Festival

Kampung MacArthur Perkaya Dokumenter Sejarah Indonesia

“Juli 1944 pasukan sekutu di bawah Jendral Douglas MacArthur tiba di sebuah dusun bernama Werur di Nuigini Belanda. Di situ ia membangun lapangan terbang untuk merebut Philipina dari Jepang. Setelah perang berakhir, tentara sekutu meninggalkan banyak benda dan peralatan perang yang ditemukan oleh penduduk dusun. Selama satu dekade terakhir, lapangan terbang dan benda-benda tersebut mulai dijual dan dihancurkan.”

Demikian sinopsis yang tertulis dalam katalog PostFest, sebuah festival yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Pada hari Jumat (03/08) saya berkesempatan menyaksikan #EastIndonesian2 di Kineforum dan dilanjutkan diskusi dengan produser salah satu film Kampung MacArthur (2018), Andrianus “Oetjoe”.

KEBERADAAN FILM SEJARAH DI INDONESIA

Menilik balik tahun 1982, ada sebuah film dokumenter berjudul Serangan Fajar (dir. Arifin C. Noer) yang menceritakan tiga bagian drama sejarah Indonesia pada tahun 1945. Dua tahun setelahnya, lahirlah film serupa berbentuk dokudrama, Pengkhianatan G30S PKI (1984) yang disutradarai oleh orang yang sama. Kedua film tersebut terbukti menorehkan jejak pada Festival Film Indonesia di tahun yang sama –saat film tersebut diproduksi.

Sederet film bertemakan sejarah mulai menghiasi perfilman Indonesia, sebut saja Djakarta 1966 (1988, dir. Arifin C. Noer); Tjoet Nja Dhien (1989, dir. Eros Djarot); Sang Pencerah (2010, dir. Hanung Bramantyo); maupun Trilogi Merdeka (2011, dir. Yadi Sugandi dan Conor Allyn). Meskipun keberadaannya lebih dikategorikan sebagai film perjuangan Indonesia, film yang menceritakan sejarah suatu tempat di Indonesia masih terhitung sedikit.

KEMUNCULAN FILM DOKUMENTER

Kita sempat diperkenalkan oleh Jay Subiakto perihal film terbarunya yang berjudul Banda the Dark Forgotten Trail (2017). Film tersebut berkisah mengenai Kepulauan Banda yang diperebutkan karena menjadi satu-satunya tempat penghasil buah pala. Mundur ke tahun-tahun sebelumnya, kita juga sempat menyaksikan Nokas (2016), film dokumenter yang mengupas tradisi pernikahan di Kupang, hingga akhirnya film tersebut masuk dalam kompetisi program Screen Awards Singapore International Film Festival 2016.

Baca juga: Minikino Boyong Film Pendek Indonesia ke Jaringan Kerja Asia Tenggara

Digdaya ing Bebaya (2015), film dokumenter tentang penduduk kampung Glagaharjo yang menolak dipindah dari tempat tinggal mereka pasca erupsi Merapi tahun 2010, juga berhasil menyabet juara sebagai Film Dokumenter terbaik pilihan Indonesian Motion Picture Association (IMPAS), XXI Short Film Festival 2015. Kehadiran film dokumenter secara subjektif dianggap mampu menyampaikan realita meskipun tentu saja dalam proses pembuatannya, film dokumenter juga menampilkan respon emosional dari pembuat film.

KETERTARIKAN ANDRIANUS “OETJOE” PADA SEJARAH

“Kita mau testing seberapa apresiasi dan respon, sekaligus mempromosikan kampung Werur. Battle field ketika Mac Arthur ingin merebut Filipina. Sejarah itu objektif, film ini mencoba untuk sangat subjektif untuk merekonstruksi sejarah yang ada di situ,” ujar Oetjoe.

Ini merupakan kali pertama Oetjoe bekerja bersama Danny Mambrasar dalam pembuatan film. Sebelumnya, ia pernah menyutradarai salah satu film dalam proyek 5 Islands 5 Villages, Der Grenzgang (2017). Oetjoe juga sempat menyutradarai Respite (2018) yang ditayangkan  perdana di Goethe-Institut (17/07). Film ini mengisahkan dua orang pemuda Afghanistan, Mostafa dan Yama, pengungsi dari Afghanistan yang tidak dapat tinggal selamanya di Indonesia karena tidak kunjung menandatangani Konvensi Pengungsi 1951 PBB.

Baca juga: PostFest 2018 : Menghadirkan Wajah-Wajah Dunia Timur Melalui Sinema

Ketika Oetjoe ditanya alasan mengapa bersedia bekerja bersama Danny, ia menjawab singkat, “Kalau saya menyukai pribadi, karena Danny seorang penari jadi ketika ia berada di belakang kamera, sangat menentukan sekali pergerakan kameranya. Danny bisa organis dengan kameranya.”

POSTFEST DAN SINEMA TIMUR

PostFest merupakan festival tahunan yang diselenggarakan oleh Program Pasca Sarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ) sebagai ruang kolaboratif bagi masyarakat untuk membicarakan permasalahan-permasalahan urban.  Program-program yang disajikan oleh PostFest berusaha melibatkan komunitas maupun  pelaku seni dengan berbagai latar bidang seni. Festival yang diselenggarakan sejak 21 Juli lalu ini bertempat di kompleks Taman Ismail Marzuki dengan menggunakan beberapa lokasi yang berbeda.

Untuk kategori film (PostFest Screen), terdapat delapan slot pemutaran film dengan menampilkan film-film berlatar Indonesia Timur dan dunia bagian Timur (Palestina, Irak, Syria dan Afghanistan).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top