Artikel

Gemar Film Pendek #10: Film Pendek Indonesia Bicara Relasi dan Kuasa

gemar film pendek

GEMAR Film Pendek bulan Oktober kali ini kembali hadir dengan bahasan “kuasa”.

Masuk dalam tema besar program Kineforum “Candu Daya”, film-film yang diputar mencoba memapar relasi antara pihak yang menguasai dan yang dikuasai. Tidak melulu pada hal yang bersifat elitis dengan skup yang luas, beberapa film membahas relasi kuasa dalam tataran remeh, dengan lingkup kecil. Namun jangan salah, justru yang remeh terkadang mampu menggambarkan dengan apik, bagaimana relasi kuasa bekerja hingga membuat kita bergidik ngeri.

Bertempat di Taman Ismail Marzuki (14/10/2018) program hasil kerjasama Kineforum dan Organisasi Bomboe ini, hadir dengan tiga film pendek, Simbiosis (Sutradara: Wiranata Tanjaya), The Fox Exploits The Tiger‘s Might (Sutradara: Lucky Kuswandi), dan Joko (Sutradara: Suryo Wiyogo).

Baca juga: Pemutaran “Nyai” Resmi Buka Rangkaian Master Class Garin Workshop di Jakarta

Simbiosis (2015): Kuasa antara Kakak-Adik

Relasi dalam keluarga memang kerap menarik untuk diceritakan. Seperti betapa manjanya anak perempuan dengan sang ayah. Betapa melankolisnya anak laki-laki dengan ibu. Namun, relasi yang bertalian darah itu nyatanya tak benar-benar steril dari kuasa. Seperti hubungan antara kakak dan adik dalam film Simbiosis ini.

Film bermula dari perjalanan kakak beradik menaiki kapal ke sebuah pulau antah berantah. Berbekal peta dan sejumlah alat, mereka menyusuri pulau untuk menemukan sesuatu yang ditunjukan dalam peta. Sepanjang perjalanan sang kakak mendominasi pembicaraan dan kerap memerintah sang adik.

Pada umumnya, adik menjadi pihak yang kerap kali diintimidasi oleh sang kakak. Tidak selalu memang. Namun dengan sejumlah “modal” yang dimiliki seorang kakak, seperti lebih tua, lebih kuat, lebih tahu, lebih berpengalaman, dan lebih-lebih lainnya. Kakak kerap kali memanfaatkan “modal” itu untuk mengintimidasi adiknya. Misalnya penggunaan pluit oleh sang kakak dalam film ini, menjadi simbol betapa intimidatifnya sang kakak.

Film ini sarat akan metafora dengan penggunaan simbol. Semisal kakakberadik yang mengenakan seragam SD dan SMP, peta berbentuk alat reproduksi perempuan, pistol, pluit, susu dan lain sebagainya. Sutradara ingin mengontraskan identitas keduanya dan menunjukan siapa yang menguasai dan siapa yang dikuasai. Namun sayang, meski dari awal penonton sudah diajak untuk ber-absurd ria, ada sejumlah logika yang masih susah diterima.

The Fox Exploits The Tiger’s Might (2015): Seks dan Kekuasaan

Seks dalam diskusi serius ataupun guyonan kerap kali sensitif, namun dianggap ampuh mempersatukan segala golongan. Sepertinya Lucky Kuswandi ingin mencoba itu, menggunakan medium “seks” untuk bercerita soal kekuasaan Orde Baru. Atau bahkan sebenarnya Lucky pun ingin memperlihatkan, betapa Orde Baru suka mencampuri urusan orang termasuk soal seks.

Film bermula dari suasana tempat tinggal Aseng, keluarga keturunan Tionghoa yang membuka toko tembakau dan minuman keras. Kemudian diperkenalkan pula David, anak dari petinggi TNI yang datang dengan ajudan ayahnya. Relasi kuasa kemudian berangsur diperlihatkan berbalut dengan bumbu seks. Semisal sang ajudan yang menanyakan pada ibu Aseng, apakah ia ingin menitip salam untuk ayah David. Kemudian justru direspons dengan pemberian sejumlah uang “titipan”. Lalu direspons balik oleh sang ajudan dengan memuji-muji ibu Aseng dilanjut dengan pemberian uang tambahan oleh ibu Aseng dan sedikit percumbuan yang dimulai oleh sang ajudan. Adegan ini seolah ingin menunjukan betapa kaitan Orde Baru dengan keturunan tionghoa tak jauh-jauh dari urusan bisnis, seperti uang “titipan” untuk memuluskan jalannya sebuah usaha. Atau seks, yang sudah banyak diketahui, etnis tionghoa menjadi salah satu pihak yang tersakiti dari sejumlah tragedi di negeri ini. Kerusuhan 98 misalnya, mencatat banyaknya kasus pemerkosaan terhadap perempuan etnis tionghoa di sejumlah daerah.

Namun tidak sampai di situ, Lucky menambah satu lapis lagi dalam filmnya. Yaitu isu gay, atau penyuka sesama pria. Lebih jauh dari sekadar minoritas non-muslim, keturunan tionghoa, dan perempuan (triple minority). Lucky seolah ingin membuat kita menyelami bagaimana perasaan seorang gay di masa itu.

Film ini dengan cukup baik menggambarkan betapa penguasaan tunggal “senjata” membuat sejumlah pihak merasa sok jagoan terhadap pihak lain.

Baca juga: Film Pai Kau Diputar di Layar-layar Alternatif

Joko (2017): Kuasa di Toko Bangunan

Kekuasaan tidak melulu menyangkut elite dengan cakupan wilayah yang luas. Kekuasaan bisa berada di mana saja, seperti di toko bangunan misalnya. Totok Janoko adalah sang pemilik dari toko bangunan. Mengamati karyawan dari dalam ruangan dengan menggunakan CCTV adalah kebiasaannya. Siapa sangka, CCTV yang ia gunakan bukan untuk memantau karyawannya yang bandel atau mengantisipasi adanya pencuri. Namun justru untuk melanggengkan hasratnya menguasai.

Memiliki orientasi seksual pada sesama jenis membuat Totok tidak bisa tidak memanfaatkan kekuasaannya. Segala instrumen dalam toko bangunan ia pakai untuk melancarkan tujuannya. CCTV, bawahan, makan siang, rokok, gaji, dan lain sebagainya. Semua itu ia kerahkan untuk menyalurkan hasrat seksualnya pada Joko, karyawan berusia tanggung yang menarik perhatiannya.

Film pendek debut pertama Suryo Wiyogo ini cukup baik menggambarkan relasi antara penguasa dan yang dikuasai. Bahwa mereka yang dikuasai sebenarnya tidak benar-benar bodoh atau sama sekali tidak tahu atas apa yang mereka alami. Namun adanya kekuatan yang begitu besar dengan segala instrumen pendukungnya membuat mereka lemah dan memiliki sedikit pilihan.

Dari ketiga film di atas, menarik untuk melihat alat-alat yang digunakan untuk satu pihak menguasai pihak lain. Simbiosis dengan peluitnya, The Fox Exploits The Tiger’s Might dengan pistolnya, dan Joko dengan CCTV dan karyawannya. Hal ini cukup menggambarkan seperti kata Louis Althusser dalam konsepnya Repressive State Apparatus (RSA) dan Ideological State Apparatus (ISA). Bahwa secara sederhana kontrol atas pihak yang dikuasai dapat dengan institusi-institusi (RSA) seperti tentara, polisi, pengadilan, penjara (by violence). Lalu dapat pula dengan cara-cara yang menyerang pemikiran/pemahaman seperti dengan lembaga pendidikan, lembaga agama, dan media (by ideology).

Meski banyak bermain metafor dan simbol, ketiga film di atas memiliki pernyataan sikap yang cukup kontras. Apalagi ketika ketiganya diputar secara berurutan. Pada akhirnya tiap “obyek” kekuasaan dalam ketiga film di atas masing-masing memiliki sikap. Sebuah pesan moral bagi penguasa zalim yang menduga “obyek” yang ia kuasa telah benar-benar lemah dan tak berdaya. []

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top