Wawancara

Fanny Chotimah: Film, Sejarah Diri, dan Upaya Merawat Ingatan

Tahun 2006, Fanny Chotimah pindah ke Solo bersama suami setelah selesai kuliah di Jakarta. Kesepian karena tak memiliki teman seperti di ibu kota membuatnya bergabung dengan komunitas sastra, perempuan, dan film. Bagi perempuan kelahiran 1983 itu, sastra memang mengundang perhatiannya sebab sang ayah telah mengajarinya membaca dari kecil. Fanny juga seorang penulis dan beberapa karyanya sudah dibukukan dalam bentuk antologi.

Meski begitu, Fanny memandang film tak kalah menarik. Ia adalah seorang penikmat sinema sejak lama. Seusai menikah, Fanny menjadi lebih sering bersinggungan dengan film sebab sang suami bekerja di bidang tersebut. Kontak tak disengaja itu lambat laun menumbuhkan semangat Fanny untuk belajar tentang film. Mulai tahun 2009, ia ikut terlibat dalam produksi film di antaranya Bukit Bernyawa (2011) dan TUM (2013). Bukit Bernyawa menceritakan tentang kondisi di kawasan Gunung Merapi sebelum dan sesudah meletus tahun 2010. Sedangkan TUM mengisahkan Tuminah, seorang penyintas ianfu atau budak seks di zaman pendudukan Jepang. Keduanya merupakan film dokumenter.

Selama berkecimpung di dunia film, Fanny kebanyakan mengisi posisi penulis naskah dan produser. Kesukaannya pada aktivitas tulis-menulis membuatnya menikmati ketika diminta membuat naskah. Di sisi lain, ia juga menyenangi seni bekerja sebagai produser yang tugasnya mencari dana serta mewujudkan visi si sutradara.

Baca juga: “Pasir Hisap” di Asian Project Market 2020: Wawancara Yuki Aditya dan Luthfan

Namun, kini Fanny menantang dirinya untuk menjadi sutradara ketika ia berniat mendokumentasikan kehidupan Kaminah dan Kusdalini, dua perempuan penyintas peristiwa ’65 yang hidup di Solo. Film dengan judul You and I pun sukses ia produksi. Film ini berhasil meraih penghargaan film terbaik di Asian Competition of the 12th DMZ International Documentary Film Festival, juga masuk dalam nominasi Film Dokumenter Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia 2020.

Lewat sambungan telepon, kami berbincang dengan Fanny akhir bulan September lalu. Kami memperbincangkan seputar You and I yang menjadi karya dokumenter panjang pertamanya sebagai sutradara, serta upaya menolak lupa sejarah kekerasan di Indonesia.

Bercerita soal apa film You and I ini?

Kalau ceritanya tentang Kaminah dan Kusdalini, subjek saya ya. Mereka itu mantan tahanan politik. Mereka berteman di penjara waktu tahun ’65. Terus pas keluar dari penjara, Kaminah ditolak oleh keluarganya dan lingkungannya. Jadi dia enggak bisa balik ke rumah. Terus akhirnya tinggal bersama Kusdalini, sahabatnya yang ketemu di penjara itu. Jadinya mereka tinggal bersama udah lebih dari 50 tahun sejak ketemu itu sampai lansia.

Berarti yang satu tidak diterima keluarganya dan yang satu lagi memang tinggal sendiri atau bagaimana?

Dia (Kusdalini) dibesarkan oleh neneknya. Neneknya punya warung soto gitu deh. Jadi mereka bantu nenek itu jualan di warung soto.

Bisa diceritain awalnya film ini dibuat? Dan mulai kapan prosesnya berjalan?

Dimulai waktu tahun 2016 ya. Waktu itu produser saya, ada Amerta Kusuma, Yulian Evina Bhara, sama Tazia Teresa, bikin Museum Rekoleksi Ingatan tentang pelanggaran HAM, khususnya ’65. Terus penerapan project-nya itu macam-macam, salah satunya (pembuatan) buku foto Sang Pemenang Kehidupan oleh fotografer Adrian Mulya dan Mbak Lilik HS sebagai penulis. Mbah Kaminah dan Kusdalini ini menjadi satu profil di buku itu. Terus, “Oh ini kok menarik”.

Pas di Solo waktu mereka mau memberikan hasil buku fotonya, saya diajak ke rumah. Saat diajak ke rumahnya, udah otomatis jatuh cinta aja. Pembawaan mereka hangat dan terbuka. Awalnya, cuma ingin kenal aja. Saya senang dekat dan mendengar cerita nenek-nenek gitu. Terus akhirnya kok makin menarik, dan kayak pengin izin ke mereka gitu, apakah boleh saya mendokumentasikan kehidupan mereka.

Dulu waktu diajakin, kenapa Mbak Fanny mau? Hingga akhirnya memutuskan jadi sutradara.

Ya mungkin karena udah ada relasi dengan subjek itu ya, jadi keintimannya udah terjalin. Biar mereka lebih nyaman. Kalau misalnya aku mendatangkan orang lain gitu, belum tentu chemistry-nya sama lagi.

Di samping itu juga buat aku pribadi mungkin saatnya untuk membuka diri, challenge, karena aku suka belajar hal baru. Aku enggak melihat batasan usia, soal terlambat atau enggak untuk memulai. Mungkin ini saatnya untuk memulai dan produserku juga memberikan kepercayaan itu.

Perjalanan film ini cukup panjang ya. Dari 2016 sampai akhirnya bisa dinikmati tahun 2020. Dalam proses panjang itu siapa saja yang terlibat?

Pertama sih tahun 2016 itu presentasi di Master Class Festival Film Dokumenter. Ceritanya waktu itu masih tentang ingatan, karena Mbah Kusdalini itu demensia. Jadi lebih fokus ke ingatan, memori bagaimana sejarah dilupakan.

Lalu dalam perjalanan, dalam proses saya syuting, ternyata persahabatan mereka itu sangat menarik untuk dijadikan fokus cerita. Nah, jadi tahun 2017 ikut Docs by The Sea, setelah dapat insight dan diskusi, akhirnya bergeser dari segi cerita. Persahabatannya malah lebih kuat, jadinya masuk lewat sana.

Di tahun yang sama kami juga pitching di DMZ Doc Fund, itu di DMZ Forum. Kami dapat grant (hibah) dan karena itu world premiere-nya harus di festival itu. Tapi meskipun kita sudah dapat kontrak bahwa harus world premiere di sana, belum tentu kita masuk nominasi atau bisa menang.

Terus yang terakhir sih di Laboratorium Olah Cerita dan Kisah (LOCK) dari Yayasan Cipta Citra Indonesia (YCCI). Di sana ketemu mentor internasional lagi, terus mulai mencari-cari lagi apa yang kira-kira menarik dan yang enggak gitu.

Di awal, Mbak Fanny membayangkan film You and I itu seperti apa sih? Terus bagaimana cara mewujudkannya? Mengingat sejarah yang dibahas masih susah dibicarakan.

Iya, hal-hal yang traumatis tentu tidak akan ditanyakan kalau tidak dibuka dulu oleh Mbah Kaminah dan Mbah Kusdalini ya. Dan saya pasti menawarkan, misalnya boleh enggak wawancara soal sewaktu di penjara. Kalau misalnya mereka enggak bersedia ya udah nunggu aja. Enggak mesti harus hari itu juga (ambil gambar). Cukup main aja, rekam kegiatan mereka sehari-hari.

Sementara kalau aku sendiri, terlepas dari pilihan ideologi politik, orientasi seksual, ataupun kepercayaan, seseorang tidak layak diperlakukan tidak adil atau distigma. Jadi keberpihakanku, keberpihakan kami itu pada kemanusiaan. Jadi kami membuat film ini supaya orang lebih terbuka untuk berpihak pada kemanusiaan. Jadi tidak melihat stigma itu.

Termasuk ke korban kekerasan masa lalu yang lain?

Betul. Karena pelanggaran HAM juga banyak ya. Kebetulan saja secara pengalaman hidup subyek saya itu penyintas ’65. Tapi sebetulnya perspektif yang ingin aku sampaikan lebih luas lagi. Lebih universal, tentang kemanusiaan. Apalagi banyak pelanggaran HAM yang belum tuntas. Kalau misal kita membiarkannya, itu bisa terjadi juga sama kita saat ini. Kalau kita coba melupakan hal itu.

Film ini dipuji oleh juri DMZ International Documentary Film Festival karena mampu menjaga jarak dan membuat subjek tetap tampak nyaman untuk berkisah. Bagaimana Mbak Fanny melakukannya?

Luar biasa ya apresiasi juri. Tidak menyangka karena sebetulnya saya juga tidak ada tendensi apa-apa. Saat merekam itu tentu ada etika. (Saya) pasti menjaga jarak kamera saya. Terus juga soal frame yang saya ambil, memang mereka membiarkan saya masuk. Tapi saya juga tahu batasan saya di mana. Yang pasti kalau sudah berteman dengan subjek, bersahabat, pasti kan kita tidak ingin menyakiti sahabat kita. Kita tahu batasannya, jadi ya sudah otomatis sih.

Baca juga: Film “You and I” Arahan Fanny Chotimah Tutup JAFF 2020

Di film ini Mbak Fanny menampilkan kisah personal manusia yang bersinggungan dengan sejarah. Apakah ini akan menjadi perhatian Mbak Fanny ke depan?

Iya betul. Aku memang selalu berangkat dari hal-hal personal. Jadi memang saya punya pandangan bahwa sebetulnya sejarah biografi seseorang, biografi diri, biografi kita itu juga pasti berkelindan dengan sejarah bangsa ini.

Sejarah yang kita pelajari di sekolah itu kan problematis. Apalagi aku belajar sejarah (versi) Orde Baru. Jadi aku mencari narasi-narasi kecil. Kalau di sejarah kan para korban itu ditulis dalam bilangan saja. Padahal bilangan-bilangan itu punya nama, punya kehidupan.

Menurut Mbak Fanny bagaimana filmmaker bisa berpartisipasi agar sejarah kekerasan di Indonesia tidak menguap?

Aku enggak bicara filmmaker secara spesifik ya. Sebagai kreator, tentu saat kita berkarya, kita memiliki keberpihakan ya. Kita memiliki sesuatu yang ingin kita sampaikan. Saya pikir banyak juga teman-teman yang punya keberpihakan yang jelas pada kemanusiaan dan pasti semua karya (mereka) juga berbicara tentang hal itu. Tapi kupikir menjaga ingatan sejarah ini butuh kerja bersama ya, enggak cuma sineas aja. Semua pihak, semua orang.

1 Comment

Most Popular

To Top