Festival Cinema Prancis 2021Jakarta Film Week 2021
Artikel

Merobohkan Stigma Dengan Memutar Film: Laporan Khusus Hari Kesehatan Jiwa Oktober 2017

Bulan Oktober biasanya lebih diingat sebagai bulannya teror makhluk halus melalui Halloween. Padahal bentuk teror yang lain yaitu kesehatan jiwa juga mulai digugah kesadaran akannya melalui Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (World Mental Health Day) yang diperingati setiap 10 Oktober.

Dengan maraknya berbagai kasus bunuh diri selebritas internasional yang diduga dipicu depresi, perhatian masyarakat akan masalah kesehatan mental pun semakin meluas. Urgensi untuk menggugah kesadaran terkait kesehatan jiwa sendiri menjadi semakin tinggi. Berbagai elemen masyarakat di penjuru dunia mulai melakukan kampanye baik offline dan online untuk meningkatkan kesadaran tentang risiko kesehatan jiwa yang semakin banyak memakan korban.

Pemutaran Film Seputar Kesehatan Jiwa oleh Berbagai Kelompok

Film menjadi salah satu media yang sesuai untuk semakin menggugah kesadaran tentang kesehatan jiwa. Terpantau beberapa pegiat film melalui wahana yang mereka kelola baik bioskop alternatif atau pun kolektif menyelenggarakan pemutaran seperti “Sayang, Sayangilah Jiwamu” yang diselenggarakan di Kineforum oleh Kolektif Sayang Jiwa, juga program pemutaran oleh ruang pemutara Kinosaurus. Tidak hanya pegiat film, kolektif non-film juga ikut menyelenggarakan pemutaran seputar kesehatan jiwa, misalnya seperti yang dilakukan kelompok mahasiswa strata satu Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) ITB yang menyelenggarakan Mental Health Movie Day.

Dijelaskan oleh salah satu pemrakarsa program festival Sayang, Sayangilah Jiwamu, Mikael Johani, inisiasi atas festival ini terdorong oleh alasan personal di mana istrinya Anya Rompas tahun 2015 terdiagnosa bipolar.

“..cerita ke orang lain, karena istri gue cukup terbuka dengan keadaannya, banyak yang gak ngerti atau males diajak ngomong. Tapi on the other hand banyak juga orang yang setelah mendengar cerita istri gue, mereka malah came out cerita: ‘gue juga kayanya punya temen atau saudara punya gangguan kejiwaan’ atau mereka sendiri juga mengalami gangguan kejiwaan dan membutuhkan bantuan dan mereka nanya ‘gue harus ngapain? Harus gimana?’ kita jadi kepikiran gue sama orang lain ada Mandy Marahimin, Amalia Sekarjati, istri gue sendiri Anya Rompas sama Eric Sasono dan Waraney Herald Rawung ‘kita bikin yuk festival kecil-kecilan yang bisa kasih safe space buat orang untuk dateng belajar lebih banyak tentang isu-isu mental ilness di Indonesia, di Jakarta dan mereka juga bisa curhat bisa ngomong tentang keadaan mereka sendiri, raising awareness lah’ intinya begitu” jelas Mikael.

Menghadirkan diskusi dan fasilitas lainnya

Sayang, Sayangilah Jiwamu memutarkan film-film panjang sineas Indonesia seputar kesehatan jiwa seperti At The Very Bottom of Everything, SAIA, hUSh, dan Pintu Terlarang. Festival ini juga menghadirkan diskusi bersama pakar, pemerhati dan penyitas kesehatan jiwa usai pemutaran kompilasi dua film pendek mengenai penanganan disabilitas mental di Indonesia yaitu “Heaven for Insanity” dan “Breaking the Chains”. Di tahun pertamanya, Sayang, Sayangilah Jiwamu mendapat sukarelawan psikolog yang stand by datang di setiap screening untuk mengantisipasi bila ada penonton yang terpicu kondisinya saat menonton film. Selanjutnya harapan Mikael festival ini dapat menyediakan fasilitas yang lebih lengkap misalnya ruangan yang dapat dipakai pengunjung untuk menenangkan diri sejenak bila ada hal-hal yang membuat gelisah saat menonton, juga ruang di mana pengunjung dapat konseling secara privat. “Jadi kita pengen bikin yang sama tapi yang lebih besar dan lebih lengkap fasilitasnya” ujar Mikael Johani yang memproyeksikan agar festival ini dapat hadir tiap tahun.

Lain lagi bagi satu kelompok kerja mahasiswa SBM ITB yang menjalankan Mental Health Movie Day. Untuk pemenuhan nilai mata kuliah Performance Art dan Introduction to Business, mereka diminta membuat suatu proyek mahasiswa yang dirasa urgen dengan kondisi saat ini. Almira dari bagian publikasi menjelaskan bahwa salah satu anggota kelompok ada yang memiliki perhatian terkait dengan kesehatan jiwa.

Melalui riset, inisiator mereka Amanda telah menemukan bahwa meningkatkan kesadaran akan kesehatan jiwa melalui pemutaran film merupakan hal yang cukup efektif. Maka dari itu diputarlah film yang sesuai dengan perhatian proyek mereka yaitu mental disorder jenis schizophrenia. Acara ini juga menghadirkan diskusi dengan pakar dengan didukung oleh Indonesia Mental Health Care Foundation.

Kegiatan pemutaran dengan tema spesifik seperti ini ditanggapi positif oleh penonton pemutaran alternatif seperti Iman Kurniadi.  Bagi Iman yang selama beberapa hari mengunjungi festival Sayang, Sayangilah Jiwamu, festival ini merupakan upaya kreatif mengkampayekan kesadaran seputar kesehatan jiwa. Menurut Iman yang merupakan lulusan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair), masih banyak ditemukan sikap dan penilaian masyarakat awam terhadap para penderita gangguan mental, bahkan, tidak jarang diskriminasi ditemukan dnegan sikap-sikap yang sangat tidak humanis. Seperti, pemasungan, perundungan, dan lain sebagainya. Lanjut Iman, Sayang, Sayangilah Jiwamu tidak mencoba mengajari, namun mencoba menumbuhkan pengertian bahwa orang-orang dengan gangguan mental adalah masih manusia dan juga membutuhkan dukungan, jelas Iman yang sehari-hari bekerja di bagian Sumber Daya Manusia sebuah perusahaan swasta, dan tahun ini menjadi juru program 6th Psychology Film Festival yang merupakan bagian dari Psychofest oleh Fakultas Psikologi Unair yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat.

Mengenai program pemutaran atau pun festival film yang khusus membahas seputar psikologi atau masalah kejiwaan, Iman sendiri menilai bahwa film festival yang mengusung tema psikologi akan sangat menarik diselenggarakan, namun tidak mudah untuk mengkurasi atau memilih film sesuai dengan tema. Akan sangat disayangkan jika film festival psikologi ini hanya sekedar menonton film, akan lebih memberikan nilai plus jika ada kajian-kajian yang berhubungan dengan psikologi. Kajian tersebut bisa berupa diskusi atau talkshow. Lanjut Iman melengkapi.

Bersambung..

Festival Cinema Prancis 2021Jakarta Film Week 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top