Festival Film Indonesia 2021
Berita

Sound of X: Menghidupkan Memori Bebunyian Kenyamanan di Jakarta

Peta Jakarta dan Walkman yang digunakan untuk membuat tape loops © John Navid

Siaran Pers

Goethe-Institut telah merilis video bunyi lingkungan (soundscape) terbarunya berjudul Invisible Comfort. Video soundscape ini merupakan kreasi Lie Indra Perkasa (komposer) dan John Navid (pemain drum dan perkusi White Shoes & the Couples Company) dalam rangka menghidupkan kembali bebunyian kenyamanan yang hilang di Jakarta. Karya mereka dapat ditonton di kanal YouTube Goethe-Institut Indonesien.

Invisible Comfort adalah bagian dari proyek digital internasional Sound of X, sebuah inisiatif dari Goethe-Institut yang pertama kali diluncurkan pada tahun 2020. Sound of X menampilkan latar bebunyian sebuah kota yang sering diabaikan. Menggunakan suara, kebisingan, dan akustik, seniman dan musisi dari berbagai negara mengeksplorasi lingkungan sonik masing-masing dalam rangka mengusulkan cara unik untuk memulihkan hubungan dengan kota dan ruang yang kita diami, khususnya dalam masa pandemi COVID-19.

“Kami bersemangat dengan adanya proyek Sound of X dan kami merasa seseorang harus menciptakan sesuatu yang unik sebagai representasi kehidupan di Jakarta. Indra Perkasa dan John Navid adalah duo yang tepat untuk melakukan hal itu, karena mereka sama-sama berhasrat menyampaikan cerita mengenai Jakarta dan bahkan sempat berencana mengerjakan proyek serupa. Kami berharap penonton dapat berpaling sejenak dari rutinitas mereka selama isolasi dan terhubung kembali dengan Jakarta melalui video pendek ini. Lokasi-lokasi pilihan Indra dan John untuk pengambilan gambar dalam rangka memperlihatkan berbagai wajah Jakarta sungguh memukau,” kata Elizabeth Soegiharto, koordinator program Goethe-Institut Indonesien, Jumat (16/7).

Konsep Invisible Comfort mengacu kepada semua hal di Jakarta yang sudah jarang terlihat, namun memberi kenyamanan. “Bagi sebagian besar orang, kehidupan di kota besar seperti Jakarta melulu diisi dengan bekerja. Melarikan diri dari rutinitas sulit dilakukan, sehingga kenyamanan dari keseharian pun terlupakan. Saat menggarap proyek ini, satu hal yang kami temukan ialah rasa nyaman yang kita kenal di masa lalu sebenarnya masih ada, tersembunyi di depan mata. Kita mungkin tidak selalu menyadarinya, tapi kita masih bisa mendengarnya di tengah kerumunan orang, di sela-sela rutinitas,” ucap Indra, komposer dalam video soundscape ini.

Untuk mencari suara kenyamanan yang hilang, Indra dan John merekam suara-suara dan membuat video di semua penjuru Jakarta selama lebih dari 2 minggu pada bulan Mei 2021. John, selaku Director of Photography proyek ini, menambahkan, “Kami mengunjungi semua kota administrasi di Jakarta dan mengeksplorasi Pasar Malam Cengkareng, Rumah Duka Jelambar, Glodok, Pasar Senen, Pasar Poncol, dan banyak tempat lagi. Selama proyek ini, kami mendatangi lebih banyak sudut-sudut Jakarta dari yang pernah kami datangi dan kami banyak menemukan hal-hal baru.”

Eksplorasi mereka disajikan dalam video soundscape berdurasi lima setengah menit yang berisi suara-suara keseharian yang memikat. Mulai dari suara klakson kereta api, derit rel, orang berkaraoke, hingga berbagai suara yang terkait dengan jajanan jalanan—jingle dan suara lainnya yang digunakan penjual untuk menarik pelanggan,
serta suara saat proses pembuatan makanan berlangsung.

Indra Perkasa saat merekam suara untuk proyek Sound of X / Jakarta © John Navid

Suara khas jajanan jalanan menjadi elemen penting dalam proyek ini untuk memperlihatkan kenyamanan yang hilang versi Indra dan John. Karena sama-sama besar di Jakarta, keduanya mempunyai kenangan manis mengenai jajanan jalanan berikut suara khasnya, seperti bunyi melengking yang terdengar dari gerobak kue putu, denting suara sendok beradu mangkok kecil berisi sekoteng, sampai bunyi tuk-tuk-tuk dari kentungan bambu tukang bakso keliling.

Untuk proyek ini, Indra bereksperimen dengan Walkman untuk membuat tape loops. Ia menjelaskan bahwa beberapa rekaman suara seperti penjual tahu bulat dan jingle es krim Miami disampel lewat pita kaset lama untuk membuat tape loops, dan kemudian diproses lebih lanjut. Indra menambahkan, “Saya melakukannya karena merasa ini cocok dengan tema proyeknya, yaitu membuat efek berulang. Ini juga menggambarkan proses kehidupan urban di mana segala sesuatu dalam hidup itu berulang.”

Baca juga: Arthouse Cinema 2021: Menyelami Gerakan Sinema Baru Jerman Lewat Pemutaran Film dan Pembacaannya

Tentang Goethe-Institut
Goethe-Institut merupakan lembaga kebudayaan Republik Federal Jerman yang aktif di seluruh dunia. Lembaga ini mempromosikan pengajaran bahasa Jerman di luar negeri dan mendorong pertukaran budaya antarbangsa. Goethe-Institut juga menyampaikan gambaran menyeluruh mengenai Jerman melalui informasi tentang kehidupan politik, sosial dan budaya di Jerman. Beragam program budaya dan pendidikannya menyokong dialog antarbudaya dan memfasilitasi partisipasi kultural.

Tentang Lie Indra Perkasa
Perjalanan musiknya berawal sejak SMP pada usia 12 tahun. Ia telah tampil dan membuat rekaman bersama banyak musisi, termasuk di antaranya: Tomorrow People Ensemble, Mian Tiara, Indra Lesmana, dan Andien. Indra berpengalaman sebagai pembuat aransemen, pengarah musik, produser/pembuat aransemen. Sebagai pembuat musik film, ia terlibat dalam pembuatan sejumlah film, di antaranya Tabula Rasa (2014), Banda the Dark Forgotten Trail (2017), Bebas (2019). Saat ini Indra aktif sebagai komposer dan pembuat aransemen musik film, sebagai pemain bas untuk Tomorrow People Ensemble dan Monita Tahalea, serta sebagai pengajar film scoring di Sjuman School of Music.

Tentang John Navid
Lahir di Binjai pada tanggal 10 September 1981. John belajar perkusi pada tahun 2000 dan lulus dari Institut Kesenian Jakarta tahun 2007. Ia bergabung dengan band White Shoes & the Couples Company sebagai pemain drum dan perkusi dari tahun 2003 sampai sekarang. Band tersebut telah menjalani tur ke sejumlah festival di luar negeri dan membuat beberapa album dan musik untuk beberapa film Indonesia. John mulai berminat kepada fotografi pada tahun 2008, ketika band itu melakukan tur di AS selama festival “SXSW”. Ia menjadi kontributor untuk beberapa majalah daring di Jakarta dan telah berpartisipasi dalam sejumlah pameran foto dan seni. Saat ini ia tinggal di Jakarta dan mengajar drum di Sekolah Jerman Jakarta.

Festival Film Indonesia 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top