Festival Film Indonesia 2021
Uncategorized

Review Film: The Cow – Pengabaian Pola Familier terhadap Sinema Iran Pada Masanya

Di dalam cakupan kecil dunia sejarah film kita sering mendengar frasa ‘new wave’. Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan ‘new wave’ itu? Secara singkatnya, ‘new wave’ dalam dikotomi sejarah sinema adalah suatu aliran pembentuk sinema kontemporer yang mempunyai bentuk berbeda dengan bentuk film yang sudah ada dari masing – masing negara.

Salah satu aliran ‘new wave’ paling sering kita dengar adalah Nouvelle Vague dari Prancis dan British New Wave dari Inggris ( UK ) Nouvelle Vague terinpirasi dari gerakan Italian Neorealis yang digagas sineas asal Itali ; Roberto Rossellini sementara British New Wave adalah pengembangan dari gerakan sebelumnya yakni ‘Free Cinema’ yang digagas sebagai satement anti komersialisme.

Pada kesempatan kali ini penulis akan membahas salah satu film penting dalam salah satu gerakan new wave di luar dua aliran new wave yang telah disebutkan dan mungkin tergolong minor bagi banyak penduduk di dunia. New Wave dari negeri Iran atau ‘Iranian New Wave’ dengan film ‘The Cow‘ atau yang berjudul asli ‘Gaav’ arahan Dariush Mehrjui pada tahun 1969.

‘The Cow’ mengangkat fokus pada seorang kepala keluarga bernama Hassan yang kesehariannya sangat sayang dengan sapi peliharaannya, sampai – sampai ia menomorduakan istrinya sendiri. Masalah dimulai ketika ia meninggalkan sapinya dan menitipkannya kepada teman – temannya di desa. Sapi Hassan mati. Teman temannya pun berusaha untuk saling mnjaga rahasia agar supaya Hassan tidak tahu dan bereaksi yang tidak diinginkan.

cow-gaav

Sudah bisa diduga, Hassan kelak mengetahui hal tersebut dan benar saja ia merasa kehilangan yang amat sangat atas Sapi-nya tersebut. Pasalnya, Sapi miliknya adalah yang paling subur di desanya dan membuat sosok Hassan dihormati karena kepemilikannya atas Sapi tersebut. Dari sini film sudah mulai menunjukkan taji-nya.

The Cow bermula dengan premis yang sederhana dan langsung mengena kepada siapapun yang menontonnya. Sifat Hassan contohnya. sangat dua dimensional ; Tamak, individualis, dan sangat berorientasi keduniawian. Akan tetapi dia diposisikan sebagai pemeran utama, which is dalam moda sinema saat itu penokohan macam ini adalah tidak wajar.

Komposisi yang sederhana namun lugas tersebut digarap dengan rapi dan hebatnya secara tidak langsung mengabaikan pola – pola yang familier digunakan pada film-film masa itu. Semua dibiarkan keras, bahkan mungkin saat itu apa yang ‘diteriakkan’ film ini tidak langsung dapat disadari. Untuk satu bentuk sinema ‘pre-code’ tentunya film ini bisa dibilang sudah lebih maju dari jamannya. Berani menentang yang mungkin saat itu masih diraba oleh para penontonnya (atau mungkin malah para kru film ini sendiri).

Festival Film Indonesia 2021

Most Popular

To Top