Uncategorized

Menonton sebagai Ritual Personal: Catatan Europe on Screen 2016

Diterbitkan pertama kali oleh penulis di blog pribadi.

“Terlepas dari siapa atau apa yang menjadi kesukaan, aku sering memilih mana film yang bakalan kutonton dan kudownload berdasarkan hal-hal remeh, dari judul film misalnya. Wah, judulnya aneh nih, nonton ah.”

Adalah pernyataan sepele teman saya perihal menonton film. Sialnya, pernyataan sepele itu juga yang membuat saya berpikir banyak hal—dan dalam kondisi tertentu, menjadi tidak tenang. Sepuluh atau sebelas tahun lalu saya boleh berbangga, saya menemukan website bagus dan efektif, yang menilai film dengan sistem angka 1-10. Saya kemudian mengumpulkan dan menonton film-film, berdasarkan website tersebut—melulu berdasarkan angka. Lain kondisi, saya menonton film berdasar rekomendasi teman. Baik secara langsung maupun berdasarkan review mereka dalam bentuk tulisan. Saya kembali menonton film: pergi ke bioskop, copy film dari teman, download sendiri, sewa/beli DVD, berdasarkan rekomendasi tersebut. Sampai di titik itu, saya jadi merenung. Kegiatan menonton film, yang selama ini saya maknai sebagai ritual personal, ternyata berlangsung dengan dibarengi beberapa kepentingan.

Di titik yang sama, pernyataan sepele teman saya di atas bisa jadi berbunyi: “Menonton-film-yang-bagus menurut angka, saran, atau tulisan tentu saja tidak salah. Yang menjadi pertanyaan adalah, bersediakah kamu ‘menonton-film-saja’?” Saya merenung panjang setelahnya.

Bukan berarti setelahnya saya anti dengan segala macam review. Bukan berarti juga saya mendaifkan kegiatan ‘menonton-film-atas-rekomendasi’. Semua hal tersebut tentu saja penting. Pada taraf tertentu, saya masih butuh hal tersebut sebagai pedoman.

Hanya saja, sesekali saya butuh menjadikan menonton film sebagai agenda personal. Saya akan mencoba membebaskan kepala saya dari berbagai macam prasangka. Cukup menonton saja. Bukan sengaja mencoba menonton film—yang dianggap—bagus, atau sebaliknya. Hingga di akhir film, kalaupun memang film tersebut akan mendapat nilai 9/10 atau 5/10, itu bersumber dari kepala saya pribadi. Kegiatan seperti ini nyatanya membuat kepala saya diisi hal-hal—dalam hal ini film—yang jauh lebih beragam. Dalam kondisi yang sama, saya berhasil memisahkan agenda menonton film dengan kesenangan saya yang lain, memilih sepatu misalnya. Rak sepatu saya bisa jadi hanya berisi sepatu-sepatu yang baik saja. Rak sepatu saya boleh seangkuh itu, tidak dengan kepala saya. Kepala saya bersedia diisi apa saja—bersedia mengukur apa saja. Keragaman adalah kebutuhan.

Sama halnya dalam menanggapi acara terakhir kemarin, Europe on Screen 2016. Sebuah Festival Film Eropa ke-16 yang ditayangkan mulai tanggal 29 April sampai dengan 8 Mei 2016. Beberapa film yang saya sebut di bawah ini ditayangkan di acara tersebut. Alih-alih untuk berbagi, catatan kecil ini saya buat sebatas untuk pengingat saya pribadi. Terkadang kesan-kesan yang muncul setelah menonton film butuh dicatat–sebagai pengingat. Dan hitung-hitung, jika beruntung, bisa ikut meramaikan Festival Journal Europe on Screen 2016.

Terdapat 78 film dari 22 negara di Eropa yang diputar di 6 kota di Indonesia: Jakarta, Bandung, Denpasar, Medan, Surabaya, dan Yogyakarta. Lokasi pemutaran di Jakarta adalah di Erasmus Huis, GoetheHaus, Institute Francais, Instituto Italiano, Bintaro Xchange dan IKJ. Film dalam acara ini dikelompokkan menjadi 6 sesi, yaitu: Xtra Section (film-film arus utama dan box office), Discovery Section (bukan film arus utama), Docu Section (Film-film dokumenter), Retro/Focus Section, Family Section, dan Open Air Section.

Beragamnya genre dan sudut pandang—baik perspektif pembuat film maupun perspektif negara, yang membuat saya bersemangat mengikuti acara ini dari awal—termasuk acara Press Conference dan Diskusi Film. Keragaman seperti ini yang selama ini saya yakini mampu memperkaya semua penonton dengan pengetahuan film, maupun wacana di luar film itu sendiri. Keragaman yang sejatinya selalu dihadirkan dalam setiap festival film daerah, nasional, dan internasional. Celebrate diversity!

Yulaika Ramadhani_Europe on Screen 2016

Force Majeure/Drama/120 menit/Ruben Ostlund

Yang paling menarik dari film ini adalah bagaimana pembuat film menggambarkan ‘bencana yang terlihat’ hanyalah pemantik ‘bencana yang tidak terlihat’ yang jauh lebih menghancurkan. Longsoran salju di film hanyalah pemicu remuknya status Tomas sebagai laki-laki. Baik itu perannya sebagai seorang ayah untuk anak-anaknya, suami untuk istrinya, dan laki-laki yang baik untuk dirinya sendiri

Timbuktu/Drama/97 menit/Abderrahmane Sissako

Selepas menonton Timbuktu, saya pulang dengan membawa banyak hal baru, yang butuh direnungkan. Perihal Timbuktu, daerah di mana musik, rokok, tawa, warna cerah, dan sepak bola dilarang. Perihal orang-orang setempat yang berusaha menyesuaikan hukum baru yang dibawa pendatang, tapi kewalahan. Kisah-kisah miris, ketika suatu daerah dikuasai fundamentalis agama.

Youth/Drama/124 menit/Paolo Sorrentino

Mick Boyle, seorang pembuat film yang bersikeras menyelesaikan film terakhirnya dan Fred Ballinger, seorang komposer yang juga bersikeras tidak mau melakukan konser lagi—di depan ratu Inggris sekalipun. Dari dua hal yang berkebalikan itu, kita digambarkan bagaimana mengimani ambisi masa muda kita. Terkadang ambisi itu harus tetap ada setua apapun kita. Namun terkadang juga, ada masanya untuk mencukupkan segalanya, atas alasan usia atau juga ragam kehilangan di sepanjang usia.

45 Years/Romance/95 menit/Andrew Haigh

Bukan karena scoring yang meneror layaknya film horor, film ini meneror dengan caranya sendiri. Sepasang suami istri yang telah menjalani pernikahannya selama 45 tahun, dihantui oleh masa lalu yang mendadak hadir dalam bentuk surat, narasi, dan imaji. Mulai detik itu, status pernikahan sudah seperti rumah hantu. Yang bertahan adalah siapapun yang berani menanggung ketakutan, setiap harinya.

The Lobster/Romance/118 menit/Yorgos Lanthimos

Film ini menggambarkan bahwa jomblo adalah musibah besar—dan hal yang paling membahayakan adalah kamu akan diubah menjadi binatang, jika selama 45 hari belum mendapat jodoh. Premis unik dan menarik. Film ini sejatinya ingin mengajak kita memikirkan proses sebuah relasi terbentuk. Sejauh mana relasi tersebut tunduk kepada norma dan pakem-pakem dalam masyarakat. Dan bagaimana sebuah relasi terbentuk justru ketika kita menjauh dan lepas dari batasan-batasan tersebut.

The Search/War/135 menit/Michel Hazanavicius

Film EoS 2016 paling berkesan untuk saya. Film ini mencoba adil, dengan membahas persoalan politik dari sudut pandang berbeda—yaitu perspektif korban perang dan perspektif tentara. Adalah trauma anak kecil korban perang Chechen dan perisakan yang terjadi kamp tentara Rusia. Keduanya dipertemukan melalui Hadji dan Kolia.

In Order of Dissapearance/Crime/116 menit/Hans Petter Francais

Film ini mencoba mengulik ‘penerimaan’ atas kematian. Baik penerimaan oleh tokoh-tokoh dalam film maupun oleh penontonnya. Oleh tokoh film, penerimaan dibentuk dari balas dendam ayah atas kematian anak laki-lakinya. Jika dicermati, berpuluh-puluh orang mati di film ini sejatinya sebagai dampak dari 3 kematian anak laki-laki. Oleh penonton, penerimaan berwujud pernyataan “Udah, gpp, orang itu mati gpp,”.

Songs From the Second Floor/Drama/98 menit/Roy Andersson

Roy Andersson, melalui komedi absurdnya, memberikan pengalaman menonton film yang mengesankan. Ia merangkai kejadian dunia urban yang terkadang memaksa para subjeknya menjadi gila, baik dalam artian sebenarnya maupun kiasan hiperbolis.

The Imitation Game/Biography/114 menit/Mark Osborn

Sebuah biografi Alan Turing, seorang cryptanalyst yang karyanya merupakan cikal bakal komputer. Asyiknya adalah kita tidak melulu dikisahkan perjalanan karirnya, tetapi juga kisah cintanya. Bagaimana ia menyikapi wanita yang waktu itu mencintainya, bagaimana teman-temannya memandang potensinya, dan bagaimana dirinya menyikapi orientasi seksualnya sendiri.

Two Days, One Night/Drama/95 menit/Jean-Pierre Dardenne

Film ini menceritakan tentang usaha Sandra meminta dukungan teman-temannya, sehingga ia tidak jadi dikeluarkan dari tempat kerjanya. Selama 90 menitan, penonton diajak menemani Sandra berinteraksi dengan teman-temannya. Dari interaksi tersebut, kita dipahamkan bahwa mendukung seseorang tidak lepas dari kepentingan, pengorbanan, bahkan juga kekacauan karenanya. Dari hal tersebut juga kita diajak mengenal karakter para pelaku kelas pekerja lebih luas.

The Little Prince/Fantasy/108 menit/Mark Osborne

Perihal kecemasan menjadi dewasa, ambisi yang seharusnya punya muara, serta keputusan-keputusan untuk menjadi lebih berani. Sepanjang film penonton ditayangkan banyak hal yang menyenangkan untuk dilihat, namun mencemaskan jika dirasa. Scoring dan musiknya juara.

White God/Drama/121 menit/KornelMundruczo

Saya selalu menyukai film yang dtuturkan dari sudut pandang anak kecil. Film ini tidak saja berisi pandangan dan kekuatan anak kecil dalam hubungannya dengan masyarakat, tetapi juga perihal aktor utamanya: anjing. Perihal kekuatan minoritas yang menuntut eksistensinya dalam masyarakat. Perihal anjing-anjing revolusi yang menyerang manusia.

Now You See Me/Crime/115 menit/Louis Leterrier

Yang menarik dari film ini adalah penonton diajak membaca kasus kriminal justru dari kacamata pelakunya—bukan film detektif yang biasanya mengambil fokus pada pihak kepolisian. Dari hal itu juga, penonton diajak berpetualang bersama para ilusionist dengan segala strategi dan akal-akalannya.

Geronimo/Drama/107 menit/Tony Gatlif

Geronimo, perempuan pendidik sosial, berusaha meredakan ketegangan yang disebabkan minggatnya dua orang pasangan remaja dari dua klan berbeda. Banyak hal yang mengikuti keputusan pribadi kita—yang terkadang itu akan menyakiti masyarakat sosial kita. Dari film ini kita dihadirkan dua karakter protagonis yang berbeda. Geronimo dengan jihad sosialnya, dan Nil-Lucky dengan jihad personalnya.

George Melies Program/92 menit/George Melies—acompanied by live music from Trinity Youth Symphony Orchestra – Sjuman School of Music

Sebuah recital film scoring dari film-film pendek George Melies. EoS bersama Sjuman Music School menghadirkan film bisu ini lebih hidup dengan iringan musik dari Trinity Youth Symphony Orchestra. Film-film Milies yang ditayangkan di antaranya adalah A Trip to the Moon, The Cook’s Revenge, The Magician, The Astronomer’s Dream, Going to Bed Under Difficulties, Extraordinary Illusions, The Triple Conjurer and the Living Head, Satan in Prison, The Spider ant the Butterfly, In the Barbershop, The Terrible Turkish Executioner, A Crazy Composer, Luny Musician, The magician’s Cavern, Off to Bloomingdales Asylum, The Man with the Rubber Head, dsb.

dokumentasi Yulaika

dokumentasi Yulaika

Most Popular

To Top