Berita

Isu Tanah dan Hal-Hal Penting Lainnya di Europe On Screen 2019

Tanah, tempat kita berdiri, melangkah, mencari makan, dan melanjutkan hidup adalah makhluk yang menyimpan begitu banyak anugerah. Bukan ia yang musti disalahkan jika darinya timbul beragam bencana. Tanah menjadi hal yang kompleks dan sulit terkendali karena ulah manusia sendiri. Manusia menghasilkan kontaminan yang menjadi masalah utama polusi tanah berupa limbah, sampah maupun pestisida. Tidak selesai sampai di situ, tidak cukup memberinya beragam zat kimia, tanah masih dikotori pula oleh konflik lewat bermacam sengketa. Dan kita masih terkaget-kaget ketika ia marah dan melibas segala yang ada di tubuhnya.

Eropa dalam Layar

Betapa pentingnya isu tanah serta dampaknya ini menjadi salah satu sub-tema Europe on Screen (EoS) 2019. Sub-tema tersebut diberi nama #OurLand di mana beberapa film berkaitan dengan beragam masalah tanah diputar selama perhelatan festival dari 18 April hingga 30 April 2019. Ada 6 film dokumenter panjang dan 4 film dokumenter pendek yang bisa ditonton oleh para pengunjung festival untuk mempelajari isu-isu tersebut. Antara lain: Far. The Story of a Journey Across the World (Patrick Allgaier, Gwendolin Weisser) berkisah tentang dua pemuda asal Jerman yang berkelana hingga 100.000 kilometer menjelajahi tanah Eropa, Asia, Amerika Utara dan sebagainya; Giants and the Morning After (Per Bifrost, Malla Grapengiesser, Alexander Rynéus) tentang depopulasi di sebuah daerah kecil yang dikelilingi oleh pergunungan dan hutan di Swedia; The Lonely Battle of Thomas Reid (Feargal Ward) menunjukkan peliknya sengketa tanah antara seorang petani, perusahaan multinasional dan pemerintah; Makala (Emmanuel Gras) tentang seorang pria yang berjuang untuk menafkahi keluarganya; Untamed Romania (Tom Barton-Humphreys) menunjukkan ironisnya dua sisi Romania: alam yang magis namun rapuh; Welcome to Sodom (Christian Krönes, Florian Weigensamer) menampilkan kisah hidup ribuan anak-anak dan orang dewasa yang bekerja di pembuangan limbah elektronik. Serta film-film pendek yang bercerita tentang warisan keluarga, penambangan ilegal, konflik adat, hingga kebun binatang. Film-film tersebut memang tidak berlatar belakang Indonesia. Tapi bukankah di manapun – mengingat kita menginjak tanah yang sama –  isu-isu yang berkaitan dengan tanah seringkali sama?

Baca juga: Film-Film Eropa Berkualitas di Road to Europe on Screen 2019

Hal penting lainnya yang dibawa oleh EoS 2019 adalah retrospektif tentang warisan sebuah sekolah desain dan seni Jerman bertajuk #Bauhaus100. Bauhaus didirikan di Weimar tahun 1919 dan ditutup dengan paksa oleh Nazi pada tahun 1933. Walaupun cuma berusia 14 tahun, tapi banyak ide dan kreasinya yang dipakai sampai sekarang. Sub-tema ini akan dihiasi dengan pemutaran film dokumenter yang berjudul Bauhaus Spirit, serta pameran instalasi video Bauhaus tentang hasil karyanya beberapa dekade.

EoS 2019 juga menghadirkan retrospektif untuk sineas ternama Italia yang meninggal November tahun lalu: Bernardo Bertolucci. Sebagai salah satu legenda, ia telah membuat 24 film, memenangkan 2 Academy Awards dan Golden Lion serta Honorary Palme d’Or untuk pencapaiannya. EoS 2019 memutar 3 film Bertolucci yang sampai sekarang masih didiskusikan: The Conformist, The Dreamers dan The Last Emperor.

Program Lain dalam EoS 2019

Dan tentu saja seperti sebelumnya, di usianya yang ke-19 ini EoS kembali memutar film-film Eropa terbaru, baik fiksi dan non-fiksi, dimana tahun ini mencapai rekor dengan total film sebanyak 101 film! Tahun ini juga kembali diadakan EoS Short Film Pitching Project yang memilih 9 finalis dari 110 peserta, “Para finalis akan tampil di depan panel juri yang terdiri dari para profesional film. Panel juri kemudian akan memilih tiga proyek terbaik yang akan menerima pendanaan produksi parsial dari Europe on Screen,” kata Nauval Yazid, EoS Festival Co-Director di konferensi pers EoS 2019.

Dan tentunya masih ada program pendamping berupa Film Talks dengan pembicara-pembicara ternama dari industri perfilman Eropa. “… kami mengundang Amira Daoudi, seorang desainer poster film asal Belgia yang telah menang berbagai penghargaan. Kami undang beliau untuk berbagi keahliannya dalam membuat poster film yang efektif sebagai alat pemasaran. Kami juga mengundang pula Lina Flint, produser film pembuka kami The Guilty. Beliau akan berbagi pengalamannya dalam memproduksi film thriller yang cerdas dengan anggaran sederhana tetapi tetap membawa pengaruh besar pada penonton di seluruh dunia. Selain itu, ada juga Emil Nygaard Albertsen, penulis naskah The Guilty, yang akan hadir dalam sesi diskusi khusus tentang penulisan naskah yang siap untuk dijadikan film, jelas Meninaputri Wismurti, EOS Festival Co-Director.

Tonton Juga: Kulik-Kulik #6 – Europe on Screen 2019

Festival ini tentu sangat bermanfaat bagi kita, para penonton untuk mengenal tanah Uni Eropa dan isu-isu terhangat apa saja yang ada di dalamnya. Europe on Screen juga merupakan salah satu bentuk keberlangsungan kerja sama dua tanah yang dipisahkan oleh lautan: Indonesia dan Eropa yang sudah terjalin begitu lama. “Festival ini memupuk kerja sama antara industri kreatif Eropa dan Indonesia sebagai sektor ekonomi yang meningkat pesat. Sebagai contoh, kami menghadirkan beberapa pekerja film Eropa untuk bekerja sama dengan sineas muda Indonesia,” ujar Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Guérend.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top