Berita

Festival Sinema Australia Indonesia, Lokalitas dan Kejutan Sineas Muda

Penyelenggaraan tahun ketiga Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2018 telah usai. Saya sempat berkunjung untuk menonton film-film pendek yang tersaring dari 200 pengirim karya menjadi enam finalis kompetisi sebagai bagian dari salah satu program FSAI.

Isu kesendirian orangtua yang terasing dari anaknya mengemuka dalam beberapa di antara enam finalis kompetisi film pendek FSAI 2018. Seperti yang terlihat dalam Amak, dan The Letter. Amak berlatar di Padang, Sumatra Barat. Modernisasi memaksa si anak harus merantau dan bekerja di kota, jauh dari kampung yang kecil dan harus meninggalkan Amak (ibu). Film selanjutnya, The Letter, juga mengangkat premis yang berwarna sama dengan Amak. Namun, meski berangkat dengan premis sama, tentu penggarapan berbeda. The Letter bertutur tentang bapak yang sepi ditinggal mati istri, dan anak yang merintis karir jauh dari rumah. Dengan memblikan handphone, si anak menganggap untuk memudahkan komunikasi, si bapak yang kesepian itu pun sering menelpon anaknya. Karena kesibukan, si anak justru jadi hilang kabar.

Tema ini juga yang diangkat oleh Mahesa Desaga, pemenang kompetisi film pendek FSAI sebelumnya. Ia mengambil latar jelang Idulfitri, tentang ibu yang menunggu kedatangan si anak dari perantauan.

Film lain adalah, Rep-repan, Tuwaga, The Last Day of School, dan Signs of The Season. Benang merah yang bisa saya tangkap dari kesemua finalis ini adalah bagaimana para sineasnya mengartikulasikan lokalitas yang hadir di kehidupan, namun mengusung nilai universalitas.

Signs of The Season, karya Ninndi Raras, menjadi begitu kuat di antara lima film lainnya. Isu yang diangkat adalah perubahan iklim, yang diterjemahkan dengan cerdik dan kreatif oleh Ninndi. Melalui kalender musim yang dimiliki masyarakat Jawa, sebenarnya sudah diketahui, kapan datang musim hujan, kapan datang musim kemarau, melalui pertanda tumbuhan, binatang sebagai navigasi pertanian. Namun, pertanda-pertanda musim yang harusnya terjadi, tak kunjung datang, bahkan bertolak belakang. Film yang merupakan omnibus ini, jeli melihat fenomena yang terjadi di masyarakat dan hadir sebagai satir atas terjadinya perubahan iklim. Misalnya, alih-alih datang ‘mangsan rendheng’ yang menyebabkan sungai-sungai meluap, siswa-siswi SD dipimpin gurunya shalat di bawah terik dan menyelenggarakan doa minta turun hujan.

Pantaslah Signs of The Season, atau Pranata Mangsa (Pertanda musim) menjadi pemenang kompetisi ini dan berhak melancong ke Australia untuk hadir dalam Melbourne International Film Festival (MIFF).

“Film ini menjadi menarik karena dengan isu yang diangkat global, yaitu perubahan iklim, tetapi digarap dengan kelokalan Indonesia yang kita miliki,” jelas Arturo Gunapriatna, ketua juri kompetisi film pendek FSAI 2018.

 Bikin Film dari SD

Selain Pranata Mangsa, film lain yang juga mendapat penghargaan adalah Rep-repan. Suatu kondisi saat kita tidur, namun setengah sadar, dan merasa susah untuk bangun. Premis ini juga pasti lekat dengan kita, sebagai penonton. Tanpa banyak kalimat yang terucap, film ini cukup menjadi efek kejut dengan kehadiran sosok misterius yang menghampiri Sukma di tengah tidurnya.

Menjadi menarik, ketika juri mengumumkan Special Mention, sebab saat saya temui seusai pemutaran dan pengumuman pemenang kompetisi, sutradaranya adalah anak SMA. Lebih mengagetkan lagi, ia buat saat masih SMP. Di era mudahnya menjangkau teknologi untuk membuat film, tentu masih patut kita apresiasi sosok Satria Setya Adhi Wibawa yang membawa filmnya, The Last Day of School berhasil menyodok keenam besar, dari 200 partisipan. Jika bukan karena pengetahuan dan craftsmanship tentu teknologi bukanlah apa-apa dan tidak akan berubah dengan sendirinya menjadi sinema yang bisa ditonton.

“Film ini sangat jujur, dekat dengan dunianya. Tentu ada teknik-teknik yang masih harus dipelajari lagi, tapi itu bagian dari proses si pembuat filmnya,” jelas Kamila Andini mengomentari film garapan Satria.

“Pada nantinya, semua akan menjadi era visual, terlihat dari anak yang masih usia SMP saja sudah bisa bikin film, mereka belajar dari mana saja, ya buku, Youtube, ” tambah Arturo, Lelaki yang juga merupakan dosen dan Ketua Senat Akademik Fakultas Film & Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta ini.

Satria, rupanya sudah membuat film sejak kelas 5 Sekolah Dasar (SD), hingga berlanjut ke SMP dan kini sudah menelurkan delapan film pendek. Membanggakan lagi, saat filmnya yang menjadi special mention dalam FSAI 2018 ini, tahun lalu masuk kategori Next Generation Indonesia Digicon 6 Asia, dan berangkat ke Jepang. Ia juga masuk dalam nominasi Take One dalam kompetisi SIFFCY India 2017.

Kehadiran kompetisi film pendek di FSAI tentunya menjadi suatu yang patut dirayakan, dengan semakin banyaknya wahana penyaluran karya para sineas kita. Selain sebagai proses dalam berkarya, tentu festival semacam ini adalah sarana mempertemukan sinema dengan penontonnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top