Berita

Pitching dan Networking dokumenter Asia Tenggara Terselenggara di Bali

Dari siaran pers

Bali, 29/8/2018 – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyelenggarakan Docs By the Sea, forum internasional yang menghubungkan film dokumenter Asia Tenggara dengan industri perfilman internasional. Bekerjasama dengan In-Docs, suatu organisasi nirlaba yang memiliki misi memperluas dampak film dokumenter Indonesia, Bekraf juga bekerjasama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia, pusat kebudayaan dan pendidikan Jerman di Indonesia yaitu Goethe-Institut Indonesia, dan Lembaga Budaya Belanda yaitu Erasmus Huis.

Baca juga: Docs By The Sea: Pencarian Jaringan, Dana dan Distribusi untuk Dokumenter Asia Tenggara

“Kami (Bekraf) menggelar Doc By the Sea untuk member peluang kepada filmmaker dokumenter Asia Tenggara bertemu dengan pameran industri dokumenter internasional dan mendapat akses pendanaan dari lembaga pendanaan internasional. Sehingga film dokumenter Asia Tenggara mendapat tempat di panggung dunia,” tutur Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo.

Dalam workshop yang diselenggarakan selama lima hari (23 s.d 27 Agustus 2017) sebelum forum, 30 filmmaker mendapatkan bimbingan dari mentor internasional yang berpengalaman pada film dokumenter, pendanaan, dan distribusi internasional. Pada gelaran utama Docs by the Sea (29 s.d 30 Agustus 2017), 30 filmmaker dari 13 negara yang terpilih dari 120 proposal yang masuk dari seluruh dunia berkesempatan pitching, yaitu mempresentasikan proyeknya di hadapat lebih dari 30 pengambil keputusan dari lembaga-lembaga internasional dan pemegang kunci film dokumenter internasional dari 16 negara. Para pengambil keputusan ini berpotensi memberikan pendanaan, mentorship, mendistribusikan, dan memperluas jaringan sineas yang ikut serta. One-on-one meeting dengan filmmaker disekenggarakan setelah pitching.

Selain pitching, Bekraf juga menyelenggarakan talkshow dan seminar pada rangkaian acara forum ini. Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Pesik dan enam kedeputian Bekraf menjelaskan program Bekraf terkait perfilman Indonesia pada talkshow. Seminar yang diselenggarakan bertema broadcast distribution, international funding, dan Asian Decision Makers.

Docs By the Sea fokus pada film-film dokumenter dan talenta dokumenter dari Asia Tenggara agar lebih terdengar gaungnya di dunia internasional. Indonesia menjadi tuan rumah forum dokumenter internasional yang pertama dan satu-satunya yang berfokus pada pendanaan dan distribusi film-film dokumenter Asia Tenggara.

“Indonesia punya Docedge Kolkata, Tiongkok punya CCDF (CNEX China Documentary Forum), Jepang punya Tokyo Docs, dan Korea punya Incheon Docsport. Sekarang, Asia Tenggara punya Docs by the Sea dengan tuan rumah Indonesia,” tambah Fadjar.

Forum ini dibuat untuk mempermudah film-film dokumenter Asia Tenggara mendapat panggung industri internasional tanpa harus mendaftar ke forum-forum internasional lainnya dan bersaing dengan dokumenter-dokumenter dari seluruh kawasan. Dari 30 proyek yang terpilih untuk pitching, 10 berasal dari Indonesia, 15 dari negara-negara lain di Asia Tenggara, dan lima internasional. Tema yang mendominasi dari 10 film dokumenter Indonesia adalah keunikan budaya Indonesia dan pelanggaran hak asasi manusia”

“In-Docs amat menyambut baik inisiatif Bekraf untuk menyelenggarakan Docs By the Sea sehingga membuka akses akan pendanaan bagi film dokumenter Indonesia, serta menghubungkan film-film dokumenter Indonesia dengan para pelaku industri internasional. Inisiatif ini amat terpuji karena selama ini bidang dokumenter seolah berjalan sendiri, tanpa infrastruktur pendukung seperti pendanaan maupun distribusi yang dapat diakses. Docs by the Sea membuka peluang ini, sehingga film-film dokumenter dari Asia Tenggara lebih punya suara dan tempat di industri internasional,” ucap Direktur Program In-Docs Amelia Hapsari.

Dukungan Internasional

Dukungan internasional dalam program ini hadir dalam berbagai bentuk, antara lain Kedutaan Amerika Serikat di Indonesia yang mensponsori kedatangan Amy Hobby, Executive Director Tribeca Film Institute; Mridu Chandra, Director If/Then Short Film Program, Tribeca Film Institute; Hussain Currimbhoy, Programmer from Sundance International Film Festival; Daniel Moretti, Senior Outreach and Engagement Program, ITVS (lembaga pendanaan film dokumenter independent Amerika Serikat); dan Apoorva Bakshi, distributor berbasis di L.A. yang berada di belakang kesuksesan distribusi film-film independen India.

Selain menghadirkan Amy Hobby pada masterclass mengenai impact producing dan distribution di Bali 26 Agustus 2017 lalu yang dibuka untuk publik, Kedutaan Besar Amerika Serikat juga mendatangkan Daniel Moretti untuk memberikan master class di Palu tentang Impact Producing bulan Mei lalu. 26 Agustus 2017, Hussain Currimbhoy mengadakan pemutaran film pemenang Sundance Grand Jury Prize dan diskusi bersama para penonton di @America, Jakarta, sekaligus menjadi sesi networking antara pembuat film Indonesia dengan Hussain. 28 Agustus 2017, acara serupa digelar di Lembaga Indonesia Prancis dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Seminar dan Masterclass di Bali dalam Docs by the Sea (dokumentasi penyelenggara)

Goethe-Institut Indonesia mendukung juga forum ini dengan mensponsori kehadiran Anne Fabini, editor peraih banyak penghargaan dari Jerman yang selama lima hari penuh akan membimbing para filmmaker terpilih dalam mengedit rough-cut.

Sementara Lembaga Budaya Belanda, Erasmus Huis, antusias menghubungkan industri film dokumenter Belanda dengan Indonesia dengan menghadirkan Menno Boerema, pakar editing dari Belanda Isabel Arrate, Direktur lembaga pendanaan IDFA Bertha Fund; Laetitia Schoofs, perwakilan televisi public KRO; dan Peter van Huistee, produser film kenamaan yang proyeknya terpilih untuk pitching.

10 tamu internasional yang merupakan pembuat keputusan penting dunia dokumenter mendapat sponsor tiket dari Ford Foundation Indonesia melalui In-Docs.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top