu sudah box-office hit bagi saya. Jadi marketingnya sangat spesifik, ke mahasiswa-mahasiswa, ke LSM yang punya ketertarikan tentang kebudayaan. Jadi diputar di kota-kota tertentu saja. Seperti Depok, yang dekat dengan kampus, di Malang yang banyak mahasiswa, dan tempat-tempat lain yang banyak orang tertarik tentang isu ini. Dan akhirnya OTT platform seperti Netflix mau membeli film ini, jadi bisa dicari kapan pun. Misalnya suatu hari Atambua ramai dibicarakan, orang dapat langsung mengakses film ini.”

Pentingnya Atambua 39˚ Celsius

Mira Lesmana pun mengatakan “Film seperti ini penting karena kita perlu menceritakan Indonesia seutuhnya, tidak melulu yang ada di kota-kota besar saja. Bukan berarti kita tidak mau membuat film-film seperti Petualangan Sherina, Ada Apa dengan Cinta dan lain-lain, kami juga happy sekali ketika membuat itu. Tetapi kami juga butuh membuat film seperti Atambua ini. Film jadi tidak selalu diukur dari berapa jumlah penontonnya, berapa penghasilannya, harus laporan setiap hari, it’s keeping our sanity! Kami juga barusan membuat film di Sumba yang judulnya Humba Dreams, akan tayang minggu depan di sini (CGV FX Sudirman 24 & 26 November 2019).”

Diskusi pun ditutup Riri Riza dengan kisahnya “Waktu itu anak dari salah satu pemeran film ini menderita penyakit langka yang kalau di sana disebut diguna-guna. Akhirnya karena pembuatan film ini kita jadi tahu tentang itu, lalu kita bawa anaknya ke Jakarta dan ada teman yang bisa membantu menyembuhkan. Akhirnya sekarang anak itu bahagia, padahal sebelumnya selalu kesakitan. Jadi intinya buat kami, mestinya film itu adalah kemungkinan yang terbuka. Film itu tidak hanya dibikin karena ada penontonnya, tak hanya karena artistik, hanya agar masuk festival, tetapi banyak kemungkinan-kemungkinan bisa kita buka karena kita manusia. Kita pencerita. Kita perlu menceritakan tentang manusia.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top