Festival Cinema Prancis 2021Jakarta Film Week 2021
Wawancara

Jerry Hadiprojo, dalam Upaya Membumikan Film

Tulisan merupakan bagian dari program apprenticeship Infoscreening

Sulit untuk melupakan film pendek One of Those Murder yang beberapa waktu lalu diputar di IFI Jakarta dalam rangkaian Gemar Film Pendek #16, Sabtu (7/12). Sebagai film terakhir yang ditayangkan setelah  tiga film pendek sebelumnya—On The Origin of Fear, Maryam, dan Kado, One of Those Murder ibarat pukulan telak yang relate dengan kehidupan di era teknologi saat ini.

Tentang kegemaran baru masyarakat sekarang yang memviralkan kemalangan orang demi viewers di sosial media. “Kenapa saya bikin film One of Those Murder berangkat dari kegelisahan karena menurut saya orang-orang zaman sekarang makin enggak peduli, yang penting videonya jadi viral aja!” kata Jerry.

Kita sendiri pasti ngeh dengan kegelisahan Jerry dan pernah mengalami hal yang sama, saat tiba-tiba di grup WhatsApp dapat kiriman video orang digebukinlah, video anak makan sabun, orang kecelakaan. Mulai dari yang lucu-lucu sampai hal-hal sadis, yang kalau dipikir-pikir ngapain direkam, seharusnya dibantu!

Obrolan real, membumi ini menjadi pembuka perbincangan saya dan Jerry. Di sebuah kafe di bilangan Setiabudi, dengan aroma kopi yang digiling, musik Natal yang diputar, percakapan ini dimulai.

Sejak kapan suka bikin film?

Kalau ditanya sejak kapan suka bikin film, itu cerita yang panjang ya. Aku suka bikin film sejak SMA, trigger-nya itu Ada Apa Dengan Cinta. Sejak dari situ pengin banget jadi sutradara dan mulai bikin film dengan teman-teman.

Aku dan teman-teman SMA bahkan pernah bikin film dengan durasi 80 menit yang kalau dipikir-pikir sekarang, niat banget anak SMA bikin film dengan durasi segitu. Ketika mau masuk kuliah, maunya sih kuliah film, tapi orang tua enggak ngasih, dan aku nggak cukup rebel,  jadinya aku kuliah Sistem Informatika.

Dan namanya juga enggak dari hati ya, jadinya aku baru ngeh kalau Sistem Informatika itu belajar tentang apa di semester tiga. Lulus pun dengan IPK yang cukuplah, pokoknya lumayanlah kalau untuk ngelamar kerja.

Selama kuliah juga aku masih suka bikin film, dan lulus ngepas banget empat tahun. Dan begitu lulus aku sudah bertekad enggak mau kerja di bidang Sistem Informatika. Tamat, kuliah enggak langsung kerja sempat magang kerja sama seorang produser tantenya teman. Kemudian dapat kesempatan short course film selama tiga bulan di Digital Studio College.

Baca juga: Shalahuddin Siregar: Nila Setitik Tidak Seharusnya Merusak Susu Sebelanga

Itu pun ceritanya cukup unik, teman aku menang kompetisi desain dan dapat voucher untuk short course film, tapi dia enggak mau ambil. Dan karena dia tahu aku suka film, dia kasih ke aku.

Selama tiga bulan itu aku belajar macem-macem, ngedirect, megang kamera, bikin skenario, tapi ya sudah berhenti di situ. Dari situ aku kerja di Provoke Magazine dan menangani Provoke online, mulai bikin-bikin video. Di masa itu internet belum sekencang sekarang, masih pendukunglah untuk print out-nya.

Di Provoke aku ngonsepin video, kami bikin video-video tips dan komedi, cukup spesial ketika itu. Resign dari Provoke aku gabung di malesbanget.com, dan semakin terekspos dengan filmmaking. Aku belajar banyak banget di sana, karena di malesbanget.com aku bikin web series. Temanya masih lucu-lucuan dan cukup mendapat atensi ketika itu. Salah satu parodi yang viewers-nya oke itu Telemakita dengan karakter Boy Surya, plesetan dari Roy Suryo.

Kemudian pindah kerja lagi di kompas.com dan jadi manajer video di Pijaru. Dan di 2016 film animasi yang kami bikin memenangkan FFI untuk kategori Film Pendek Animasi (Pendek) Terbaik, judulnya Surat untuk Jakarta. Di tahun depannya kami bikin lagi judulnya Mudik, enggak menang tapi masuk nominasi untuk FFI 2017.

Akhirnya sampai 2018 dan sekarang saya kerja di Kaskus, irisan pekerjaan aku masih bersinggungan dengan film, tapi enggak total. Makanya aku kepikiran untuk menyeriusi sampai akhirnya membuat One of Those Murder.

Menyeriusi maksudnya seperti apa?

Di April 2018, aku sampai pada titik di mana aku harus punya ruang sendiri untuk menyampaikan karya-karya yang enggak tersampaikan di pekerjaan. Makanya di akhir September 2018 aku membentuk Gambar Gerak, perusahaan yang dibikin untuk membuat film. Ini untuk memberi tekanan ke diri sendiri supaya bikin film yang serius dan enggak iseng-isengan doang. Barulah di Januari 2019 syuting One of Those Murder yang ceritanya sudah aku bikin setahun sebelumnya di awal 2018.

Jeda setahun dari penulisan skenario sampai syuting, ada perubahan enggak?

Perubahannya minor kok. Cuma hasil akhirnya enggak terlalu setia dengan struktur awal. Kalau rencana awal, aku bikin mayatnya dikasih lihat full, tapi akhirnya mayat dikasih lihat full pas di ending film, untuk menguatkan pesan.

Pemeran One of Those Murder adalah Yudhi Arfani dan Getar Jagatraya, bagaimana bisa memilih keduanya?

Yudhi dan Getar itu teman kerja , kalau Yudhi teman kerja dari zaman Provoke sampai sekarang. Kalau Getar pas kerja di Pijaru. Ketika membayangkan karakter dalam naskah One of Those Murder langsung teringat Yudhi dan Getar. Soalnya mereka kalau ngobrol memang nyablak jadinya cocok banget dengan dua karakter dalam film aku.

Ada pengarahan tertentu atau improvisasi dari pemain?

Kalau arahan sih, pada dasarnya aku cuma bilang, “Eh gue mau lo ngomong kayak biasa aja seperti kalau lagi ngobrol,” dan mereka setia dengan script sih hanya improvisasi dari segi penyampaian saja. Cuma butuh 2-3 kali reading sudah langsung jadi.

Setelah One of Those Murder sudah buat film baru lagi?

Sudah mulai syuting film baru judulnya sampai sekarang Lamaran, mungkin mau diubah, tapi sampai saat ini masih Lamaran. Rencananya bulan Desemberi ini sudah kelar karena ngejar mau dikirim ke Hong kong Film Festival.

Lamaran bercerita tentang apa?

Tentang sebuah acara lamaran yang kemudian menyembunyikan rahasia gelap di belakangnya. Inspirasi temanya sih tetap datang dari hal-hal yang sering terjadi dan masih terjadi di Indonesia. Ketidaksetaraan gender. Aku banyak ngobrol dengan istri dan teman-teman. Dan isu ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan masih sering terjadi. Laki-laki dan perempuan enggak mendapatkan hak yang sama. Ada hal-hal yang kalau dilakukan oleh laki-laki enggak masalah tapi kalau dilakukan perempuan jadi salah.

Di sesi diskusi di IFI lalu Anda sempat menyinggung soal tema film yang membumi…

Membumi maksudnya tema-tema domestik yang di Indonesia dan kejadian sehari-hari sering, ada dan beneran kita lihat. Jadi bukan cerita yang mengada-ada. Aku mau bikin film yang membuat orang berkomentar, “Oh gue actually punya temen kayak gini.” Sesuatu yang relate dengan kehidupan kita dan enggak dilupakan begitu selesai nonton. Sesuatu yang memberikan perenunganlah.

Apakah untuk membuat film yang keren itu butuh kolaborator keren juga?

Kalau menurut aku kolaborator keren itu yang punya satu visi. Bikin film itu ibarat menjalankan perusahaan, kalau krunya enggak satu visi gimana mau jalan? Kolaborator keren itu enggak perlu berpengalaman atau lebih senior. Sama-sama mau mendengarkan dan didengarkan demi mendapatkan tujuan yang sudah ditentukan, itu yang lebih penting.

 

Buat Anda yang tertarik menonton One of Those Murder, film pendek ini akan diputar di acara Pernik Klenik & FFI Selected Shorts, 14-25 Desember di Pavilliun 28  jam 15.00 WIB.

Festival Cinema Prancis 2021Jakarta Film Week 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top