Festival Film Indonesia 2021
Artikel

Lebih Dekat Melihat Set Film di Studio Alam Gamplong Sleman

Tulisan merupakan bagian dari program apprenticeship Infoscreening

Annelies Mellema dan ibunya, Nyai Ontosoroh, tinggal di rumah besar dengan halaman yang luas. Bangunan tersebut berlantai dua, memiliki teras di bagian depan, serta bergaya Indis. Ia menjadi saksi bisu hidup keduanya yang tak lepas dari kegembiraan, kepedihan, dan perjuangan. Annelies menetap bersama sang suami, Minke, di rumah itu. Di sana pula Nyai Ontosoroh belajar banyak hal agar tak dipandang sebelah mata. Setelah kalah di pengadilan soal hak asuh anak, ia berpisah dengan Annelies juga di rumah ini.

Tempat tinggal tersebut pada akhirnya menjadi bagian tak terpisahkan dari tokoh Annelies, Nyai Ontosoroh, dan Minke di film Bumi Manusia buatan sutradara Hanung Bramantyo. Meski bergaya Indis, rumah itu bukanlah bangunan Belanda betulan melainkan film set yang sengaja dibuat untuk keperluan pengambilan gambar (shooting). Ia dibangun di atas tanah kas desa. Selain rumah Annelies serta Nyai Ontosoroh, bangunan set lain juga didirikan di sana. Tempat tersebut saat ini terkenal dengan sebutan Studio Alam Gamplong.

Jadi Tempat Wisata

Studio Alam Gamplong terletak di Dusun Gamplong, Desa Sumber Rahayu, Sleman, Yogyakarta. Tempat ini mulanya dibangun tahun 2017 untuk keperluan syuting film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta buatan sutradara Hanung Bramantyo. Setahun kemudian, Studio Alam Gamplong dihibahkan ke Pemerintah Kabupaten Sleman dan menjadi destinasi wisata. Masyarakat umum dengan demikian boleh datang menikmati film set yang pernah digunakan syuting itu.

Salah satu pengelola Studio Alam Gamplong Hafiz Kurniawan menjelaskan bangunan set film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta tidak dihancurkan sebab Hanung memiliki keinginan lain di samping memproduksi film, yakni membuat studio.

“Setahu saya Mas Hanung punya cita-cita selain film yaitu studio ini dijadikan semacam pesantren film. Jadi studio ini bisa jadi tempat belajar tentang film tapi lebih ke set builder-nya dan tempat syuting buat sineas film. Terus dari studio film kan untuk meningkatkan ekonomi sekitar juga,” ujarnya.

Keinginan menjadikan Studio Alam Gamplong sebagai sumber pendapatan masyarakat pun sejalan dengan kemauan produser Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta Mooryati Soedibyo. Hafiz mengatakan tempat ini sekarang dikelola oleh warga Dusun Gamplong. Penjual yang menjajakan makanan di area dalam dan luar studio pun berasal dari daerah sekitar.

Ada beberapa judul film, kata Hafiz, yang pernah syuting di Studio Alam Gamplong selain Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta di antaranya Bumi Manusia, Habibie & Ainun 3, Abracadabra, serta Doremi & You. Ia mengatakan bangunan set di studio ini bisa berubah sesuai kebutuhan film. Tapi, film set berupa rumah Annelies dan Nyai Ontosoroh, pendapa Keraton Mataram, Kampung Mataram, jembatan ungkit, kampung pecinan, rel kereta api, kampung kumuh, kota lama Surabaya, serta benteng Batavia zaman VOC sekarang masih bisa dilihat pengunjung.

Edukasi ke Masyarakat

Hafiz menjelaskan wisatawan bisa belajar soal film, khususnya film set, jika berkunjung ke Studio Alam Gamplong. Selain itu, perubahan bangunan set yang disesuaikan dengan kebutuhan film, menurutnya, juga menarik untuk dilihat.

Wisatawan yang datang ke Studio Alam Gamplong tidak dibebani tarif khusus untuk masuk. Mereka boleh membayar serelanya. Tapi, jika berniat masuk ke rumah Annelies dan Nyai Ontosoroh yang kini bernama Museum Bumi Manusia, pengunjung mesti merogoh kocek Rp10.000. Uang yang terkumpul nantinya akan digunakan untuk merawat barang-barang di dalamnya yang memerlukan penanganan khusus.

Baca juga: Mengenal Bioskop Sonobudoyo, Ruang Putar Alternatif di Yogyakarta

Salah satu pengunjung, Desi Puspitasari, pernah masuk ke Studio Alam Gamplong bulan Juli tahun lalu. Rumahnya dekat dengan lokasi studio sehingga ia memutuskan main ke sana setelah tahu tempat itu dari media sosial.

“Saya tahu studio dari akun IG Gamplong Studio waktu awal-awal mau dibangun. Setelah ke sana ternyata bagus. Dari yang biasanya hanya bisa melihat setting di film, sekarang bisa ikut menjejakkan kaki di sana plus ngerasain atmosfernya,” katanya saat dihubungi Jumat (3/4).

Dari semua bangunan set yang ada, perempuan berusia 35 tahun tersebut menyukai rumah-rumah kumuh berdinding seng yang digunakan untuk syuting Habibie & Ainun 3. Menurutnya, film set tersebut dibangun layaknya kampung sebenarnya sehingga tampak alami.

Lebih lanjut, ia mengatakan ada banyak orang yang berjasa di balik sebuah film. Jika pengunjung datang ke Studio Alam Gamplong maka ia jadi tahu bahwa ada kerja kru selain sutradara yang juga berpengaruh ke film.

“Selama ini kalau di film kan kebanyakan hanya familiar dengan aktor, sutradara, arranger music, dan itu-itu saja. Dengan adanya Studio Alam Gamplong yang menyajikan set film, penonton dan pengunjung juga bisa tahu ada kerja keras bidang lain yang menunjang proses pembuatan film. Dan kerja itu tidak main-main karena dibutuhkan ketelitian dan detail tingkat tinggi,” ujarnya.

Studio Alam Gamplong biasa buka setiap hari dari jam 8 pagi hingga 5 sore. Jika tak ada keperluan syuting, masyarakat bisa datang ke tempat ini untuk melihat bangunan set film. Saat ini Studio Alam Gamplong ditutup sementara selama bulan April untuk mencegah penyebaran COVID-19. Untuk mengetahui kapan waktu yang pas buat datang ke sana saat situasi membaik, kamu bisa lihat informasinya di akun Instagram Gamplong Studio Alam Sleman.

Festival Film Indonesia 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top