Festival Film Indonesia 2021
Pemutaran

Gemar Film Pendek #8: Suara dari Pinggir Kemerdekaan

Sumber: Instagram Boemboe Forum

Seperti bulan-bulan Agustus di setiap tahun, bangsa kita rutin memperingati hajatan akbar hari kemerdekaan. Memasuki tahun ke-73, Indonesia kini tampil dengan segala macam perkembangan di berbagai bidang. Meski begitu, tak lantas semuanya berjalan baik-baik saja. Ada sejumlah masalah yang telah lama mangkrak kemudian bertaut dengan masalah baru. Masalah-masalah itu pun berubah menjadi suara, yang meskipun telah bosan kita dengar, namun tetap mendesak untuk diselesaikan.

Membaca keadaan tersebut, Kineforum bulan Agustus hadir dengan tema besar “Hak Segala Bangsa”. Di mana tak kurang sepuluh film panjang, satu kompilasi film pedek (bekerjasama dengan Boemboe), dan satu sesi diskusi disuguhkan dalam program kali ini. Tulisan kali ini membahas seputar lima film dalam kompilasi bertajuk “Gemar Film Pendek #8” (29/8/2018).

Kompilasi Lima Film

Film pertama adalah Angka Jadi Suara (2017), film dokumenter pendek ini menyorot pelecehan seksual yang kerap terjadi di pabrik. Praktik pelecehan seksual yang terjadi berulang, membuat buruh perempuan meradang hingga menggalang suara.

Film kedua adalah Harry Van Jogja (2010), film dokumenter pendek seputar kehidupan seorang tukang becak di salah satu kawasan wisata di Yogyakarta, Prawirotaman. Pandangan-pandangan si tukang becak seputar masalah politik dan ekonomi membuat negara –yang mengkhawatirkan ini– menjadi kian mengkhawatirkan.

Film Ketiga adalah Harap Tenang Ada Ujian! (2006), film pendek arahan Ifa Isfansyah ini bercerita tentang gempa bumi yang melanda Yogyakarta tahun 2006. Ifa dengan baik mengemas duka dan kepolosan anak-anak menjadi komedi namun tetap berisi.

Film ketiga ialah Identitas (2017), film animasi pendek ini berkisah tentang ingatan seorang pemuda Aceh melewati masa kelam hidup di dearah konflik. Kuatnya gerakan separatis, membuat pengamanan di Aceh begitu ketat. Saking ketatnya membuat siapa saja merasa asing, bahkan di tanah kelahirannya sendiri. Animasi sederhana yang dipadu voice over ini sukses menggambarkan masa lalu sang tokoh yang menegangkan.

Baca juga: Catatan Diskusi: Kisah dari Negeri Tanpa Tentara

Film terakhir, sekaligus sebagai penutup adalah Klayaban (2005). Film pendek yang bercerita tentang kehidupan eksil Indonesia di salah satu negara Eropa. Kehidupan yang telah relatif tenang mendadak bergejolak ketika sejumlah orang datang. Ada yang ingin mengajak berdamai, ada yang mengorek luka lama. Sayangnya film ini tampak digarap dengan kurang matang. Namun termaafkan dengan pesan yang mendesak untuk disampaikan.

Tak Larut Dalam Kegembiraan Kemerdekaan

Sumber: Instagram Boemboe Forum

Kelima film di atas sejatinya tidak bercerita tentang heroisme dalam arti sempit. Tidak semua secara gamblang menghadirkan simbol-simbol nasionalisme sebagai suguhan utama. Tak ada upacara bendera, peperangan, maupun pekikan “merdeka atau mati”. Kelima film di atas memilih menghadirkan masalah-masalah yang biasa digunakan untuk menggugat status kemerdekaan Indonesia.

Disaat masyarakat secara umum bahagia, bersukacita memperingati jasa pahlawan atas kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Kelima film ini juga seolah hadir untuk membuat kita tak larut berlama-lama dalam kegembiraan itu.

Baca juga: Dua Film Pendek Bertema Buruh Menangi Penghargaan Utama dalam Viddsee Juree Awards Indonesia 2018

Angka Jadi Suara (2017) misalnya, menandakan kemerdekaan belum sepenuhnya dirasakan perempuan Indonesia, bahkan atas tubuhnya sendiri. Harry Van Jogja (2010), menandakan sudah saking gamblangnya praktik korupsi dilakukan, hingga tak begitu sulit bagi seorang tukang becak tidak hanya menyadarinya, namun mengkritiknya. Lalu Harap Tenang Ada Ujian! (2006), menjadi semacam refleksi menghadapi cobaan lain berbangsa seperti bencana alam.

Identitas (2017), menandakan betapa ada orang-orang yang rela merasakan sesak akibat diragukan identitasnya oleh saudaranya sendiri, namun tetap teguh dan setia. Dan yang terakhir, Klayaban (2005), menandakan betapa masih banyak luka bangsa ini akibat perbedaan pandangan politik. Mereka tidak hanya ada di dalam negeri, namun hidup di berbagai negara menahan sakit dan rindu.

Festival Film Indonesia 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top