Berita

Road to 13th JAFF: Workshop dan Pemutaran Menyambut JAFF ke-13

JAFF KE 13

Menyambut Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-13 bertajuk DISRUPTION, JAFF bersama Yayasan Sinema
Yogyakarta menggelar rangkaian Road to 13th Jogja-NETPAC Asian Film Festival.

Rangkaian ini terdiri dari JAFF Education “Finding Film Editor” dan JAFF Movie Night 2.8: Tribute to Agus Patub. Kedua rangkaian ini dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut pada 19-21 Oktober 2018 di FSMR ISI Yogyakarta.

Setiap harinya, rangkaian Road to 13th Jogja-NETPAC Asian Film Festival selalu dibuka oleh JAFF Education “Finding Film Editor”. JAFF Education “Finding Film Editor” merupakan program workshop mengenai editing yang berkolaborasi dengan INAFEd (Indonesian Film Editors), FOCUSEDucation dan Fourmix Audio Post.

Baca juga: Gemar Film Pendek #10: Film Pendek Indonesia Bicara Relasi dan Kuasa

Workshop ini dibagi menjadi tiga slot, antara lain “Editing is Creating”, “Workflow & Post-Production”, dan “Sound for Film”. JAFF Education slot pertama dibuka oleh “Editing is Creating” dengan Pulung, yang merupakan anggota INAFEd dan founder Super8mm, sebagai pembicara. Slot ini dimoderatori oleh Indra Sukmana. Pada hari kedua, JAFF Education memasuki slot kedua mengenai “Workflow & Post-Production” dengan Robin Moran, founder FOCUSED Equipmment dan Isazaly Mohd Isa, editor & Co-
founder Kino-I, sebagai pembicara.

Sebagai seorang editor, Greg Arya memoderatori slot kedua ini. Selain secara visual, suara juga bagian penting dari proses editing. Maka, JAFF Education menutup programnya dengan “Sound for Film” yang diisi oleh Satrio Budiono, Founder Fourmix Audio Post dan Krisna Purna sebagai pembicara serta Charlie Meliala sebagai moderator.

Melalui diskusi dalam ketiga workshop tersebut, muncul beberapa ide menarik. Pada dasarnya, editing adalah proses menemukan komposisi yang tepat untuk menemukan point of interest bagi penonton.

Uniknya, teknologi menjadi narasi yang selalu ada dalam diskusi di tiga workshop dengan tema yang berbeda tersebut. Misalnya, Pulung melihat bahwa teknologi memiliki dua sisi bagi editing secara umum, yaitu sebagai tantangan dan sebagai media eksplorasi.

Sedangkan, Robin Moran melihat terlalu banyaknya teknologi dalam workflow & post-production dapat menjadi kendala bagi keefektivitasan proses editing bagi editor. Namun, Isazaly Mohd Isa melihat bahwa teknologi, seperti 4K misalnya, dapat digunakan dengan baik secara terbatas di titik tertentu.

Dalam bidang tata suara, Satrio Budiono dan Krisna Purna percaya bahwa teknologi adalah salah satu yang menentukan keberhasilan proses kreatif. Misalnya saja kualitas mikrofon atau pun speaker.

Menjadi editor yang baik tidak hanya melulu soal teknis. Dalam diskusi di tiga slot workshop tersebut, seorang editor perlu untuk tekun, konsisten dan nyaman dengan apa yang ia kerjakan.

Hal ini sesuai dengan karakter alm. Agus Patub sebagai seorang editor film. Ketekunan, konsistensi dan kecintaan alm. Agus Patub terhadap dunia editing tercermin dari film-film yang telah disuntingnya.

Maka, JAFF bersama Yayasan Sinema Yogyakarta menggelar JAFF Movie Night 2.8: Tribute to Agus Patub. Selama tiga hari, 19-21 Oktober 2018, film-film yang pernah disunting oleh alm. Agus Patub diputar untuk mengenang editor film asal Yogyakarta tersebut. Pemutaran dibagi tiga slot, antar lain Memoria (2015) dan Keumala (2012) dalam slot 1, #akuserius (2016) dan Sekala Niskala (2017) dalam slot 2 serta Sendiri Diana Sendiri (2015) dan Another Trip to the Moon (2015) dalam slot 3.

Setiap slot diikuti oleh diskusi dengan narasumber yang berbeda per harinya, seperti Pulung sebagai sutradara Keumala (2012) di slot 1 yang dimoderatori oleh Indra Sukmana, Kelik Sri Nugroho sebagai DOP #akuserius dan Helmi Nur Rasyid sebagai asisten editor Sekala Niskala (2017) yang dimoderatori Shalfia Pratika, serta Ismail Basbeth sebagai sutradara Another Trip to the Moon (2015) yang dimoderatori oleh Eden Junjung.

Baca juga: Film Pai Kau Diputar di Layar-layar Alternatif

Dalam diskusi ketiga pemutaran tersebut, film dianggap menjadi medium yang utuh baik untuk membuat maupun menyampaikan persepsi. Selain itu, film juga bukan hanya hasil pemikiran sutradara tetapi juga departemen-departemen lain, tak terkecuali pemikiran seorang editor.

Dapat disimpulkan bahwa editor film memiliki peran yang esensial dalam sebuah film. Peran editor tidak hanya sekadar menyusun gambar tetapi juga membuatnya menjadi lebih hidup dan memiliki ‘rasa’. Hal itu lah yang selama ini dilakukan oleh alm. Agus Patub dalam setiap film yang disuntingnya.

Selain itu, sharing dalam proses kreatif film bekerja seperti siklus dalam kehidupan. Seiring berjalannya waktu, alm. Agus Patub yang awalnya merupakan murid dari Pulung, menjadi seorang mentor bagi murid-muridnya di bidang editing seperti Indra Sukmana, Helmi Nur Rasyid dan Eden Junjung.

Rangkaian Road to 13th Jogja-NETPAC Asian Film Festival yang terdiri JAFF Education “Finding Film Editor” dan JAFF Movie Night 2.8: Tribute to Agus Patub telah usai dilaksanakan sejak 19-21 Oktober 2018 di FSMR ISI Yogyakarta. JAFF Education mendapatkan antusiasme yang tinggi mengingat kuota peserta sudah terpenuhi dalam waktu seminggu.

Program ini diikuti oleh beragam ruang lingkup peserta dari yang berasal dari institusi terkait editing, bahkan murid SMP dan SMK sekalipun. JAFF Movie Night 2.8 juga tak kalah mendapat perhatian. Total penonton yang datang di tiga hari pemutaran berasal dari berbagai institusi dan daerah. []

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top