Berita

Melihat Gerak Budaya Melalui Musik dalam “Bioskop Musik”

Oleh: Desta Wasesa

Film pendek punya posisi penting dalam realitas sosial. Dia adalah medium yang cukup luwes, alternatif dalam membaca hingga meredifinisi zaman yang tersusun dari banyak realitas yang kerap disamarkan oleh film yang nyaman di jalur bioskop. Film musik satu di antaranya yang kerap dipakai sebagai medium merawat momen, peristiwa, aktivitas budaya, sampai pengarsipan.

Pehagengsi sejak 2019 lalu menangkap film musik sebagai tolok ukur dalam membaca ulang dan meredefinisi peristiwa gerak budaya dan kota lewat program bertajuk Bioskop Musik. “#BioskopMusik adalah salah satu program Pehagengsi dengan fokus aktivasi arsip audio visual untuk membaca ulang atau meredefinisi suatu gerak budaya dan kota. Bioskop Musik pertama tahun 2019 di Kedai Kebun Forum (KKF), memutar 10 film musik dari musisi Yogya,” terang Kikiretake, dari Pehagengsi.

Tahun ini program berlanjut ke episode dua. Rencananya acara akan digelar di Kedai Kopi Kantin (Kelas Pagi Yogyakarta) mulai 29 April sebelum berbuka puasa. Pemutaran gratis dan terbuka untuk umum dengan protokol kesehatan ketat. “Aktivitas menonton ini bersifat gratis dengan saweran keliling untuk membayar sewa ruang dan alat yang kami pinjam dari Kelas Pagi Yogyakarta (KPY),” sambung Kiki.

Deretan Film “Bioskop Musik”

Ada 12 film yang akan diputar dalam Bioskop Musik kedua ini. Pertama ada “Yennu Ariendra dan Iramanya” yang diproduksi No Brain Project. Diproduseri Ajeng Niramaya lalu diarahkan Maria Kilapong, dalam film sepanjang 14 menit lebih ini penonton diajak mengintip proses demokrasi Yennu Ariendra terhadap nilai kelokalan yang dia pindah ke dalam bunyi. Demokrasi adalah kata yang paling tepat lantaran Gitaris Melancholic Bitch itu tidak menempatkan jenis, bunyi, genre, sampai kepopuleran respons tubuh kekinian secara biner. Koplo, dangdut, dan irama lokal yang tidak sekadar menyusup dalam beat EDM itu disajikan seniman serba bisa ini ke ruang-ruang yang “asing” bagi musik lokal.

Lalu ada “FSTVLST – Tanah Indah Live In Concert” dan “Gegas #02: Jelang Rilis Album” dari FSTVLST. “Konser Tanah Indah Live In Concert” punya pernyataan tegas. Penonton tidak hanya diajak mendengar respons orang-orang yang datang ke konser yang digelar lima tahun lalu. Dalam film sepanjang 13 menit itu penonton akan melihat bagaimana FSTVLST besar karena merawat budaya gotong royong. Ribuan orang yang menikmati pertunjukan lima tahun lalu pasti masih ingat kelakar Farid di atas panggung, penanda berakhirnya mitos Utara-Selatan sewaktu Jenny masih ada. Sementara “Gegas #02” memberi gambaran bagaimana FSTVLST bekerja meramu tema sampai konsep album kedua.

Fauzi Fathurahman bersama Dom 65 memanifestasikan ide dalam “Fortuna”. Rilis 2020, penonton bisa melihat kedekatan DOM 65 dengan sepak bola khususnya PSIM. Fauzi juga menyajikan fakta menarik, bagaimana keterlibatan band Punk itu dalam konflik-konflik yang terjadi di sepak bola Indonesia, salah satunya perseteruan antarsuporter.

Penonton akan diperlihatkan sisi lain dari dunia anak lewat film garapan Sinema Pinggiran berjudul “Tiba-Tiba Suddenly Konser Efek Rumah Kaca”. Allan Soebakir (sutradara) bersama Narpati Awangga a.k.a Oomleo (produser) mengabadikan minimnya persiapan konser empat kota Efek Rumah Kaca medio 2018 lalu. “It Take Two” dari dua filmaker, Triaji Jati dan Riva Pratama menyajikan tema yang tak jauh berbeda dengan bikinan Allan Soebakir. Film itu merekam perjalanan tur Stars And Rabbit tahun 2015 (saat Adi masih menjadi partner Elda) ke banyak kota. Band yang mulai memancang musik pada 2011 itu melibas banyak panggung tak berbatas.

Ada pula “Eva, Kenapa Rumahmu Jauh?”. Diproduksi Koperasi Film Demi Kamu, film ini digarap empat sutradara sekaligus: Fredy Predi, Waditya.com, Sugeng Wahyudi, dan Edwin. Jenis film macam road movie yang dirilis 18 tahun silam ini menyajikan plot aneh yang bakal mengocok perut penonton, apalagi dengan kemunculan banyak personel Kronchonxkhaos. “240 BPM ++” menangkap banyak peristiwa budaya yang sebenarnya cukup pahit untuk diterima. Bagas Oktariyan Ananta memaparkannya lewat rangkaian peristiwa yang ditemui tokoh Mirwan. Film ini diceritakan dengan struktur kronologis Mirwan sampai bagaimana hidupnya dari orgen tunggal berbenturan dengan berbagai macam masalah yang kompleks.

Kenekatan seorang Indra Menus yang akrab dengan skena noise bersama Joe Million, rapper paling berbahaya menurut Morgue Vanguard, bisa ditemukan dalam “Jalur Sutra” yang digarap Sinema Pinggiran”. Film itu mengabadikan tur Eropa keduanya yang berlangsung di Perancis, Belgia dan Swiss. Keduanya menghajar tiap venue, dari skala festival di Prisme Festival Nantes yang disesaki ratusan orang, basement, sampai ke kafe kecil yang hanya dihadiri dua orang di Zurich.

Bagi yang ingin tahu para pelaku musik memaknai skena underground di Yogyakarta dua dekade lalu, “Musik Underground Jogja Part. 1” dari Jimmy Mahardhika adalah jawabnya. Jimmy membagi pelaku musik berdasar genre musik dan jalan hidup yang dipilih para pelaku. Kita juga bisa melihat bagaimana sejumlah tempat di Jogja dua dekade lalu masih luwes terhadap gerakan musik bawah tanah sebagai budaya tanding.

Kemudian, Bioskop Musik juga menayangkan “Whats Is Jogja Blues Forum”, film garapan Krisna Aditya yang ia hadiahkan untuk komunitas Jogja Blues Forum. Krisna melakukan pendekatan narasi jurnalistik dalam film yang memuat kronik hingga proses regenerasi komunitas blues yang diisi anak-anak muda di Yogyakarta.

Baca juga: Indonesia Raja 2021 Resmi Diluncurkan untuk Distribusi Nasional

Terakhir, ada “Jogja Noizer” yang dibuat Christian Thomas Octaviano. Dokumenter yang dibuat dengan struktur tutur tematis: pergerakan Jogja Noise Bombing, berdurasi 16.36 itu mengabadikan perjalanan sekaligus perjuangan komunitas dalam menyuarakan musik noise ke masyarakat lewat banyak momen penting. Visualisasi dalam setiap acara didukung efek motion foto cukup mendukung alur cerita yang diperkuat wawancara. Kita akan menyaksikan bagimana komunitas melawan fungsi arsitektur dengan memperlakukannya laiknya panggung penting. Misalnya bermain di jalanan dengan konsep bombing yang mengagetkan hingga komunitas membuka sekaligus merawat jaringan yang membuat mereka tak lagi dipandang sebelah mata.

12 film tersebut adalah sedikit dari banyak harta karun yang perlu dilihat dan dimaknai hari ini atau kemudian hari sebagai pantulan peristiwa zaman. Selamat menikmati Bioskop Musik kedua. Selamat menonton!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top