Italian Film Festival 2021
Uncategorized

The Terrible, The Tears, The Spirit: Refleksi Partisipasi Europe on Screen 2016

Diterbitkan pertama kali di notes Facebook Fajar Zakhri

Tulisan ini dibuat dalam rangka kompetisi menulis Festival Journal – Europe on Screen 2016 oleh Infoscreening.

“Everything terrible is something that needs our love”

Kutipan dari R.M. Rilke ini membuka film paling favorit saya dari Europe on Screen (EoS) 2016: “White God”. Saya memiliki semacam filosofi bahwa setiap kali saya datang ke festival film apa pun, pasti ada satu film yang pantas ditonton sebanyak kedua kali (yang berarti saya rela kehilangan kesempatan menonton satu film lain yang mungkin saja tak kalah bagusnya) dan tahun ini, film asal Hungaria itulah yang mendapat kehormatan tersebut.

Film dan kutipan tersebut kurang lebih merangkum spirit EOS 2016 yang bagi saya terasa lebih melankolis sekaligus lebih humanis, lebih dramatis sekaligus lebih imajinatif. Saya merasa bahwa banyak film di EoS 2016—baik film fiksi dan dokumenter—yang menampilkan sisi terrible dari kehidupan dan kepribadian manusia, dan bagaimana sebenarnya sisi inilah yang perlu dirangkul, dan kemudian dicintai, demi kemaslahatan bersama. Hal ini, sekaligus ketegangan dan kerumitan hubungan manusia dengan sesamanya (dan dengan makhluk hidup lain), pun digambarkan dengan sangat cerdas dan, ya, imajinatif dalam “White God”, menggunakan berbagai metafora dan jukstaposisi yang sungguh menyentuh dan sukses membuat saya menangis berkali-kali selama dan setelah menonton film tersebut, atau jika ingin menggunakan istilah kekinian, saya berulang kali mengalami apa yang disebut dengan “baper”.

“Baper” tampaknya menjadi emosi utama saya selama EoS 2016. Entah mengapa, kebanyakan film yang saya tonton pasti memiliki setidaknya satu adegan yang membuat saya menitikan (atau mencucurkan) air mata, atau sekurang-kurangnya menahan nafas sedemikian rupa untuk kemudian dihela dengan perasaan yang berat. Alih-alih melihat ini sebagai hal yang memalukan, buat saya ini adalah proses katarsis tersendiri yang sebenarnya saya butuhkan sekaligus sebuah pertanda bahwa film-film yang saya tonton memang berkualitas. Keyakinan saya adalah, film yang bagus adalah film yang membuat saya berpikir dan/atau merasakan sesuatu, dan banyak film di EoS 2016 yang memiliki dampak tersebut bagi saya.

Selain “White God”, ada film “Italo Barocco” yang juga memiliki tokoh sentral seekor anjing namun bernuansa lebih ringan. (Lagi-lagi di akhir film ini air mata saya bercucuran). Film lainnya yang juga sarat akan metafora dan jukstaposisi antara manusia dan hewan adalah “The Lobster”, yang sepertinya menjadi film paling diminati tahun ini. Tak heran, karena film ini memang memiliki ide dan penulisan skrip yang sungguh cerdas didukung dengan penampilan yang brilian dari para aktor dan aktrisnya, yang memang kebanyakan sudah terkenal akan kualitas aktingnya (favorit saya Ben Whishaw juga ternyata ikut muncul di sini!).

Berbicara soal aktor dan aktris brilian, salah satu penampilan paling favorit saya adalah akting Marion Cotillard dalam “Two Days, One Night”. Beliau tampil begitu alami dalam menggambarkan naik-turunnya keadaan emosional seseorang yang menyandang depresi, namun entah mengapa (mungkin karena beliau orang Prancis) tetap terlihat sungguh effortlessly chic di saat yang sama. Filmnya sendiri pun cukup relatable bagi saya, dan lucunya—mungkin semesta memutuskan untuk bermain dengan saya—saat saya sedang menonton film tersebut, seorang teman tiba-tiba mengirim pesan dan menanyakan kapan saya bisa membayar kembali uang yang saya pinjam darinya bulan lalu. Ini memang cukup mengganggu pengalaman menonton saya, namun seperti karakter Sandra di akhir film tersebut, saya pun memutuskan untuk tidak terlarut dalam perasaan terganggu itu dan menguatkan diri kembali dalam menjalani hidup.

Semangat mengatasi tantangan hidup ini—dengan segala carut-marutnya—pun saya temukan di banyak film lain, seperti Sonita (film yang satu ini sungguh memberikan saya inspirasi dan semangat untuk terus bermusik), “Toto and His Sisters dan Life Feels Good”. Judul yang terakhir, khususnya, adalah satu dari sedikit representasi penyandang cacat fisik dalam sinema yang sangat bagus dan menunjukkan bahwa memang spirit manusia sungguh tidak memiliki batas. (Bisa ditebak, air mata saya pun kembali jatuh saat menonton film tersebut).

Di samping itu, saya memperhatikan bahwa keluarga merupakan semacam underlying theme dari kebanyakan film yang saya sebut, atau akan sebut. “White God” dan “Italo Barocco” sama-sama menampilkan dinamika relasi ayah dan anak, begitu pula dokumenter yang jenaka sekaligus menyentuh “Cesar’s Grill, Intrepido: A Lonely Hero” yang sungguh menghangatkan hati serta “The Judgement” yang… kembali membuat saya menangis. (Special mention untuk “Abi Means Papa”—film dengan rasa paling Indonesia di EoS 2016).

Saya bersama Armin Tobler (paling kiri), Simon Gutknecht (paling kanan) dan seorang wanita yang saya tidak tahu namanya dari dokumenter Abi Means Papa di Erasmus Huis, Jakarta, Senin (3/5) malam.

Dinamika dan turbulensi dalam relasi pernikahan pun turut ditampilkan dalam “Two Days, One Night”,45 Years” (yang juga merupakan satu dari sedikit representasi pernikahan di usia senja dan tanpa anak dalam sinema yang sangat bagus) dan “Force Majeure” yang, meskipun secara keseluruhan terasa kurang menggigit, memiliki momen-momen yang menggelitik.

Ini kemudian membuat saya berpikir. Memang betul bahwa keluarga, sebagai unit paling dasar dalam hierarki sosial kita, memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk diri kita dan menentukan relasi kita dengan pihak-pihak lain di dunia luar. Terkadang, kita harus berani meninggalkan keluarga demi kemajuan diri sendiri dan masa depan yang lebih baik seperti dalam “Sonita”; terkadang pula, kita harus kembali ke keluarga untuk berekonsiliasi dengan masa lalu, agar masa depan bisa menjadi lebih baik seperti dalam “Cesar’s Grill”. Sekali lagi terbukti bahwa memang sesuatu yang terrible adalah sesuatu yang sehendaknya dirangkul dan diutarakan, untuk kemudian diperbaiki.

Suasana mengantri tiket film Bikes vs Cars di Erasmus Huis, Jakarta, Minggu (2/5) siang. Saya memakai kaus merah dan kemeja kotak-kotak berwarna biru-putih.

Hal ini juga menjadi premis dokumenter lain, “Bikes vs Cars”, yang menunjukkan bahwa spirit manusia (sayangnya) tidak selalu berkonotasi positif, karena tidak bisa dinafikan bahwa ketamakan dan kesombongan juga inheren dalam diri manusia. Film ini benar-benar menyadarkan saya akan betul sekali adanya bahwa kita hidup di masyarakat yang begitu berorientasi kepada dan mengagungkan hal-hal materiil, seperti mobil. Bahwa memiliki mobil (atau jenis mobil tertentu) adalah sebuah bentuk prestise, sebuah simbol kedigdayaan, kenyamanan, sementara kita tidak menyadari bahwa di saat yang sama kita tidak lagi terhubung dengan alam kita, dengan tanah yang kita jejaki, udara yang kita nafasi dan langit yang menaungi… dengan hal-hal paling fundamental dalam kehidupan dan kemanusiaan kita. Kita kemudian memilih berlindung di balik mesin, mengacuhkan segalanya dan menganggap diri lebih baik, lebih kuat, lebih benar. Poin serupa juga digambarkan dalam Timbuktu, di mana agama menjadi mesinnya. Dua film ini (yang kebetulan juga saya tonton di hari yang sama) termakhtub dengan brilian dalam lirik lagu “Places” dari Lou Doillon:

“We built the machines / The trains, the planes / The cars of our dreams to reach out / For places, no one can find. We figured it out / Creation and God / Imposed our beliefs because they’re better than yours / Don’t you know it?”

Dan ya, saya tahu bahwa semua itu memang terrible. Terlalu banyak hal yang terrible di dunia ini. Namun, saya sungguh bersyukur bahwa melalui kurang lebih 22 film yang saya tonton (tanpa biaya!) selama 9 hari di EoS 2016, spirit saya terasa mengalami pencerahan. Setelah festival ini selesai, saya pun menyadari bahwa saya ingin lebih banyak mencintai—bahkan hal-hal yang dianggap buruk atau hina. Saya ingin lebih terhubung dengan alam, dengan tanah, udara dan langit. Saya ingin lebih banyak berbuat baik. Saya ingin berekonsiliasi dengan masa lalu. Saya ingin menciptakan masa depan yang lebih baik. Saya ingin menjadi lebih manusiawi seperti “Italo”, Hagen dan anjing-anjing lainnya dalam “White God”. Saya ingin lebih banyak menangis. Dan sekarang saya akan menangis lagi.

Italian Film Festival 2021

Most Popular

To Top