Pemutaran

Gemar Film Pendek #7: Bentuk Empati Pada yang Ditinggalkan dan Dipinggirkan

Infoscreening.co – Bertepatan dengan bulan Ramadan, Gemar Film Pendek hadir kembali dengan menampilkan empat film pendek pilihan (23/4). Dari empat film tersebut, program seperti terbagi dua tema dengan satu film memiliki pasangan dengan tema serupa pada satu film lainnya. Novi dari Organisasi Boemboe menjelaskan program Gemar Film Pendek #7 berkaitan dengan dua hal yaitu Ramadan dan juga memperingati 20 tahun Reformasi.

Empat film pendek tersebut yaitu W (Yohannes Theo), Tabir (Difizckal Satriatama), BuAng (Eugene Panji), dan Wei (Samuel Rustandi) antara satu dengan satu film yang “dipasangkan” memiliki benang merah yaitu seputar orang-orang yang ditinggalkan, dan juga mereka yang terpinggirkan.

Tentang yang Ditinggalkan

W dan BuAng dengan genre yang berbeda mengisahkan mereka yang ditinggal anggota keluarga dalam berbagai kejadian di tahun 1998. W (Yohannes Theo) merupakan film dokumenter yang mengangkat tentang orang tua dari (alm) Norman Wirawan alias Wawan, mahasiswa aktivis yang tertembak dalam tragedi Semanggi II.

Secara khusus film ini merekam cara Sumarsih, ibu Wawan, melanjutkan perjuangan Wawan selama hidup, hingga saat ini yang terkenal salah satunya melalui aksi Kamisan. Tidak hanya itu, dalam W diperlihatkan bagaimana keberadaan Wawan senantiasa dihadirkan dalam kegiatan orang tua Wawan di rumah.

Baca juga: Gemar Film Pendek #6: Pandangan Pribadi Akan Hal yang Dekat

Sementara BuAng (Eugene Panji) merupakan film seputar Ibu Ang yang kehilangan seluruh anggota keluarganya dalam tragedi Mei ’98, kondisi tersebut kemudian membuat sang ibu membuat dunianya sendiri hingga kemudian setelah beberapa tahun kemudian menyudahinya.

Tentang yang Dipinggirkan

Dua film yang dipilih untuk mewakili tema Ramadan yaitu film Tabir (Difizckal Satriatama) dan juga film Wei (Samuel Rustandi). Film Tabir bercerita tentang seorang muslimah konservatif yang menemukan anaknya memiliki hubungan dengan wanita non-muslim. Kekasih anaknya tersebut kemudian ditekan dengan berbagai cara oleh sang ibu.

Sementara Wei yang menjadi pamungkas dalam program bercerita tentang Mei, seorang mualaf keturunan tionghoa yang coba untuk terus berhubungan dengan ayahnya yang belum bisa menerima perubahan anaknya tersebut. Keberagaman budaya dalam Wei (artinya rasa), apa yang boleh dan tidak dan sebagainya, dalam film direpresentasikan dengan melalui tema kuliner.

W: Cinta Kasih Orang Tua

Sesi diskusi menghadirkan perwakilan dari film W, Tabir, dan Wei dengan masing-masing sutradara hadir langsung di Kineforum. Yohannes Theo mengungkapkan bahwa filmnya, W, lebih merupakan film tentang cinta kasih orang tua Wawan kepada mendiang anaknya.

Orangtua Wawan dalam Diskusi Gemar Film Pendek #7 (dok: Kineforum)

Kedua orang tua Wawan sendiri hadir sebagai peserta diskusi dan turut menanyakan tentang beberapa hal yang tidak dimasukan dalam film. Theo kemudian menjelaskan bahwa ia melihat telah banyak film tentang Kamisan dan seputar Ibu Sumarsih dibuat, oleh karenanya film ini kemudian lebih mengambil sudut pandang mengenai cinta kasih orang tua pada anaknya.

Diskusi seputar W juga kemudian membahas seputar pendekatan. Theo bercerita tentang awal mengontak Ibu Sumarsih dan perkembangan setelah beberapa bulan berinteraksi. Sampai akhirnya mulai memfilmkan dan berani menyampaikan pertanyaan demi pertanyaan yang disusunnya untuk bahan pembuatan film.

Baca juga: Catatan Penutup JAFF Movie Night 2.4

Tabir dan Wei: Saling Merespon

Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, Tabir dan Wei sama-sama mengangkat tentang orang-orang yang tertekan karena perbedaan. Kedua film seolah saling merespon, keduanya mengangkat karakter dengan demografi berbeda: karakter pendukung berupa seorang remaja non-muslim dalam Tabir, dan juga seorang ibu mualaf yang telah berkeluarga dan memiliki seorang anak dalam Wei.

Masuk sesi diskusi, para pembuat film memaparkan latar belakang dibuatnya film. Termasuk sedikit banyak latar belakang dan pengalaman hidup mereka sendiri yang kemudian menjadi sangat menarik ketika semua itu dikaitkan ke film yang dibuat.

Diskusi Gemar Film Pendek #7 (dok: Kineforum)

Difizckal selaku sutradara mengaku terinspirasi dari lingkungan tempatnya beraktivitas baik di Tangerang ataupun di Tanah Abang. Sementara dalam membuat Wei, Samuel mengaku melihat dari lingkungan keluarga besarnya sendiri. Ia melihat respon beberapa anggota keluarga ketika melihat ada salah satu anggota yang agak berbeda dari yang lain.

Baca juga: Catatan Mengikuti Gemar Film Pendek #4 & #5 : Melihat Sejarah dalam Realitas

Diskusi sempat terbawa perihal radikalisme agama dan dalam hal ini. Samuel yang pernah mengalami pendidikan di sekolah Katolik dan Dfizckal yang pernah bersekolah di sekolah Muhammadiyah turut membagikan hal yang mereka dapat dan tahu dari agama masing-masing. Beberapa diantaranya adalah potensi radikalisme di tiap agama dan bagaimana seruan dalam agama yang juga harus dibaca sesuai konteksnya.

Film-film dan diskusi dengan pembuatnya dalam Gemar Film Pendek #7 menunjukan bahwa pengalaman dan latar belakang yang berbeda bukan alasan untuk tidak dapat berempati kepada mereka yang ditinggalkan dan terpinggirkan. Tidak peduli perbedaan gender, umur, agama atau sebagainya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top