Pemutaran

Kineforum dalam Bulan Film Nasional: Catatan Baik Film Indonesia

Tulisan ini dibuat dalam rangka keikutsertaan Program Open Call: Mengalami Kineforum yang diinisiasi oleh Infoscreening.

Bulan ini, merupakan bulan penting bagi perfilman nasional. Setidaknya begitulah sejak ditetapkannya 30 Maret sebagai hari film nasional, mengacu pada hari pertama pengambilan gambar film Darah dan Doa karya Usmar Ismail. Seperti bulan Maret ditahun-tahun sebelumnya, perayaan bulan film nasional selalu dimeriahkan dengan berbagai pemutaran. Kali ini Kineforum bekerjasama dengan Kinosaurus sebagai dua ruang pemutaran alternatif di Jakarta, hadir dengan pemutaran film-film pilihan terbaiknya. Bertemakan “Sejarah adalah Sekarang ke-9”, total ada 20 film panjang, 2 kompilasi film pendek dan 2 sesi diskusi yang akan dipersembahkan bulan ini.

Infoscreening yang merupakan official media partner pun berkesempatan mengikuti beberapa program yang disajikan Kineforum. Berikut ini merupakan ulasan saya menonton tiga film berjudul Tengkorak, Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran,  Bid’ah Cinta dan mengikuti satu diskusi dengan bahasan “Film Indonesia Mencatat”.

Malam itu 9 Maret, Kineforum yang terletak satu kompleks dengan Taman Ismail Marzuki, sudah ramai oleh para calon penonton. Mereka yang datang merupakan yang diundang secara khusus untuk menonton film pembuka berjudul Tengkorak. Saya pun merupakan bagian dari mereka yang tak sabar menonton film ini, yang dari kabar yang beredar mengusung genre Sci-fi.

Film Tengkorak secara singkat bercerita mengenai adanya temuan tengkorak manusia beserta kerangkanya setinggi 1.700 meter pasca gempa 2006 di Yogyakarta. Temuan itu sontak menggegerkan dunia, digambarkan bahwa terjadi kekacauan dimana-mana. Banyak orang berdebat soal temuan itu, mulai dari rakyat biasa, sejarawan, ilmuan, agamawan hingga pada tingkat Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Tak sedikit pula yang tak tahan dengan keadaan ini hingga menjadi stres. Negara-negara maju berlomba mengintervensi pemerintah Indonesia untuk ambil bagian dalam penemuan tengkorak itu. Alih-alih berjalan lancar, justru konflik yang malah didapat.

Sebelum menilai lebih jauh, rasanya penting untuk diketahui bahwa film ini bukan lahir dari keinginan ambisius seorang produser tajir, atau sebuah proyek kolaborasi dengan rumah produksi Hollywood. Film ini lahir dari seorang dosen sebuah kampus di Yogyakarta, dengan kru didominasi oleh para mahasiswanya sendiri, yang bukanlah mahasiswa jurusan film. Berbekal dana seadanya, film ini akhirnya berhasil rampung setelah kurang lebih tiga tahun masa produksi. Maka tak heran sang sutradara dan para kru kerap kali menggaungkan tagar #filmnekatjogja pada setiap publikasinya.

Beberapa hari setelahnya atau 12 Maret, film selanjutnya yang saya berkesempatan  tonton adalah Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran (Mobil Bekas) karya sutradara Ismail Basbeth. Film ini berisi kumpulan segmen cerita mengikuti sebuah mobil bekas dan kisah-kisah yang menyertainya. Apabila Tengkorak memilih genre yang masih terbilang jarang, dalam konteks film Indonesia. Mobil bekas, lebih menonjol pada metode produksi dan bentuk filmnya. Sudah mafhum di benak penonton film alternatif, bahwa film-film arthouse memiliki cara tersendiri untuk dinikmati dan diapresiasi, begitu juga film garapan Basbeth ini. Berdasar keterangan sang sutradara yang sempat hadir dalam sesi diskusi, film ini digarap tanpa skenario tertulis. Setelah dijelaskan mengenai garis besarnya, film ini dikerjakan dengan lebih banyak memanfaatkan respon pemeran terhadap situasi maupun lawan mainnya. Tentu metode seperti ini belum lazim digunakan pada film Indonesia.

Ismail Basbeth dalam diskusi Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran. (foto: Ridho Nugroho/Infoscreening)

Film ketiga yang sempat saya tonton adalah Bid’ah Cinta. Film garapan sutradara Nurman Hakim ini tergolong film “baik-baik ”, berbeda dengan dua film yang saya tonton sebelumnya. Karena memang secara target film ini ditujukan untuk kalangan yang lebih luas, sehingga ditayangkan di bioskop nasional. Meski tergolong film arus utama, baik isu dan cerita dalam film ini tetap menarik untuk dibahas. Bid’ah Cinta mencoba mengangkat dua kutub berbeda dalam tubuh Islam, yaitu mereka yang konservatif dan mereka yang moderat. Keduanya dalam film ini diperlihatkan memiliki haluan yang berbeda baik secara pemahaman agama maupun praktik beragama.

Dalam Bid’ah Cinta kita tidak menemuka formula yang baru dan rumit dari segi bentuk film. Semua cenderung gamblang disampaikan. Namun sisi menarik dari film ini adalah upaya Nurman mencoba menyegarkan ingatan kita pada masalah yang masih populer di tubuh Islam hingga saat ini. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa gesekan ideologi dalam tubuh Islam telah terjadi bahkan sejak masa sebelum kemerdekaan Indonesia. Dan kalau mau ditarik rentang waktu maupun cakupan wilayahnya, akan lebih banyak lagi ditemukan masalah seperti ini. Namun nyatanya, masalah seperti perdebatan seputar halal haram menyatakan selamat natal masih saja kita temukan sampai saat ini.

Kedua film yang saya ulas diawal memang lebih banyak berbicara soal proses penggarapannya. Selain penting untuk diketahui, alasan lainnya adalah saya belum sepenuhnya menangkap maksud dari film Mobil Bekas. Tidak lazimnya metode yang digunakan, turut menghasilkan film yang secara narasi juga tak lazim. Sehingga rasanya tak berlebihan kalau saya menduga tak banyak yang paham mengenai film ini. Meski demikian, begitulah keunikan film-film alternatif. Menurutmu kenapa Tengkorak terpilih menjadi official selection di Cineque Film & VR Festival di Amerika? Lalu kenapa Mobil Bekas berkesempatan berkompetisi di Busan International Film Festival, Korea?

Bagaimana pun Tengkorak dan Mobil Bekas, patut dicatat sebagai bagian dari perkembangan sinema Indonesia. Segala temuan-temaun yang telah dilakukan –  terlepas dari masih banyaknya kekurangan, tetap menjadi penting karena dari situlah dinamika film berasal. Kedua film ini memang tak seperti film-film lain yang riuh, dibicarakan publik nasional atau akan dicatat dalam statistik film terlaris Indonesia. Akan tetapi, dari kedua film ini seolah memunculkan semangat dan tantangan kepada para pembuat film,untuk lebih berani menjelajah bentuk-bentuk lain dalam film.

Sedangkan untuk Bid’ah Cinta, kita tetap perlu merasa senang karena masih ada produser dan sutradara yang mau mengambil langkah berani memproduksi film religi yang tidak melulu menghadirkan gelap terang. Meski sempat mendapat tentangan dari sejumlah pihak, dan tidak mendapat jumlah penonton yang fantastis, Bid’ah Cinta merupakan autokritik terhadap umat Islam. Sebuah film yang secara bentuk biasa, namun tingkat relevansi isunya sangat tinggi. Apalagi melihat umat Islam saat ini yang menunjukan kecenderungan tidakmenyenangkan, yaitu anti kritik.

Di sela-sela menonton ketiga film diatas, saya juga berkesempatan menghadiri diskusi khusus dengan bahasan “Film Indonesia Mencatat”. Sebuah tema menarik, ditengah-tengah minimnya budaya literasi sinema. Turut hadir sebagai pembicara Ifan A. Ismail selaku koordinator program Kineforum, Alexander Matius selaku juru program Kinosaurus, dan yang bertindak sebagai penanggap Katinka Van Heeren, peneliti film Asia Tenggara. Diskusi berjalan menyenangkan setelah mendengar masing-masing programer memaparkan alasan dibalik bentuk program yang dihadirkan pada bulan ini. Salah satu poin menarik dalam diskusi kali ini adalah adanya perubahan-perubahan – yang disebut Ifan Ismail terjadi secara lebut, pada film-film Indonesia dari dulu ke masa kini. Beberapa isu sosial yang dulunya biasa saja untuk dibahas, saat ini entah mengapa menjadi begitu sensitif dan begitu pun sebaliknya.Misalnya saja menurut pembacaan Alexander Matius,bahwa ada pergeseran bentuk film-film horror kita. Semisal saat ini mulai muncul film-film horror yang lebih lebar lagi mengeksplor ketakutan. Bukan melulu hantu sebagai sumber ketakutan, namun manusia pun dapat menjadi sumber ketakutan. Seperti di film Rumah Dara dan Kado Hari Jadi.

Pembacaan menarik pun diutarakan Ifan Ismail, misalnya saja soal keluarga. Film-film dulu, keluarga seringkali digambarkan begitu riuh/ramai. Bahkantak jarang menjadi sumber konflik, seperti dalam Pacar Ketinggalan Kereta dan Ranjang Pengantin. Namun saat ini – setelah tahun 2000,seperti ada pergeseran, semacam ada kerinduan pada keluarga. Hal itu dapat dilihat dalamThe Photograph, Banyu Biru, termasuk yang mungkin teranyar Posesif. Anggota keluarga jamak ditampilkan tak lengkap, namun mereka masih berusaha untuk mencari. Dan makin kesini, kita makin wajar melihat hal itu, single parent misalnya.

Dari program Kineforum bulan ini, kita patut berprasangka baik, bahwa film Indonesia tengah berada di jalur yang benar. Dan sayang sekali rasanya apabila capaian-capaian baik itu berlalu begitu saja. Oleh karena itu, usaha pencatatan merupakan bagian yang tak kalah penting dibanding membuat, menonton atau mendiskusikan film itu sendiri. Semoga dibulan film selanjutnya semakin banyak catatan-catatan menarik dari film Indonesia. Selamat bulan film nasional semua.

Baca tulisan Ridho Nugroho lainnya atau hasil submisi Program Menulis Mengalami Kineforum.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top