Festival Film Indonesia 2021
Berita

Tempat Belajar Eksperimentasi Visual itu Disebut “Milisifilem”

Jakarta – Yuki Aditya, direktur festival ARKIPEL (Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival) dalam suatu wawancara dengan Infoscreening mengatakan bahwa film eksperimental mempunyai peran sebagai penyeimbang terhadap film  arus utama, serta selalu memiliki dahaga untuk mencari temuan-temuan baru dalam bercerita dan visualisasinya. Film arus utama dan film eksperimental bisa saling mengisi; yang satu adalah komoditi industri, sementara yang satu lagi adalah sebagai tempat belajar.

Atas dasar pembelajaran itulah, sebagai salah satu agenda ARKIPEL Homoludens yang diinisiasi oleh Forum Lenteng, proyek Milisifilem Collective lahir.

Baca juga: Membuka ARKIPEL 2018 dan Memahami Gagasan Tentang Homoludens

Kegiatan Milisifilem Collective

Sejalan dengan apa yang dikatakan Yuki Aditya, Hafiz Rancajale (ARKIPEL Homoludens Chairperson – Artistic Director) pada saat penayangan perdana proyek Milisifilem (11/8) mengatakan,  proyek Milisifilem merupakan tempat belajar eksperimental visual. Penayangan perdana proyek ini didukung oleh Pusat Pengembangan Film, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Milisifilem sendiri sebelumnya telah meluncurkan sebuah proyek dokumenter perdana yang berjudul “Golden Memories: petite histoire of indonesian cinema”. Sementara untuk Milisifilem Collective (batch 1) adalah sebuah kelas yang membentuk lima kelompok. Tiap kelompok terdiri dari tiga orang. Mereka diberikan tugas untuk membuat film pendek hitam putih dengan berdurasi paling tidak lima menit.

Sejak bulan Maret lalu, kelima kelompok secara kolaboratif merumuskan premis dan ide filmnya masing-masing, melakukan proses syuting serta editing yang mengikuti sesudahnya. Sementara fasilitator yang ada hanya bertindak sebagai konsultan. Hasilnya adalah lima film hitam putih yang beragam dalam bentuk maupun durasi.

Kenapa hitam putih?

Manshur Zikri, salah satu peserta Milisifilem Collective batch 1 (yang juga kurator film ARKIPEL Homoludens) mengatakan bahwa proyek Milisifilem Collective ini adalah proyek perdana. Oleh karena itu, dikaitkan dengan bentuk awal dari film, maka warna dasar hitam putih dipilih.

Film-Film dari Milisifilem

Lima film yang dihasilkan oleh lima kelompok ini adalah: Into The Dark, Cut, Karib, Aksi Reaksi, dan Pagi yang Sungsang. Meski dengan tujuan eksperimentasi sama, sebetulnya lima film ini memiliki perbedaan tema dan gaya sendiri-sendiri.

Still image dari film Karib. Sumber: http://arkipel.org/arkipel-homoludens-special-screening-03/

 

Berikut sinopsis singkat film-film pendek tersebut yang dikutip dari siaran pers:

Into the Dark
(Dhuha Ramadhani, Luthfan Nur Rochman, Maria Christina Silalahi)
Filem ini mencoba masuk ke dalam pengalaman menegangkan yang dirasakan oleh korban penculikan. Dari sebuah pematang sawah seorang petani muda dijemput paksa. Suasana gelap di dalam mobil box yang melakukan perjalanan panjang sesekali memberi secercah harapan lewat beberapa kemungkinan melarikan diri saat mobil berhenti. Seorang penjaga di dekat pintu tidak melepaskan pandangannya dari si korban. Mobil berjalan menuju kegelapan. Keduanya terlibat dalam upaya mempertahankan lahan sawah sejumlah warga.

CUT
(Dhanurendra Pandji, Robby Ocktavian, Theresia Farah Umaratih)
Di ruang terpisah, seorang mahasiswa filem menggunakan potongan-potongan seluloid yang disusun ulang sebagai medium untuk berinteraksi dengan kekasihnya.

Karib
(Afrian Purnama, Anggraeni Widhiasih, Yuki Aditya)
Sebuah potret persahabatan tiga orang perempuan muda urban yang harus mengalami sebuah momen kehilangan ketika salah seorang di antaranya menemui ajal. Bagaimana kedua yang tersisa harus menghadapi persahabatan mereka yang sekarang, sejarah mereka, dan rasa duka untuk mengantisipasi yang akan datang selagi tetap menjalani kehidupan di hiruk pikuk perkotaan.

Still image film Aksi Reaksi. Sumber: http://arkipel.org/arkipel-homoludens-special-screening-03/

Aksi Reaksi
(Dini Adanurani, Mia Aulia, Wahyu Budiman Dasta)
Merespon aktivisme Warkop DKI pada masanya, filem ini merekonstruksi image-image dari beberapa film tersebut menjadi sebuah karya baru dalam bentuk kolase bergerak. Visual turut dipermainkan dan dieksperimentasikan dalam usaha menciptakan dan menggabungkan ruang-ruang baru menggunakan berbagai medium. Melalui filem ini, para kreator berusaha menganalogikan munculnya sebuah perubahan, dampaknya kepada lingkungannya, dan bagaimana masyarakat luas bereaksi terhadap perubahan tersebut.

Pagi yang Sungsang
(Manshur Zikri, Pingkan Persitya Polla, Prashasti Wilujeng Putri)
Tubuhnya yang kekar terbuat dari besi-besi yang berat. Tak ada yang berani mengganggu ketenangan tidurnya selain bunyi peluit petugas keamanan. Suara peluit semakin kencang, memaksanya untuk bangun dari tidur yang panjang. Ia meregangkan otot, menunggu saat yang tepat untuk beraksi. Ketika desiran sapu-sapu lidi yang menggores tanah terdengar semakin berisik, itulah tanda bahwa sampah-sampah untuknya telah disiapkan. Ia harus menuntaskan tugasnya segera: bergerak perlahan lalu merayap sekencang-kencangnya di antara gang-gang yang sempit, membelah kerumunan manusia-manusia.

Tonton juga: Infoscreening Kulik-kulik #3 Bareng Yuki Aditya: Film Eksperimental, Arkipel, dan Forum Lenteng

Milisifilem, seperti hakikat film eksperimental itu sendiri memberikan kebebasan yang tidak terbatas untuk para peminatnya. Seperti hakikat Homoludens, mereka bermain dengan bebas terhadap ide, penceritaan, dan visualisasi yang mereka kreasikan. Milisifilem bisa menjadi tempat belajar dan bermain yang kondusif dan efektif, sebelum mereka lulus dan meraih kebebasan lain untuk selanjutnya menjadi apa.

Festival Film Indonesia 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top