Festival Film Indonesia 2021
Artikel

Layar Terkembang: Ruang Apresiasi dan Distribusi Pengetahuan Film

Dipresentasikan dalam Simposium Panel 4 “Distribusi Pengetahuan Film” Andalas Film Festival 2018

Diperkenalkan pada saat perayaan hari jadi yang pertama berdirinya Relair Cinema (selanjutnya akan disebut Metasinema) pada tanggal 16 Agustus 2016, Layar Terkembang kemudian menjadi program bulanan berbentuk ruang apresiasi dalam menonton dan mendiskusikan film-film yang diproduksi baik dari komunitas-komunitas maupun dari instansi perfilman di jejaring Metasinema yang saat ini telah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Film-film yang diputarkan pada awal kehadiran Layar Terkembang adalah film-film yang diproduksi dalam kurun waktu setahun sebelum dan sesudah diresmikan menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa di bawah bendera Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas pada tahun 2015. Tujuannya pada saat itu—di luar dari niatan untuk menjadikan Layar Terkembang sebagai program bulanan—ingin mempertontonkan film-film hasil produksi sendiri ke sesama rekan di Fakultas Ilmu Budaya dan tamu undangan yang hadir. Sebab, pada saat itu Metasinema menganggap bahwa perayaan hari jadi yang pertama itu adalah momentum yang tepat untuk memperkenalkan sebuah program kepada penonton dengan sebuah ekspektasi sederhana; kedepannya bisa menjadi sebuah ruang untuk tawar-beli wacana dan distribusi pengetahuan sinema serta medium pembelajaran bersama dalam menonton film di luar dari film-film yang diputarkan oleh arus utama (bioskop).

Baca juga: Sayuran Kita, Mencangkul dengan Sinema

Mengadopsi konsep menonton seperti layar tancap menjadikan jagung rebus—pada beberapa pemutaran selanjutnya jagung rebus tidak dihidangkan lagi karena satu dan lain hal—dan kopi panas sebagai teman yang pas pada saat menonton sambil duduk lesehan di atas tikar plastik dan spanduk yang telah dibentangkan di area parkir bawah Fakultas Ilmu Budaya. Tetapi, hari jadi pertama disambut meriah dengan hujan di tengah acara, memaksa penonton untuk gegas meneduhkan diri dan panitia juga lebih gegas membuka layar, memindahkan sound system dan proyektor, menggulung-gulung kabel, serta mengangkat genset yang sudah dipersiapkan untuk keadaan tak terduga dengan baju yang basah, lalu pemutaran dipindahkan ke kedai Uniang Kamek. Seperti itulah kira-kira kilas balik dua tahun lalu saat Layar Terkembang mencoba memulai perannya sebagai salah satu ruang apresiasi yang tentunya juga berupaya menjadi ruang distribusi pengetahuan film hingga hari ini.

Distribusi Pengetahuan Film

Layar Terkembang mencoba menjangkau seluruh jejaring Metasinema, baik itu komunitas maupun instansi film untuk memutarkan film mereka di Layar Terkembang lalu mendiskusikannya. Terkadang diskusi lepas dengan hanya dituntun oleh seorang moderator sebagai penengah sekaligus pengarah jalannya dialog dalam diskusi. Akan tetapi, lebih sering lagi menghadirkan pembicara, bahkan hampir di setiap pemutaran yang dilaksanakan Layar Terkembang.

Pembicara yang diundang tidak hanya bergiat di dunia film saja. Pembicara dari berbagai lintas disiplin ilmu juga diundang guna membaca film dari perspektif keilmuannya masing-masing hingga menemukan kemungkinan-kemungkinan baru terhadap pembacaan-pembacaan tersebut. Hal ini justru lebih menarik ketimbang membicarakan film hanya dari kacamata film saja, seperti teknis dan penggarapan; cara mendirect anak kecil, movement kamera, atau kenapa judul filmnya harus itu yang dipilih, dan sebagainya dan sebagainya. Tapi, bukan berarti hal semacam itu tidak penting juga untuk dibicarakan.

Layar Terkembang biasanya diadakan di Medan nan Balinduang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas pada malam hari atau siang hari jika pemutaran diadakan di dalam ruangan. Sikap konsistensi untuk memutarkan film tepat pada waktunya terkadang membuat beberapa penonton kecewa karena ada di antara mereka datang di pertengahan ketika film sedang berlangsung. Sikap ini masih coba terus dipertahankan untuk mendisiplinkan penonton agar tepat waktu pada saat menonton. Cara yang Layar Terkembang terapkan ini sedikit banyaknya memberikan pengalaman baru bagi penonton yang menonton di ruang yang bukan arus utama yang untuk terlambat walau sedetikpun rugi rasanya karena telah membeli tiket mahal-mahal, duduk paling depan lagi. Distribusi pengetahuan film barangkali juga menyentuh sampai ke etika penonton menonton film.

Sadar akan terjadinya pemusatan di satu titik saja hingga tidak beragamnya penonton yang hadir, pada minggu terakhir di bulan Maret tahun 2017, Layar Terkembang mencoba mengajak bekerjasama beberapa kampus di kota Padang, seperti STKIP, Dharma Andalas, Universitas Negeri Padang, Universitas Bung Hatta, untuk ikut berpartisipasi pada program Layar Terkembang: Film Weekdalam rangka memperingati Hari Film Nasional dengan melakukan pemutaran di kampus-kampus tersebut. Mereka menyediakan ruang pemutaran, Layar Terkembang mendistribusikan film-film dari jejaring Metasinema untuk diputarkan sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Cara seperti ini kemudian menghasilkan suatu recikan baru yang cukup direspon lewat berbagi tontonan sekaligus diskusi dengan mereka yang belum memiliki akses ke film-film tersebut, meskipun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pendistribusian pengetahuan film yang jelas-jelas juga tidak bisa diselesaikan dalam sekali pemutaran saja. Dengan demikian, Layar Terkembang telah memiliki ruang berbagi sendiri di luar sana untuk nantinya berbagi kembali pada program-program berikutnya.

Metasinema, lewat Layar Terkembang, tidak hanya sampai disitu saja memberikan ruang untuk pendsitribusian pengetahuan film lewat menonton dan diskusi film. Barangkali, karena sedari awal setiap anggota Metasinema diterapkan untuk menulis tentang film, meski pada akhirnya hanya tinggal beberapa orang saja yang fokus menulis tentang film, setelah dilakukan pemutaran akan ada dari Metasinema yang menuliskan ulasan atau kritik terhadap film yang telah diputarkan. Tulisan-tulisan tersebut kemudian dikirim ke koran dan dimuat. Tulisan-tulisan tersebut telah dimuat di koran-koran lokal, seperti Haluan, Singgalang, dan Padang Ekspres. Tulisan tersebut lalu dibaca oleh teman-teman yang memiliki ketertarikan yang sama terhadap film untuk kemudian tulisan itu didiskusikan kembali. Koran menjadi salah satu kendaraan distribusi pengetahuan film dalam bentuk tulisan yang mediumnya Metasinema manfaatkan untuk berbagi seputar film dan perkembangannya kepada orang-orang yang tidak terjangkau di dalam radar relasi Metasinema, seperti pembaca koran pada umumnya, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Metasinema atau pun film. Lewat tulisan, setidaknya ada juga hal yang kemudian membuat orang tahu tentang Layar Terkembang dan apa-apa saja yang Layar Terkembang lakukan. Tulisan-tulisan yang dimuat tidak hanya hasil dari konten produk Layar Terkembang saja, tetapi juga dari ruang-ruang apresiasi lain yang capaiannya tetap sama; pendistribusian pengetahuan film lewat menonton dan diskusi.

Untuk memudahkan penonton menemukan tulisan tentang film-film yang telah diputarkan, Layar Terkembang menghadirkan sebuah blog yang di dalamnya merangkup semua tulisan-tulisan, baik dari anggota Metasinema maupun dari rekan-rekan yang pernah terlibat di dalam program pemutaran Layar Terkembang sebagai pembicara. Upaya semacam ini hadir untuk merekap data tertulis selama perjalanan Layar Terkembang dan juga memudahkan orang-orang mengakses bacaan-bacaan yang dimuat di koran tetapi tidak sempat dibeli. Blog tersebut menjadi wadah digital untuk menampung segala macam “buah hasil” dari kerja Layar Terkembang.

Capaian kedepannya dari Layar Terkembang merangkul sebanyak mungkin penonton di berbagai tempat agar tidak terjadi sentralisasi pendistribusian pengetahuan film di kota Padang, khususnya dalam skop kampus Unand. Namun, hal yang demikian akan terwujud jika kerjasama-kerjasama antar lintas komunitas-komunitas dapat terjalin dengan baik. Tentunya, juga tidak terlepas dari peran pemerintah di bidang terkait terhadap sokongan moriil dan materiil guna terbangunnya iklim menonton di ruang-ruang apresiasi. Semakin banyak ruang apresiasi lahir, akan semakin mudah terjadinya penyebaran pengetahuan terhadap film.

Tontonlah film di Bioskop. Namun, tontonlah lebih banyak lagi film-film di Bioskop Alternatif.— Kolektif Film.

Festival Film Indonesia 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top