Festival Film Indonesia 2021
Artikel

Film Pilihan Kolektif Infoscreening 2020

Tahun 2020 menjadi tahun yang berbeda akibat pandemi Covid-19. Kami Infoscreening, memutuskan untuk melakukan hal yang di luar kebiasaan kami yaitu membuat daftar film pilihan. Satu tahun penuh, kami absen melakukan kegiatan pemutaran film secara luring. Artikel ini bisa dianggap sebagai ganti kegiatan apresiasi yang biasa kami lakukan tersebut.

Dalam membuat daftar ini, masing-masing anggota memiliki hak untuk memilih film yang menurut mereka paling berkesan dan bermakna. Tentu saja berdasarkan pandangan masing-masing atas berbagai situasi dan latar belakang yang sedang dihadapi pada masa pandemi tahun lalu. Sehingga daftar ini bukan dimaksudkan untuk menentukan film terbaik pada 2020. Film-film yang kami masukkan di daftar ini adalah film yang diputar di festival tahun 2020. Artinya tahun rilis film mengikuti ketentuan festival. Kami pun memasukkan film-film yang ditonton di layanan streaming, dengan ketentuan paling lama film tahun 2019.

Berikut film pilihan dari masing-masing anggota kolektif kami yang terdiri dari Panji Mukadis (Pengajar dan co-founder Infoscreening), Ridho Nugroho (Editor dan pekerja media), Ali Satri Efendi (Dosen dan seniman video), Winner Wijaya (Pembuat film dan penulis lepas), dan Ajeng Nindias (Reporter dan penulis lepas).

Film pilihan Panji Mukadis

Maria Ado’e (Gleinda Stefany, 2020) – Ditonton di program Semester Pendek Kolektif

Film ini membahas berbagai masalah laten di Indonesia. Seputar rasisme dan ketidakmerataan pembangunan yang mengharuskan banyak orang dari luar Jawa bermigrasi untuk belajar dan bekerja. Meski harus mengorbankan banyak hal, termasuk menerima perlakukan yang tidak mengenakkan. Sebuah film yang semakin relevan, di saat pergaulan masa muda kaum privileged yang menjadi petinggi negeri ini sedang ramai diromantisasi.

Quarantine Tales (Omnibus dari Ifa Isfansyah, Dian Sastrowardoyo, Jason Iskandar, Sidharta Tata, dan Aco Tenri, 2020) – Ditonton di Bioskop Online

Saya menemukan bahwa terkadang ada hal yang diabaikan ketika kita bicara tentang masa depan perfilman, khususnya perfilman Indonesia, di masa pandemi; pertama kebutuhan masyarakat akan tontonan –yang baik. Kedua yaitu usaha manusia untuk dapat hidup dengan melakukan hal yang mereka senangi, dalam hal ini membuat film. Quarantine Tales jelas bukan film pertama yang mengangkat cerita seputar pandemi, namun dari medium tempatnya ditayangkan serta representasi pembuat film yang dihadirkan. Baik representasi generasi maupun kelompok rumah produksinya, ia mengirimkan sinyal penting bahwa pembuat film dapat berkarya melalui beragam pilihan kanal. Setelah sebelumnya bioskop komersial seolah menjadi satu-satunya tempat menonton.

Film pilihan Ridho Nugroho

Suburbia (Winnie Benjamin, 2019) – Ditonton di Boemboe Forum 2020

Sebenarnya ada beberapa film bagus dan berkesan di tahun 2020 lalu. Tapi karena tulisan ini dibuat bertepatan dengan ramainya media sosial dengan didirikannya patung Merlion “Singapura” di Madiun, maka saya memilih Suburbia sebagai film favorit. Film ini berkisah tentang “bagaimana jika” negara terlalu mengatur urusan personal warganya, bahkan sampai urusan jodoh. Sepanjang film penonton disuguhkan kekalutan sepasang remaja yang saling mencintai tapi terbentur aturan. Karena tak main-main, semesta film ini menggambarkan orang yang melanggar akan dipenjara dan dirisak. Ada sejumlah hal yang membuat saya terkesan dengan film ini, tapi yang paling utama adalah keberaniannya berimajinasi. Imajinasi sang kreator dikemas dengan sentuhan kreatif, menghasilkan karya yang bernilai. Ah, seandainya semua orang Indonesia berani berimajinasi.

Hai Guys Balik Lagi Sama Gue, Tuhan! (Winner Wijaya, 2020) – Ditonton di Screening Popsicle

Pandemi tentu saja merupakan hal yang menyebalkan bagi pekerja film, di mana pun. Tapi kalaupun diminta mencari-cari hikmahnya, saya akan sebut satu, mulai bermunculanya gaya-gaya tutur yang unik dan segar. Pembatasan fisik, membuat pekerja film pun harus memiliki “gaya baru” dalam produksi, termasuk muatan filmnya. Dan film pendek paling radikal yang saya tonton di masa pendemi ini adalah Hai Guys Balik Lagi Sama Gue Tuhan!. Berkisah tentang, “bagaimana jika” Tuhan membuat vlog. Dengan sudut pandang kamera sebagai “penglihatan” Tuhan, kita dibuat turut asik memain-mainkan kehidupan seseorang.

Film pilihan Ali Satri Efendi

Mudik (Adriyanto Dewo, 2020) – Ditonton di Mola TV

Film Mudik yang merupakan film panjang kedua Adriyanto Dewo dengan mulus mampu memadukan dua isu besar yang ada di negeri ini: kecelakaan yang kerap terjadi ketika arus mudik, dan persoalan perempuan yang dari dulu masih itu-itu saja. Sebelum pandemi, dengan jumlah kendaraan yang begitu banyak membawa orang pulang kampung. Tentu ada banyak tokoh seperti Aida (diperankan dengan gemilang oleh Putri Ayudya) yang selalu berusaha membahagiakan suaminya dan masih ragu untuk meraih “kemenangannya” sendiri.

Nimtoh (Saurav Rai, 2019) – Ditonton di Images Film Festival 2020

Setidaknya pandemi ini memberikan hikmah berupa terbukanya akses ke festival-festival dunia secara daring. Dalam sebuah festival berbasis di Kanada, Images Festival menayangkan Nimtoh, sebuah film panjang perdana karya Saurav Rai yang sangat membekas buat saya karena kesederhanaannya. Bercerita tentang Tashi dan neneknya yang hidup sangat miskin di daerah pegunungan dekat Darjeeling. Majikan mereka hendak melaksanakan upacara pernikahan anaknya dan Tashi ingin sekali mendapat undangan. Tapi majikan tersebut tidak begitu menyukai perilaku Tashi. Orang-orang asli desa itu berakting dalam film drama ini, termasuk anggota keluarga sang sutradara sendiri, sehingga film fiksi ini terasa seperti dokumenter observasional.

Film pilihan Ajeng Nindias

37 Seconds (Hikari, 2019) – Ditonton di Netflix

Saya tertarik dengan film ini sejak menonton trailernya di Youtube. Hal yang menarik perhatian saya pertama kali adalah akting Mei Kayama yang memerankan Yuma Takada, seorang pembuat manga berusia 23 tahun yang menderita lumpuh otak (cerebral palsy). Dari awal sampai akhir, film ini menampilkan usaha Yuma memahami hal-hal yang terjadi di sekitarnya –pekerjaan, hobi, dan relasi dengan keluarga. Namun, pemahaman itu justru datang dari orang yang sama sekali asing dan kerap pula mendapat stigma, yakni pekerja seks dan mereka yang bekerja di zona merah. Film ini pun sukses mengupas prasangka yang menyelimuti penyandang disabilitas, bahwa mereka memiliki kemampuan dan keinginan hidup yang sama sehingga tak seharusnya dipandang sebelah mata.

A Sun (Mong-Hong Chung, 2019) – Ditonton di Netflix

Tragis tapi estetik. Dua kata ini menurut saya pantas menggambarkan film A Sun. Film ini menceritakan keluarga beranggotakan empat orang yang tengah menghadapi masalah dan hal tersebut memengaruhi kehidupan mereka. Efek yang dirasakan pun tidak tanggung-tanggung, namun justru menguak persoalan yang selama ini ada tapi tersembunyi: kurangnya curahan perhatian dan harapan yang terlalu besar. Bagi saya film A Sun berhasil mewujudkan pernyataan yang pernah saya baca dari buku: semua keluarga bahagia karena hal yang sama namun berduka dengan kesedihan masing-masing.

Film pilihan Winner Wijaya

Mekah I’m Coming (Jeihan Angga, 2019) – Ditonton di jaringan bioskop 21

Mekah I’m Coming adalah film terakhir yang saya tonton di bioskop sebelum pandemi. Setelah menonton film ini di awal tahun, rasanya tahun 2020 bakal menjadi tahun yang paling menyenangkan! Film ini membuat saya dan seluruh isi bioskop tidak berhenti tertawa, bahkan lama setelah keluar dari bioskop masih tertawa ketika membahas dan mengingat-ingat adegan di filmnya. Ini film dengan gaya komedi yang sangat Indonesia tetapi sayangnya jarang ada dibuat di Indonesia.

2 JAM nggak ngapa-ngapain (Didit Deelon, 2020) – Ditonton di Youtube

Film yang cocok untuk menemani kegiatan di rumah saja pada masa pandemi. Bentuk film pasti akan banyak berubah, cara menonton berubah, apa yang mau disampaikan dan bagaimana menyampaikannya juga berubah. Menurut pembuatnya, film ini adalah jawaban dari banyaknya desakan warganet yang memintanya untuk membuat konten yang mendidik. Jenius!

Baca juga: Streaming Service: Jalan Lain Menuju Penonton

Begitulah daftar film pilihan para anggota Infoscreening. Teman-teman Screening Buddies mungkin sadar –di web maupun medsos– ada sejumlah adaptasi yang kami lakukan di kondisi pandemi ini. Artikel ini bisa dibilang salah satunya, sekaligus penanda bahwa pada 2021 mungkin akan semakin banyak kejutan yang kami berikan.

Terima kasih atas segala dukungannya.

Festival Film Indonesia 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top