Review

Ravi Bharwani Tentang 27 Steps of May: Pentingnya “Support System” Bagi Penyintas

Setelah jalan-jalan ke sejumlah festival internasional dan sempat mengunjungi Yogyakarta dalam pergelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2018, kini giliran Jakarta yang disambangi film 27 Steps of May (2018). Menjadi salah satu suguhan dalam Plaza Indonesia Film Festival 2019, 27 Steps of May cukup menarik atensi publik.

Film 27 Steps of May bercerita tentang seorang remaja perempuan bernama May (Raihaanun) yang menjalani masa-masa traumanya akibat kekerasan seksual. Keadaan May, turut berpengaruh pada diri sang ayah (Lukman Sardi). Hingga muncul seorang tetangga (Ario Bayu) yang mencoba memahami keadaan May dengan trik-trik sulapnya.

Film garapan sutradara Ravi Bharwani ini mencoba memotret kekerasan seksual dari perspektif korban. Sepanjang film penonton akan disuguhkan hari-hari murung May. Ravi dengan cermat memasukan unsur pengulangan yang mampu memberi kesan monoton dalam hidup May. Seperti menjalani rutinitas yang sama setiap harinya. Menyetrika sela-sela baju. Menghitung boneka. Lompat tali. Begitu seterusnya. Seolah tak ada lagi tujuan hidup May selain mengerjakan apa yang harus dikerjakan hari itu. Pengulangan demi pengulangan itu memberi pesan betapa hancurnya seorang korban pelecehan/kekerasan seksual.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana cara Ravi “berdialog” dengan penonton. Ravi dalam film ini tidak membuat May cerewet. Seolah luka yang dialami May terlalu menyakitkan sehingga kata-kata tak muat menyampaikannya. Sehingga pilihan tepat telah diambil Ravi dengan membuat May minim dialog (nyaris tanpa dialog). Ravi dengan baik memercayakan pesan-pesannya pada unsur-unsur pembentuk film. Gestur, ekspresi, kostum, properti, suara, tata letak, tata gambar, pengulangan, semua terasa pas dan tepat guna.

Baca juga: 27 Steps of May Melangkah ke Festival Film Göteborg 2019

Di sela kesibukannya, kami berkesempatan mewawancarai Ravi Bharwani membahas tentang bagaimana 27 Steps of May bermula sampai apa bocoran proyek film selanjutnya. Berikut selengkapnya.

1. Bagaimana awal proyek film 27 Steps of May ini bermula? Adakah keresahan khusus?

It started as a film about a theme which I have always been obsessed about alienation. Dua film saya yang sebelumnya juga mempunyai tema yang sama dengan ini. Inspirasi lain adalah saat kejadian Mei 1998, di mana pada saat itu banyak wanita diperkosa secara brutal. Kedua hal tersebut membuat  saya pada cerita About a women and her struggle to break away from her bubble.

Later it develops into story of rape, father, magician. As I now see it there are underlying themes that I didn’t see as we wrote, guilt , trauma . These are themes that are very close to me and my personal experiences.

2. Seperti yang telah dijelaskan, film 27 Steps of May berkisah tentang trauma seorang perempuan yang mendapat kekerasan seksual. Adakah riset/observasi tertentu? Kalau ada, apa temuan yang menarik?

Riset terbanyak dari artikel di internet, kisah dari korban  yang pernah mengalami  kejadian yang sama, buku, dan diskusi dengan psikolog.

Yang menarik adalah bagaimana begitu pentingnya seseorang menjadi bagian dalam support system bagi para penyintas.

3. Pemeran utama film ini adalah Raihaanun, adakah alasan khusus pemilihan tersebut?

Dia yang paling meyakinkan memerankan May saat casting.

4. Raihaanun dalam film ini nyaris tanpa dialog verbal, apa yang coba ditunjukkan?

Saya selalu mencoba membuat film yang tidak berhenti pada tingkatan rasional saja, tetapi pada film yang bisa menggugah emosi. Saya percaya elemen yangg dimiliki sinema (gambar, warna, editing, sound effects dll) bisa lebih kuat menyampaikan dibanding dialog.

Raihaanun minim dialog bukan karena sekadar style saja, tetapi karakternya menuntut dia seperti itu. Dalam film ini dia memerankan seseorang yang menutup seluruh cerita mengenai trauma dahsyat yang dia alami selama 8 tahun sampai dia bertemu dengan seorang pesulap.

Dua film saya yang terdahulu juga sebenarnya minim dialog. Waktu film Impin Kemarau (2004), skripnya hanya setebal 25 halaman.

5. Apa kesulitan mengarahkan aktor tanpa dialog verbal?

Untuk kesulitan tidak ada.

6. Apa rencana Ravi terhadap film 27 Steps of  May? 

Rencananya untuk 27 Steps of May akan tayang di akhir April 2019 ini. Saat ini kami sedang merancang strategi promosi untuk film ini, sambil menunggu tanggal tayang yang disepakati bersama dengan tim XXI. Semoga film ini dapat ditonton oleh penonton Indonesia seluas-luasnya.

7. Apa proyek film selanjutnya? Mungkin pembaca bisa dapat bocoran.

Proyek film selanjutnya tentu ada dan semoga jedanya tidak terlalu panjang dari film May ini. Mungkin akan coba film horor. Ha-ha-ha.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top