Festival Film Indonesia 2021
Pemutaran

Peduli Isu Kekerasan Seksual, CIMSA UGM Adakan Diskusi dan Putar Memoria

Artikel merupakan laporan panitia

Siapa bilang mahasiswa kedokteran hanya sibuk belajar materi perkuliahan? Mahasiswa kedokteran Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA) UGM mematahkan stigma tersebut dengan menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sosial. Pada hari Sabtu (7/4) lalu, anggota CIMSA UGM menyulap Auditorium Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM menjadi bioskop mini guna merealisasikan kepedulian mereka terhadap isu pelecehan seksual di Indonesia, khususnya di Yogyakarta.

CIMSA UGM mengadakan sebuah kegiatan bernama SATURN: Say No to Sexual Harassment, mengangkat topik mengenai kekerasan seksual dan dampaknya terhadap korban. Topik tersebut dibahas setelah dilakukannya pengkajian data yang dimiliki oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat DIY, dimana jumlah kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Yogyakarta meningkat dari 400 kasus pada 2014, menjadi 1400 kasus pada 2015. Selain itu, CIMSA UGM juga melakukan survei onlineterhadap 177 responden dengan rentang usia 16-24 tahun, hasil yang diperoleh yakni 64% pernah mengalami pelecehan seksual dan 66% pernah mendengar cerita dari orang di sekitar mereka yang mengalami pelecehan seksual. Kegiatan SATURN terdiri dari eksperimen sosial, screening film, talkshow, dan diskusi terkait isu pelecehan seksual.

Dokumentasi panitia

Film yang diputar pada acara SATURN bertajuk “Memoria”. Memoria merupakan sebuah film karya Kamila Andini. Kamila Andini sendiri diakui sebagai salah satu sutradara berprestasi di Indonesia. Bahkan, film Sekala Niskala garapannya berhasil meraih penghargaan Grand Prix for the Best Feature Film di Berlin International Film Festival 2018. Memoria menceriakan tentang seorang ibu yang menjadi korban kekerasan seksual saat terjadi perang di Timor Leste, sedangkan anaknya mencoba melindungi diri melalui pernikahan. Film ini dipilih karena merepresentasikan isu pelecehan seksual yang diangkat dalam acara ini.

Setelah film diputar, diadakan sesi diskusi bersama Dr. Suzie Handayani selaku dosen Antropologi dan Bok. Nurcahyo Budi Waskito selaku perwakilan dari United Nations Population Fund (UNFPA) Indonesia. CIMSA UGM juga mengundang Dina Wahida, M. Psi, seorang psikolog yang memiliki concern terhadap isu terkait. Selain membahas latar belakang film Memoria, mereka juga membahas banyak hal terkait realita pelecehan dan kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia. Dampak yang mungkin dialami oleh korban pelecehan seksual pun dibahas satu per satu, dengan fokus utama yang berkaitan dengan kesehatan mental korban. Para peserta sangat antusias selama mengikuti jalannya kegiatan, bahkan beberapa mengeluhkan durasi yang kurang panjang.

Kemudian,kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif bersama audiens yang dipimpin oleh Youth Association Yogyakarta. Sebagai penutup, CIMSA UGM mempersembahkan video hasil eksperimen sosial terkait respon masyarakat terhadap pelecehan seksual yang telah dilakukan sebelumnya.

Festival Film Indonesia 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top