Berita

Film Musik Makan dan Cerita-Cerita Para Penyintas

Film-film yang kita saksikan, seringkali bercerita tentang orang-orang yang bertahan hidup. Entah bertahan hidup dari berbagai bahaya, hukuman, penyakit, prasangka, nasib ataupun dari diri sendiri. Bertahan adalah hakikat kehidupan manusia. Bahkan film itu sendiri bukan cuma kisah yang ditangkap kamera, tapi salah satu media yang kita gunakan untuk bertahan.

Film dan musik memiliki kemiripan: ya itu tadi, media pertahanan. Baik mempertahankan ataupun dipertahankan. Para sineas dan musisi dituntut untuk bisa bertahan dari pasar, perubahan teknologi, pembajakan, ego, dan mempertahankan ide tentunya. Tapi apa pun jenis film  dan musiknya, pasti berjodoh dengan para audiens sesuai dengan segmen dan kalangannya yang selalu mencari alat pertahanan atas kebosanan.

Film-film dan musik yang memiliki bentuk atau genre tertentu, selalu bisa dipertahankan keberadaannya oleh para penikmat setianya melalui beragam cara dan acara. Bioskop arus utama, meskipun sebarannya cukup luas di negara ini, tapi tetap saja belum bisa mengakomodasi keinginan penonton-penonton yang butuh bentuk pertahanan lain, tidak melulu kisah yang sama dengan sutradara berbeda. Juga sama halnya dengan para penikmat musik yang musti melihat penampilan para musisi yang bisa mengingatkan mereka cara bertahan yang tepat dan itu tidak bisa ditonton di acara musik yang cuma bisa menayangkan lyric video. Oleh karena itu, sebetulnya, acara tahunan seperti Film Musik Makan (FMM) masih bisa dihitung jumlahnya (acara yang memadukan film, musik dengan makanan pun sepertinya cuma satu). Dan itu hanya ada di beberapa kota saja.

Seperti kata Mbak Meiske Taurisia di konferensi pers FMM 2019, walaupun penonton-penonton tertentu bilang mereka sudah menonton film ini, film itu (yang distribusinya terbatas), toh cuma mereka yang sudah menonton, sedangkan lebih banyak penonton lainnya yang belum mendapatkan kesempatan serupa. Sementara acara alternatif seperti FMM masih sangat sedikit tiap tahunnya. Bahkan kita bisa menghitung jumlah acara yang reguler diadakan oleh komunitas atau kampus, yang mana mereka pun butuh bertahan agar acara mereka terus berlangsung.

Yang Hadir di Film Musik Makan 2019

Melanjutkan proses manusia untuk bertahan hidup secara implisit maupun eksplisit, Kisah Dua Jendela karya Paul Agusta, satu dari dua film panjang yang akan tayang di FMM 2019, adalah tentang dua manusia yang mencoba bertahan dengan pekerjaan masing-masing: Andrea yang bekerja di kantor dari malam hingga pagi dan Leon yang hobi menulis di warung kopi setelah anaknya tertidur. Mereka berdua mempertanyakan keberadaan satu sama lain dan keberadaan diri mereka sendiri. Sementara film panjang lainnya yang tayang di FMM 2019 adalah Asian Three Folds Mirror: Journey, omnibus yang disutradarai oleh Degena Yun (Tiongkok), Daishi Matsunaga (Jepang) dan Edwin (Indonesia). Tiga kisah tentang pertahanan hidup dan perjalanan seorang ibu dan anaknya, seorang pekerja dan satu pasang lelaki dan perempuan dengan pilihan mereka masing-masing.

FMM 2019 juga akan menayangkan enam film pendek yang, kembali, berkisah tentang para tokoh dan proses bertahan. Kisah perempuan yang terjebak dalam Dan Kembali Bermimpi (Jason Iskandar), Sepasang suami istri yang mempertahankan keyakinan dalam Ballad of Blood and Two White Buckets (Yosep Anggi Noen), remaja dan jati dirinya dalam Kado (Aditya Ahmad), bertahan dalam duka di kisah Kembalilah Dengan Tenang (Reza Fahriansyah), bangkit dari trauma melalui Rising From Silence (Shalahudin Siregar), serta penayangan perdana film pendek terbaru Ismail Basbeth yang berjudul Woo Woo.

Baca juga: Film Musik Makan 2018: Gagasan, Peristiwa dan Sajian Lengkap

Berbicara tentang film pendek dokumenter yang berjudul Rising From Silence, adalah tentang perempuan-perempuan yang bangkit dan bertahan dari trauma lewat lagu-lagu yang mereka gubah setelah lima puluh tahun dibungkam. Merekalah Dialita, yang merupakan singkatan kreatif dari “Di Atas Lima Puluh Tahun”. Para penyintas 1965 ini juga akan tampil dalam segmen musik di FMM 2019. Atas bantuan dari para seniman di Yogyakarta dan Jakarta, Dialita telah berhasil mengeluarkan dua album berisi kisah yang dibagikan pada generasi muda, antara lain Dunia Milik Kita (2016) dan Salam Harapan (2019).

Sementara dalam urusan makan, sebab hal ini berhubungan dengan cara kita bertahan hidup, lepas dari bagaimana mendapatkan dan mempertahankannya, maka kita patutlah disebut para penyintas. Sebagaimana tradisi FMM sebelum-sebelumnya, maka tahun ini para sineas pun kembali membuka lapaknya masing-masing. Lola Amaria (Aktris, Produser) dengan Nasi Pedes Cipete, Iponxonik (Sound Editor) dengan Roast Beef, dan Kata Kopi milik Joshua Dwi (Studio Antelope).

FMM 2019 hadir di Jakarta pada tanggal 9 Maret di GoetheHaus, sementara di Sukabumi tanggal 31 Maret dan Surabaya masih diperkirakan awal April 2019. Sebuah acara alternatif untuk kita, para manusia yang berusaha bertahan dari apa pun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top