Berita

Berprestasi di Internasional, Sekala Niskala Sajikan Lokalitas Indonesia

Setelah pelesir ke beberapa festival film di berbagai negara seperti Toronto, Tokyo, dan Berlin, saatnya Sekala Niskala pulang ke rumah. Bertemu dengan penonton yang memang menjadi penonton sesungguhnya film ini, masyarakat Indonesia.

Sekala Niskala, film yang penggarapan secara keseluruhannya hampir memakan waktu tujuh tahunan ini, bila menilik dari awal kemunculan ide, akhirnya rilis dan telah mendapat berbagai penghargaan di festival internasional. Kamila Andini, sang sutradara, telah menanam benih kelahiran Sekala Niskala sejak selesai ‘anak pertamanya’ lahir, The Mirror Never Lies.

Berkisah tentang kembar buncing (kembar perempuan-laki-laki), yang harus menghadapi realitanya, saat Tantra (Gus Sena), mengalami sakit dan mulai kehilangan kesadaran indranya perlahan. Tantri (Thaly Titi Kasih), sang kakak, harus menjalani hari-harinya sendiri tanpa kehadiran si adik yang biasa menemaninya bermain.

Tantri pun memiliki waktu bertemu sang adik, saat ia harus menungguinya di rumah sakit. Setiap malam, Tantri terbangun dari tidurnya, untuk mengajak Tantra bermain, dalam dunia antara yang nampak dan tak nampak, antara yang nyata dan tak nyata.

Dalam adegan pembuka film, Tantra mengambil telur yang menjadi bagian dari sesaji yang ditaruh di sawah tak jauh dari rumahnya. Kemudian, Tantra meminta Tantri untuk memasaknya. Meski Tantri telah mengingatkan apabila ketahuan ibu mereka, ia akan dimarahi, Tantra tetap meminta kakaknya untuk memasak telur yang diambilnya dari sesaji itu. Tak lama setelah mereka makan, kita tidak tahu apa yang terjadi, sampai akhirnya Tantra tak berdaya di kasur rumah sakit.

Dalam konferensi pers seusai pemutaran perdana Sekala Niskala di Plaza Indonesia, yang tergabung dalam ajang Plaza Indonesia Film Festival (PIFF), Kamila Andini menyebutkan, ia ingin menggali siapa dirinya sebagai pembuat film. Lewat Sekala Niskala, ia ingin menyuguhkan siapa sebenarnya kita, masyarakat Indonesia.

Baca juga: Plaza Indonesia Film Festival Kembali Digelar

“Memang dalam hal ini saya selalu memperlakukan film sebagai anak saya. Saat mau membuat film, pertanyaan terbesarnya adalah siapa saya? Sebagai proses bertanya pada diri, menggali diri saya ini siapa sebagi kreator, itu ide dasarnya.”

Dini, sapaan akrabnya, kemudian melanjutkan, “Siapa saya sebagai orang Timur, yang memiliki konsep relasi, filosofi, dan selalu mempercayai akan adanya dua dunia itu seperti apa sih, koneksinya, kita masyarakat Indonesia ini kan sangat holistik, komunal, dan memiliki inner relasi satu sama lain, itulah yang ingin saya gali dan ingin saya perlihatlkan. Apa lagi di dunia film yang sekarang sudah borderless, baik dari style, mau yang Eropa, Amerika, Asia. Atau juga secara latar filmnya, seperti film-film Indonesia yang juga sudah banyak menggunakan lokasi di luar negeri. Di dunia yang makin ‘kecil’ ini, saya justru ingin melihat akarnya. Ketika dunia makin dekat, bahkan bisa kita jangkau juga lewat sosial media, penting untuk menggali sesuatu yang benar-benar untuk mengetahui kita ini siapa, akarnya dari mana?”

Apresiasi dan Pecutan

Gagasan ketimuran, dalam sinema Indonesia sebenarnya belakangan mulai dilirik oleh beberapa sineas, melihat dari teknologi yang memungkinkan untuk menjangkau ruang yang mampu menangkap keIndonesiaan kita.

“Kalau lihat belakangan, beberapa sineas juga punya konsen ke tema-tema Indonesia, dan keberagaman, contohnya seperti film Marlina, atau juga Riri Riza yang sempat produksi filmnya di Makassar. Termasuk juga Sekala Niskala yang saat dibawa ke luar negeri, saat orang sudah tahu, latarnya adalah Bali, yang mereka bayangkan adalah pantai, turis, tetapi begitu melihat filmnya, mereka kaget, dalam hal yang positif ya. Penting untuk mengembalikan film pada rootnya, karena teknologi sudah memungkinkan menjangkau ruang yang sebelumnya susah. Sekarang sangat mungkin untuk masuk ke kultur yang sebelumnya tidak tersentuh,” ujar suami Kamila Andini, Ifa Isfansyah, Senin, (26/02).

Banyak penghargaan yang telah diraih film yang ternyata memiliki banyak kru perempuan dalam keterlibatan pembuatannya ini, terbaru, mendapat penghargaan di Berlinale International Film Festival, dalam program Generation Kplus (Kinderplus).

Sejak tayang perdana di ajang Toronto International Film Festival, penghargaan lain yang didapat dari film yang juga dibintangi Ayu Laksmi ini, antara lain, Film Remaja Terbaik dalam Asia Pasific Screen Award (ASPA) 2017, Grand Prize Tokyo FILMeX. Festival dalam negeri, seperti Jogja-NETPAC Asian Film Festival juga menyematkan penghargaan Golden Hanoman Award, yaitu penghargaan tertinggi dalam festival tersebut. Semua penghargaan yang diraih adalah di tahun 2017, kecuali di Berlin, tahun 2018.

“Pastinya sangat relieve, bagi kreator ya, setelah lima tahun, kita melewati proses panjang, dari yang awalnya muncul ide, kemudian masih mencari siapa yang mau kita ajak untuk proyek independen ini. Tapi ya ternyata kita bisa. Dan terima kasih sekali kita banyak dapat apresiasi dari internasional juga. Ini juga menjadi pecutan untuk para film maker independen lain, meskipun kita punya limitless misal dalam dana, tapi bukan menjadi alasan kita nggak bisa bikin film yang berkualitas,” tutup Gita Fara, produser Sekala Niskala.

Setelah hadir di Plaza Indonesia dalam PIFF, Sekala Niskala (The Seen and Unseen), akan tayang serentak di bioskop jaringan mulai 8 Maret, momen yang tepat untuk kita bisa membaca siapa kita dan dari mana akar kita berasal.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top