Festival Cinema Prancis 2021Jakarta Film Week 2021
Berita

Film “Semesta” dari Produser Nicholas Saputra Siap Tayang Awal 2020

Siaran Pers

Jakarta, 18 Desember 2019 – Nicholas Saputra dan Mandy Marahimin, di bawah bendera Tanakhir Films, secara resmi merilis poster dan trailer film Semesta, sebuah film dokumenter berdurasi 90 menit yang berkisah tentang mereka yang merawat Indonesia. Film Semesta menurut rencana akan tayang terbatas di bioskop mulai 30 Januari 2020.

Film Semesta berkisah tentang tujuh sosok dari tujuh provinsi di Indonesia yang bergerak memelankan dampak perubahan iklim dengan merawat alam atas dorongan agama, kepercayaan, dan budaya masing-masing. Ketujuh sosok itu berasal dari Aceh, Jakarta, Yogyakarta, Bali, Kalimantan, Flores, serta Papua. Kehadiran ketujuh sosok ini memang dipilih dengan seksama untuk mewakili manusia dan alam Indonesia yang beragam.

Melalui rangkaian kisah tujuh sosok inspiratif ini, film Semesta mengajak kita berkeliling sembari menikmati kekayaan alam di Tanah Air, mulai dari titik ujung barat, yakni Desa Pameu, Aceh, hingga menuju bagian ujung timur Indonesia, tepatnya di Kampung Kapatcol, Papua.

Film Semesta yang disutradarai Chairun Nissa merupakan dokumenter panjang perdana Tanakhir Films. Rumah produksi yang berdiri sejak 2013 ini sebelumnya lebih banyak memproduksi dokumenter pendek juga film fiksi panjang. Film Semesta juga menjadi nominator sebagai film dokumenter terbaik Festival Film Indonesia. Bulan November lalu, film ini telah melakukan World Premiere di Suncine International Environmental Film Festival, sebuah festival film di Barcelona yang khusus untuk film dokumenter bertema lingkungan.

Menghapus Stigma Dokumenter

“Menurut kami dokumenter merupakan medium yang bisa benar-benar mengangkat soal keindonesiaan. Selain itu kami ingin menghapus stigma bahwa dokumenter adalah tontonan yang membosankan. Makanya kami membuat Semesta dengan suguhan berbeda agar orang tidak bosan saat menyaksikannya,” ujar Mandy Marahimin, produser sekaligus pendiri Tanakhir Films bersama Nicholas Saputra.

Suguhan berbeda yang dimaksudkan Mandy Marahimin terlihat dari nilai produksi film ini, terutama dari segi pengambilan gambar, perekaman suara dan pembuatan musik ilustrasi, hingga pada tahap penyuntingan.

“Dari awal kami sudah mendesain film ini sebagai dokumenter yang tidak hanya untuk disaksikan di televisi, tapi juga di bioskop. Dengan standar seperti itu, maka pengerjaan pascaproduksi film ini kami perlakukan sama dengan film-film fiksi. Latar belakang saya dan Nicholas Saputra yang sebelumnya berkecimpung dalam produksi film-film fiksi sangat membantu,” tambah Mandy Marahimin yang sebelumnya tercatat menjadi produser eksekutif film Kulari ke Pantai (2018), Keluarga Cemara (2019), dan Bebas (2019).

Hal-hal yang disebutkan tadi terlihat dalam cuplikan film Semesta yang berdurasi dua menit. Melalui tangan Aditya Ahmad selaku sinematografer, kamera bergerak dinamis menyorot gambar bukan hanya dari darat, tapi juga di udara dan menembus ke dalam air laut. Aditya Ahmad juga dikenal sebagai sutradara film pendek andal. Prestasinya tidak hanya terukir di pentas festival film dalam negeri, tapi juga menyeberang hingga ke mancanegara. Film pendek terakhirnya, Kado, menjadi film pendek terbaik di Venice Film Festival.

Baca juga: Kuliah Umum FFD 2019: Perkembangan Sinema Indonesia Setelah Reformasi

Penataan musik oleh Indra Perkasa, dan penataan suara oleh Satrio Budiono, Indrasetno Vyatrantra, dan Hasanudin Bugo, berhasil menambah nyawa setiap adegan sehingga semakin menambah daya tarik film yang sudah tampak dalam cuplikannya. Kuartet ini sudah menghiasi banyak film layar lebar di Indonesia.

Sementara editing film ini ditangani oleh Ahsan Andrian, yang sebelumnya pernah mengedit Filosofi Kopi dan mendapatkan piala Citra dari film itu. Kehadiran dan kolaborasi seluruh kru di belakang layar film ini membuat film Semesta jadi semakin layak ditonton saat tayang di bioskop.

“Dengan sajian kisah-kisah dari berbagai penjuru Indonesia, film ini membuka wawasan kita, dan memberikan inspirasi, untuk berbuat sesuatu sekecil apa pun itu. Sebab apa pun latar belakang agama, budaya, profesi, dan tempat tinggalmu, kita tetap bisa berbuat sesuatu untuk alam Indonesia dan dunia yang sekarang tengah mengalami krisis,” pungkas Nicholas Saputra.

Festival Cinema Prancis 2021Jakarta Film Week 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top