Festival Film Indonesia 2021
Berita

Pemutaran Kolektif dan Program Peduli: Menghargai Hak Beragam Identitas

Di banyak negara, menjadi lesbian, gay, biseksual, atau transgender (LGBT) berarti hidup dengan diskriminasi. Diskriminasi itu dialami atas dasar orientasi seksual, identitas, dan ekspresi gender. Begitupun di Indonesia. Kelompok transgender kerap dinilai telah menyalahi kodrat pencipta-Nya, sehingga keberadaannya sulit diterima.

Masih dalam rangka International Women’s Day, Kolektif Film berkolaborasi dengan Program Peduli dan didukung oleh The Asia Foundation mengadakan pemutaran film dan diskusi virtual bertajuk “Memilih Keperempuanan dan Kemanusiaan. Acara ini membahas seputar isu transgender sekaligus mengajak publik untuk aktif menantang ketidakadilan berbasis gender di lingkungan sekitar. Diselenggarakan pada Senin, 15 Maret 2021, acara dibuka dengan pemutaran perdana film Ayu dan Farah karya Tonny Trimarsanto, serta Film Pendek Terbaik Festival Film Indonesia 2020, Jemari yang Menari di Atas Luka-Luka karya Putri Sarah Amelia.

Film Farah

Merasa tertekan tinggal di lingkungan keluarga yang keras menolak keputusannya untuk hidup sebagai seorang transpuan, Farah akhirnya pergi dari rumah untuk mencari jati dirinya. Farah ingin bahagia dengan pilihan hidupnya sendiri. Pertemuannya dengan Yuka, seorang transgender di kota Bandung, mengajarkan Farah bertahan hidup dengan bekerja di sebuah salon kecantikan. Sebelum akhirnya ia terjerumus dalam dunia yang kelam, hidup sebagai pekerja seksual hingga ia harus behadapan dengan kematian. Dinyatakan positif HIV, yang tersisa dari diri Farah hanyalah semangat hidup. Farah kemudian berhasil bertahan dengan dukungan dari keluarganya. Sejak itu, Farah memulai lembaran hidup baru. Ia aktif di berbagai komunitas dan melakukan kegiatan sosial, membantu teman-temannya sesama transpuan.

“… yang dulunya gak punya KTP, sekarang mereka punya. Saya mau teman-teman biar pun hidupnya di jalanan, tapi mereka punya identitas,” ungkap Farah dalam diskusi virtual.

Secara umum, isu LGBT di Indonesia masih tergolong sensitif, terutama jika dikaitkan dengan keagamaan. Diskriminasi dan intimidasi eksplisit dilakukan terutama oleh para ekstremis religius. Banyak kelompok seperti FPI (Front Pembela Islam) secara terbuka memusuhi kelompok LGBT dengan menyerang rumah atau tempat mereka bekerja. Kejadian seperti ini merupakan bagian dari pengalaman hidup Farah sebagai seorang transpuan.

Film Ayu

Kontras dengan kisah hidup Farah, alih-alih penolakan, Ayu justru mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tuanya untuk hidup sebagai seorang transpuan. Dalam perjalanannya, Ayu tidak pernah sedikit pun terlibat sebagai seorang pekerja seksual. Ia memegang teguh prinsip hidupnya, bahwa menjadi transgender tidak harus melakukan pekerjaan seperti itu.

“…aku akan menjadi berbeda dari yang dipikirkan orang lain,” tegas Ayu dalam sesi diskusi.

Dibekali kepercayaan orang tuanya, Ayu berjuang menghidupi dirinya sendiri, dari berjualan gorengan, bekerja di salon kecantikan, hingga tampil sebagai penari untuk menghibur masyarakat sekitar. Seperti Farah, Ayu juga banyak melakukan pendekatan terhadap warga agar para transpuan bisa diterima di masyarakat. Upaya ini dilakukannya sebagai bentuk perjuangan dalam mendukung kesetaraan gender.

Film Jemari yang Menari di Atas Luka-Luka

Selain dua film karya Tonny Trimarsanto, film lain yang diputar adalah Jemari yang Menari di Atas Luka-Luka. Film pendek ini memiliki premis yang menarik: Bagaimana ketika kematian terjadi pada seorang transgender? Apakah identitas yang ia pilih tetap bisa dihargai ketika ia meninggal? Atau ia dipaksa untuk menyerah pada keputusan sosial? Sayangnya, dalam film ini otoritas diri tetap diambil oleh kelompok mayoritas. Namun, keputusan si perias jenazah di akhir cerita memperlihatkan bagaimana orang-orang mulai terbuka dengan keberadaan transgender sebagai kelompok marginal.

Diskriminasi Berbasis Gender

Setelah Renita Renita dan dua film lainnya, Ayu dan Farah merupakan film ke-4 dan 5 dari Tonny Trimarsanto yang mengangkat kisah hidup seorang transgender. Tonny mengaku alasannya terus membuat film dengan tema yang sama adalah karena persoalan terkait transgender ini masih belum selesai. Sejak awal perilisan film dokumenter Renita Renita di tahun 2006, hingga kini Tonny masih melihat adanya diskriminasi yang didasarkan pada orientasi seksual dan gender. Film-film karya Tonny Trimarsanto dibuat sebagai wadah agar para transgender dapat bebas menyuarakan isi hatinya. Begitupun dengan film Jemari yang Menari di Atas Luka-Luka, film ini sengaja dibuat tanpa dialog untuk merepresentasikan suara dari kelompok minoritas yang masih terbungkam.

Keragaman Identitas dan Hak Hidup

Banyak orang hampir di seluruh dunia menghadapi kekerasan dan perlakuan tidak setara karena persoalan siapa yang mereka cintai, penampilan mereka, atau siapa diri mereka. Padahal identitas gender bukan hanya tentang menjadi perempuan atau laki-laki. Identitas dan ekspresi gender begitu kompleks, menggabungkan ide-ide tentang diri bersama dengan beragam perilaku, pikiran, dan perasaan. Identitas gender muncul dari berbagai interaksi antara gen, lingkungan, dan faktor lainnya.

Para transgender berhak untuk hidup dan berkembang, dengan kebebasan untuk bermain, belajar, bekerja, mencintai, dan dicintai. Mereka pun memiliki hak membangun kehidupan yang terhubung dengan orang lain di rumah, di tempat kerja, dan di tempat umum tanpa rasa takut.

Baca juga: 100% Manusia Film Festival 2020: Bersama Memahami Beragam Bentuk Keberanian

Kelompok LGBT seringkali menghadapi risiko pengucilan ekonomi dan sosial. Memperjuangkan undang-undang tanpa memandang orientasi seksual dan identitas gender akan memudahkan mereka untuk bisa mengakses hak-hak dasar. Karena itu semua dilindungi dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM).

Dengan merangkul kaum LGBT dan memahami identitas mereka, kita dapat belajar bagaimana menghilangkan banyak batasan yang dipaksakan oleh stereotipe gender. Stereotipe ini menentukan dan membatasi bagaimana orang menjalani hidup mereka. Menghapusnya akan membebaskan setiap orang untuk mencapai potensi penuh mereka, tanpa batasan sosial yang diskriminatif.

Karena setiap orang berhak untuk hidup bebas dan aman.

Festival Film Indonesia 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top