Artikel

Laut Bercerita (The Sea Speaks His Name): Bangkitkan Kenangan melalui Tragedi 1998

Memvisualisasikan novel ke dalam layar merupakan tantangan tersendiri bagi para pembuat film, selain karena harus memilah-milah bagian mana saja yang akan divisualisasikan, mereka pun juga harus memikul beban imajinasi para penikmat novelnya. Hal ini dirasakan oleh Pritagita Arianegara selaku sutradara Laut Bercerita dan Wisnu Darmawan, produser film. Prita mengaku ia ingin mengemas kisah Laut Bercerita secara sederhana dan tantangannya adalah bagaimana ia bisa menuangkan apa yang ada di naskah film menjadi sebuah visualisasi yang utuh dan terasa nyata bagi penontonnya.

“Ini merupakan salah satu bentuk yang baru. Untuk proses pembuatannya, Mbak Leila sudah mengirim ke kami beberapa draft awal sebelum menjadi buku. Sempat diskusi, apa yang akan kami lakukan untuk peluncuran bukunya dan terpikir untuk film pendek. Menghabiskan waktu tiga hari untuk syuting dan dari pemain filmnya sendiri dilakukan dengan tidak dibayar alias probono.” Ujar Wisnu Darmawan.

Adalah Biru Laut (Reza Rahadian), seorang aktivis kampus bersama keempat kawannya yaitu Alex Perazon (Tanta Ginting),SunuDyantoro (Haydar Saliszh), dan Naratama (Ade Firman Hakim) terkungkung di sebuah sel penjara bawah tanah secara terpisah. Keempatnya berbalut darah dan luka lebam di sekujur tubuhnya. Melalui narasi yang dibacakan oleh Reza Rahadian sebagai pembuka film, penonton dipaksa untuk melihat adegan demi adegan penyiksaan yang melibatkan empat orang tersebut. Keberadaan Biru Laut di sel penjara menjadi tanda tanya besar bagi keluarganya dan Ratih Anjani (Dian Sastrowardoyo), kekasih Biru Laut. Terdapat adegan memilukan dimana Biru Laut menelepon ayahnya (Tio Pakusadewo) yang saat itu sedang bersama dengan aparat kepolisian. Penyorotan ekspresi dan mimik wajah para pemain film jelas tereksekusi dengan rapi dan intens oleh Pritagita.

Melalui Gramedia Writers and Readers Forum (08/04), Laut Bercerita ditayangkan di Perpustakaan Nasional RI. Dihadiri oleh Leila S. Chudori (penulis novel Laut Bercerita), Pritagita Arianegara (sutradara), Wisnu Darmawan (produser & perwakilan Dian Sastrowardoyo Foundation), dan Paian Siahaan (ayah Ucok M. Siahaan, salah satu korban penghilangan paksa). Pemutaran Laut Bercerita dan book-signing menjadi salah satu dari sembilan acara yang digelar pada hari itu.

“Saya sangat berterima kasih sekali kepada penulis maupun sutradara film ini yang telah menggambarkannya dengan visual sekali. Itulah yang benar-benar terjadi pada kami selaku korban.” ujar Paian Siahaan.

Film berdurasi tiga puluh menit ini ditulis sendiri oleh Leila setelah sebelumnya menulis naskah film pendek Drupadi (Miles Films) dan serial televisi Dunia Tanpa Koma (Sinemart). Sebelumnya, film ini telah diputar di berbagai tempat bersamaan dengan peluncuran novelnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top