Festival Film Indonesia 2021
Artikel

Film dan Kenangan: Catatan Jelang Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2020

Dalam analisanya untuk film “Wild Strawberries” karya Ingmar Bergman, Karpf, Kiesel dan Visarius (1998) mengungkapkan, ketika sang tokoh utama mengingat  masa lalunya, ia seperti sedang menonton film di bioskop. Dengan demikian, mereka menyimpulkan bahwa Ingmar Bergman menganggap ingatan seperti rangkaian adegan-adegan dalam film. Berdasarkan pernyataan di atas, atau tanpa hal itu sama sekali, sering kali ketika mengingat sesuatu, diri kita seperti orang yang sedang menonton diri sendiri berakting dalam sebuah film. Sementara Fluck (2003) menghubungkan film dengan counter-memory, yang menurut Lipsitz (1990), counter-memory merupakan cara mengingat dan melupakan yang berlangsung secara pribadi, dimulai secara khusus dan spesifik kemudian berkembang ke arah keseluruhan cerita. Terkadang film yang berada di tersimpan rapat di benak kita muncul dengan kebetulan pada film yang kita tonton. Sehingga film menjadi media yang sangat intim untuk mengenang, bersamaan dengan kenangan tokoh-tokoh dalam film tersebut.

Disengaja atau tidak, film-film yang akan ditayangkan dalam Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2020 mengangkat akan hal itu: tokoh-tokoh dengan kenangannya masing-masing dan secara tidak langsung mengajak penonton untuk kembali pada kenangan-kenangan. Dalam “Top End Wedding” karya sutradara Wayne Blair, seorang perempuan yang tengah mengejar karir, karena suatu kejadian, membuat ia teringat tentang kisah Ibunya dan bagaimana ia tidak pernah mengajak putrinya tersebut pulang ke tanah kelahirannya. Namun pada akhirnya Sang Ibu memutuskan untuk kembali ke “rumah”. Film perjalanan ini secara tidak langsung mengingatkan kita pada kampung halaman yang asri dan kerinduan pada orang-orang terkasih.

Hubungan dua manusia yang terhubung dengan sejarah keluarga dan sejarah sebuah negara dalam Top End Wedding yang ditayangkan dalam media screening FSAI 2020

“Angel Of Mine” karya Kim Farrant yang dibinangi oleh bintang-bintang terkenal seperti Noomi Rapace dan Luke Evans, mengisahkan seorang Ibu yang tidak bisa melupakan kenangan mendiang putrinya sehingga ia memunculkan imaji putrinya tersebut dalam diri orang lain. Sementara “The Babadook” karya Jennifer Kent, sebuah film horor yang dipuji oleh banyak kritikus menunjukkan bahwa sesuatu yang mengerikan seringkali lahir dari pengalaman-pengalaman yang buruk. Kedua film tersebut seolah mengungkapkan pada kita sisi buruk dari kenangan yang mengendalikan kehidupan seseorang.

Pengalaman masa lalu bercampur dengan harapan terkadang menimbulkan bayangan tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Hal itu digambarkan dalam sebuah film dokumenter berjudul “2040” karya Damon Gameau. Sementara kenangan juga bisa muncul dalam bentuk lain yang menemani kesehariannya, seperti yang dialami Gem Daniels  dalam film “Emu Runner”.

Tiap tahunnya FSAI juga menayangkan beberapa film yang sineasnya berhubungan dengan Australia. Hubungan tersebut bisa berupa Sang Sineas yang pernah tinggal atau belajar di Australia, kata Allister Cox, Kuasa Usaha Australia untuk Indonesia. Film-film Indonesia yang ditayangkan di FSAI 2020 antara lain “Bebas” dan “Kulari Ke Pantai” karya Riri Riza, serta “Susi Susanti – Love All” karya Sim F, dimana produser film-film tersebut, Mira Lesmana dan Daniel Mananta pernah merasakan pendidikan di Australia. Daniel Mananta sendiri didaulat menjadi Sahabat FSAI 2020. Dan menariknya, ketiga film tersebut juga mengajak kita, para penonton larut dalam kenangan.

Dalam film “Bebas” misalnya, para tokoh yang sebetulnya tidak bisa bebas dari keindahan masa-masa sekolah mengingatkan kita kembali seperti apa diri kita di sekolah dulu. “Susi Susanti – Love All” membawa kita kembali pada masa-masa kejayaan Bulu Tangkis Indonesia. Sementara film “Kulari Ke Pantai”, bukannya bermaksud menghubung-hubungkan, coba ingat kembali, bukankah kita pernah atau barangkali masih punya kerabat yang tidak sepaham, seperti hungan Sam dengan Happy?

Begitulah seringkali film bekerja. Apa yang dialami sang tokoh berkelindan dengan pengalaman-pengalaman masa lalu kita.

FSAI 2020 akan dilaksanakan dari tanggal 14 Februari 2020 hingga 29 Februari 2020 di 6 Kota Besar di Indonesia (Jakarta, Surabaya, Makassar, Mataram, Bandung dan Yogyakarta). Ini adalah obsesi kami untuk menayangkan film-film Australia di Kota-Kota Besar di Indonesia, ujar Allaster Cox. Semua penayangan film gratis! Tapi sebelumnya wajib mendaftar lewat link berikut:https://www.eventbrite.com.au/o/festival-sinema-australia-indonesia-12273348224

Selain pemutaran film, FSAI 2020 juga kembali menghadirkan sesi masterclass yang akan diisi oleh Daniel Mananta yang akan berbicaratentang produksi film dan Simon Wilmot dari Deakin University. Masterclass akan dilaksanakan pada tanggal 16 Februari 2020. Sementara tamu spesial lainnya, yakni Imogen Thomas (Sutradara “Emu Runner”) akan hadir dalam sesi diskusi setelah pemutaran film.

FSAI 2020 termasuk dalam rangkaian acara Australia Connect yang terlaksana sejak November 2019. Australia Connectjuga menjadi media untuk mengenang kekuatan dan dinamika kerjasama Australia – Indonesia yang telah terjalin selama 70 tahun.

Referensi: 

Fluck, Winfried. 2003. Film and Memory. Heidelberg: Universitätsverlag C. Winter.

Karpf, Ernst, Doron Kiesel, and Karsten Visarius. 1998. Once upon a time… Film und Gedächtnis dalam Film and Memory, yang ditulis oleh Winfried Fluck, 213.  Heidelberg: Universitätsverlag C. Winter.

Lipsitz, George. 1990. Time Passages: Collective Memory and American Popular Culture dalam Film and Memory, yang ditulis oleh Winfried Fluck, 225-226.  Heidelberg: Universitätsverlag C. Winter.

Festival Film Indonesia 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top