Festival Cinema Prancis 2021Jakarta Film Week 2021
Review

Rumput Tetangga: Mengintip Saling Sibuk Sendiri Sinema Asia Tenggara

Tulisan ini dibuat dalam rangka keikutsertaan Program Open Call: Mengalami Kineforum yang diinisiasi oleh Infoscreening.

Usai 30 hari padat merayakan Bulan Film Nasional, Kineforum kembali hadir dengan program yang juga cukup gemuk pada bulan April. Lewat tajuk Rumput Tetangga.

Kineforum menawarkan gagasan untuk mengenal budaya dan masyakarat tetangga kita, lewat sinema mereka. Asia Tenggara, yang beberapa tahun belakangan ramai dengan istilah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini, toh rupanya, sesama masyarakatnya nampak belum mengenal satu sama lain. Termasuk di dunia sinema mereka.

Kalau pun ada upaya saling berinteraksi, hanya sebatas inisiatif personal. Bukan melalui forum yang dirembugkan bersama. Beberapa film yang sempat saya tonton, diantaranya, dua sinema negeri Jiran. Lewat aliran dokumenter yang diwakili The Last Communist, dan terkahir, suguhan brilian dari Dain Said lewat Bunohannya.

Saya juga sempat menonton Sleepless, film asal Filipina. Untuk sinema dalam negeri, Ziarah adalah salah satu yang sempat saya simak, setelah terlewat saat main di bioskop jaringan.

Dari layar sinema, mungkin benar kita bisa mengenal budaya dan masyarakat negara tetangga kita. Termasuk saat saya menyaksikan The Last Communist, yang berpusat pada sejarah negeri Jiran itu menuju merdeka. Komunis di Malaysia, seperti dengan saudaranya Indonesia, dipersepsikan negatif, juga bahasan yang sensitif.

Dalam salah satu scene, seorang warga menyebut komunis itu tidak baik, meski di sisi lain Ia mengapresiasi para pengikut komunis menginspirasi pemberontakan terhadap kolonialisme di negaranya.

Film yang hingga kini masih dilarang diputar di negara asalnya, menawarkan dokumentari perjalanan ke beberapa titik jejak pelarian kelompok merah ini. Termasuk bertemu dengan para tokoh yang bergabung. Ching Pen, adalah tokoh utamanya, meski hingga akhir film tak nampak keberadaannya. Dengan bumbu satiris lewat lagu-lagu yang terselip dibeberapa bagian, membuat geli tawa sekaligus mengangguk mafhum.

Satu benang merah dengan The Last Communist, Ziarah juga mengangkat isu kesejarahan. Lewat pendekatan personal karakter Mbah Ponco, yang kabur-kaburan dari rumah yang didiami bersama cucunya.

Mbah Ponco belumlah ‘lega ati’ bila Ia belum menemukan kubur suaminya yang pamit perang. Dalam perjalanan, Ia bertemu dengan beberapa saksi sejarah terkait bagaimana kronologi kematian suaminya, yang saling bersimpangan hingga membingungkan.

The Last Communist dan Ziarah sama-sama menceritakan bagaimana saksi sejarah membicarakan kesaksiannya, dan argumentasi para pelaku sejarah selanjutnya mempersepsikan masa lalu mereka.

Dua film terakhir yang saya tonton, Bunohan dan Sleepless membahas bagaimana manusia berkutat dengan realitas mereka. Bunohan menarik bagi saya secara personal, karena memiliki unsur lokalitas kebudayaan yang boleh dikata, mistis, misterius.

Sementara Sleeples, adalah memotret manusia urban yang tersangkut dengan rutinitas kesehariannya, yang menjebak karakter utama pada kondisi ‘tidak sehat’ lantaran ritme sirkadiannya terganggu.

Durian dan Anggaran Sinema Asia Tenggara

Diskusi bersama John Badalu dari Berlinale Film Festival Delegasi Asia Tenggara dan Yosef Djakababa dari Direktur Pusat Kajian Asia Tenggara

Selain memutar sinema-sinema ASEAN, juga hadir diskusi sebagai pendamping program, dengan tajuk Sehijau Apa Rumput Tetanggaku. Menghadirkan John Badalu dari Berlinale Film Festival Delegasi Asia Tenggara, dan Yosef Djakababa Direktur Pusat Kajian Asia Tenggara.

Koridor pada diskusi ini adalah bagaimana sinema mampu menjadi batu loncatan kita untuk meneropong kehidupan masyarakat kawasan Asia Tenggara, termasuk mengenali budayanya. “Seberapa jauh kita mengenal tetangga kita? Apakah yang kita kenal adalah lewat stereotip-stereotip yang terbangun?”

“Kenapa kita di Indonesia kurang mengenal negara kita, karena mungkin negara kita paling besar, jadi terlalu sibuk dengan diri sendiri. Negara lain, contoh Singapura, pemerintahnya memandatkan harus memahami dan mengerti budaya negara tetangga. Bahkan mereka punya pusat kajiannya. Sedangkan kita tidak. Malah kita di sini, pusat kajian Eropa ada, Jepang ada, tapi kajian Asia Tenggara ini tergolong baru, dan pemerintah memberikan mandat dalam konteks komunitas masyarakat ASEAN atau yang kita kenal dengan MEA. Akhirnya ada stereotip yang muncul. Padahal sangat disayangkan karena keberagaman dari kawasan kita ini menarik sekali. Dibanding Asia Timur, atau Asia Selatan,” buka Yosef Djakababa, pada Sabtu, (14/04).

Sebagai kawasan yang telah ada secara organisasinya sejak tahun 1967, toh ASEAN pada 40 tahun awal hanyalah suatu konsep yang sangat elitis. Baru satu dekade terakhir mulai memikirkan konsep yang menyentuh lapisan masyarakat. Dengan asas non intervensi dan harmonik, Yosef mengutip pernyataan dari salah seorang kawannya, Asia Tenggara disebut konsep komunitas yang ‘kayak arisan.’

Menilik pada fokus dunia sinema Asia Tenggara sendiri, kerja sama antarpelaku perfilman saat ini masih sulit dilakukan. Sebab, belum ada hukum yang mengatur untuk kolaborasi atau co-production antarnegara.

Graphic Recorder Sehijau Apa Rumput Tetanggaku (14/4)

Kalau dari pengamatan saya, ada upaya-upaya yang berusaha dilakukan dari sesama negara Asia Tenggara untuk kolaborasi atau co-production. Namun karena belum ada penandatanganan perjanjian dari masing-masing negara untuk co-production, secara hukum/legal masih susah. “Yang ada pendekatan pribadi, misal sebuah film ada yang menggunakan kru dari negara lain. Jadi perjanjian dan diskusi berdasar individu, bukan berdasar hukum,” jelas John Badalu.

Seperti pada film Bunohan yang menggunakan jasa Herman Kumala Panca, sebagai juru suntingnya. Herman dikenal terlibat pada beberapa produksi dalam negeri, seperti pada salah satu karya Edwin, Babi Buta yang Ingin Terbang.

John Badalu melanjutkan, “Masing-masing negara (Asia Tenggara) punya bahasa sendiri-sendiri, jadi kalau ingin co-production, harus menentukan filmnya dalam bahasa apa. Kalau enggak, berarti aktornya harus belajar bahasa dari negara itu. Faktor bahasa yang sangat susah.”

Ditambah lagi, permintaan industri yang kelewat padat, membuat para sineasnya sibuk masing-masing. Sehingga, mungkin kurang sempat, menengok dapur sineas tetangga.

Mungkin, satu-satunya yang menyatukan kita sebagai negara dari kawasan ‘arisan’ adalah Durian dan produksi film yang seret anggaran dari pemerintah.

Baca juga tulisan lain dalam program Mengalami Kineforum di website kami dan tulisan-tulisan lain dari Fathurrozak.

Festival Cinema Prancis 2021Jakarta Film Week 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top