Festival Film Indonesia 2021
Berita

UCIFEST 12: Keterbatasan sebagai Peluang Baru dalam Berkarya

Mahasiswa prodi film Universitas Multmedia Nusantara kembali mengadakan acara tahunannya yaitu UCIFEST – UMN Animation and Film Festival ke-12 yang diadakan secara daring. Keterbatasan penyelenggaraan acara akibat pandemi Covid-19 tidak membuat UCIFEST berhenti menjadi wadah apresiasi karya bagi para pelajar dan mahasiswa di Indonesia. Pada tahun sebelumnya, UCIFEST 11 juga terpaksa harus banting setir dengan diadakan secara daring. UCIFEST termasuk film festival pertama yang menggunakan konsep daring di Indonesia.

UCIFEST 12 memfasilitasi terbangunnya kemampuan dan pengetahuan di bidang film melalui berbagai program seperti diskusi, pitching forum, hingga pemaparan materi dari filmmakers profesional. Selain itu, program yang selalu ditunggu adalah pemutaran karya-karya film pendek terbaik hasil seleksi. UCIFEST 12 dilaksanakan sejak hari Senin, 05 April 2021 lalu, sampai dengan Senin, 12 April 2021 melalui kanal Youtube UCIFEST.

Kompetisi Film Pendek UCIFEST 12 menerima total 284 karya film fiksi, animasi, dan dokumenter. Panitia menyeleksi 23 karya kompetisi dan 34 karya non-kompetisi selama festival berlangsung. Film yang telah terkurasi terbagi dalam lima kategori kompetisi, yaitu  Fiksi Mahasiswa, Animasi Mahasiswa, Dokumenter Mahasiswa, Fiksi Pelajar, dan Animasi Pelajar. Dalam rangka merayakan Hari Film Nasional, UCIFEST 12 juga memamerkan poster film secara online sejak 30 Maret hingga 12 April 2021.

“… dengan mengambil tema Astronomika, UCIFEST 12 ingin menunjukkan lebih luas tentang kondisi dunia luar saat ini. Pandemi tidak melulu soal ‘dibatasi’ tetapi banyak hal positif yang dapat dijadikan sebagai peluang baru dalam berkarya,” tutur Sukhadharmi Padmalauwaty selaku Festival Director UCIFEST 12 dalam siaran pers melalui Zoom Meeting.

Pembukaan UCIFEST 12 diselenggarakan pada Senin, 05 April 2021 dengan memutar 11 film karya mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara. Pemutaran film kompetisi terbagi menjadi empat program, yaitu: Kematian Dunia, Kehidupan Manusia, Mimpi dan Angan, Terbentur untuk Terbentuk, dan Tangan Kanan, Tangan Kiri.

Kematian Dunia, Kehidupan Manusia

Program Kematian Dunia, Kehidupan Manusia menayangkan enam film pendek yang menyampaikan perspektif dan makna yang baru dalam menjalani masa pandemi. Film-film yang diputar dalam program ini antara lain Sisa Suara, Surga di Tanah Sendiri, Give, Sedina, Dunia Maya dan Masa Depan Cerah 2040.

Mimpi dan Angan

Film-film dalam program ini menggambarkan jiwa-jiwa yang memiliki keinginan dan angan yang tidak dapat tercapai karena berbagai faktor, namun bukan berarti hidup mereka berakhir begitu saja. Film-film tersebut antara lain: Asa, Seroja, A ‘Normal’ Day for Art Students, Tuyul & Pak Yul, dan Pindah Ke Bulan.

Terbentur untuk Terbentuk

Luka, makian, dan sakit hati telah menjadi makanan sehari-hari, proses yang membuat kita bertumbuh. Perjalanan hidup menjadi saksi untuk berproses, berkembang, hingga pada akhirnya berhasil. Entah berapa benturan yang harus dihadapi, rasa tidak ingin menyerah akan kembali. Keinginan dan usaha harus dijalani bersamaan, walaupun kadang butuh bantuan orang lain untuk dapat berhasil. Seperti itulah gambaran dari keenam film yang diputar dalam program Terbentur untuk Terbentuk : Hide N’ Run, Y-Rama, Lebih Cina dari Orang Tionghoa, Dapur Ompung, Terima Kost Putra, dan Warta Layang.

Tangan Kanan, Tangan Kiri

Program Tangan Kanan, Tangan Kiri menggambarkan perilaku manusia yang dapat dianggap benar atau dianggap salah, semua tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Film-film yang diputar dalam program ini antara lain Kampung Ghibah, Truth Finds A Way, Pitik, Takio, Shohibul, dan Lihat Dulu Kiri, Kanan.

UCIFEST 12 Sebagai Sarana Edukasi

Tidak hanya fokus pada kegiatan pemutaran dan diskusi, UCIFEST 12 juga mengadakan program “Seminar Visual Effect Film Inodnesia” bersama Gaga Nugraha. Dilanjutkan dengan program Pitching Forum pada hari selanjutnya yang bekerja sama dengan Europe On Screen. Pitching Forum ini bertujuan untuk mengangkat kembali semangat berkarya pembuat film di kalangan pelajar. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Director’s One on One bersama Hanung Bramantyo dan Robby Ertanto yang membagikan pengalaman mereka selama berada di dunia perfilman Indonesia.

Memasuki hari keempat UCIFEST 12, diselenggarakan pemutaran dua program dokumenter, Constellation: Festival Film Dokumenter dan Feature Rotation. Program ini berupa pemutaran dan diskusi Nominator Film Panjang Dokumenter Terbaik FFI 2020, Between The Devil and The Deep Blue Sea bersama Dwi Sujanti Nugraheni. Program Constellation: Festival Film Dokumenter mengajak kita menerima dan memahami sebuah peristiwa kemudian bergerak maju dari peristiwa tersebut.

Selain program Constellation: Festival Film Dokumenter, tiga program non-kompetisi lainnya adalah; Constellation: Galaxy yang diisi oleh film-film terpilih dari mata kuliah Future Media Technology dan Visual Effects Universitas Multimedia Nusantara; Constellation: Jupiter yang bercerita tentang mereka yang sedang memperjuangkan nasib cintanya; program Official Selection yang bertujuan untuk memperlihatkan perjuangan yang ada dari diri kita untuk menerima dan beradaptasi dengan keadaan yang ada.

Pemenang UCIFEST 12

Acara penutupan dan pengumuman pemenang UCIFEST 12 diselenggarakan pada Senin, 12 April 2021 melalu kanal Youtue UCIFEST dengan 9 kategori penghargaan yaitu: Film Pendek Animasi Pelajar Terbaik, Film Pendek Fiksi Pelajar Terbaik, Film Pendek Animasi Mahasiswa Terbaik, Film Pendek Fiksi Mahasiswa Terbaik, Film Pendek Dokumenter Mahasiswa Terbaik, Film Favorit Pilihan Penonton UCIFEST 12, Poster Film Favorit UCIFEST 12, dan Pitching Terbaik UCIFEST 12.

Terlibat sebagai juri dalam kompetisi film pendek, antara lain: Hanung Bramantyo, Ertanto Robby, Gaga Nugraha, Chonie Prysilia, dan Anita Reza Zein. Selain itu, Meninaputri Wismurti dan Nauval Yazid dari Europe On Screen juga turut terlibat dalam UCIFEST 12 sebagai juri dari program Pitching Forum.

A “Normal” Day for Art Students berhasil meraih kategori Film Pendek Animasi Pelajar Terbaik UCIFEST 12. Film ini menggunakan teknik animasi sederhana dengan pemilihan character development yang strategis tapi menyajikan plot yang menarik. Topik yang dibicarakan juga memiliki tingkat relativitas yang proporsional bagi pelajar sebagai target audiensnya. Sementara itu, untuk jenjang mahasiswa, Film Pendek Animasi Terbaik UCIFEST 12 berhasil dimenangkan oleh Hide N’ Run, sebuah film karya Excel Darmawan. Menurut para juri, disamping menyajikan kualitas teknis yang baik dan rapi, film ini memiliki tema cerita yang sangat relevan dalam menampilkan peristiwa ’98.

Mengangkat isu yang relevan tentang pandemi Covid-19 melalui visual yang puitis dan juga rekaman berita serta audio keseharian, Sisa Suara membawa penonton melihat situasi dan perubahan yang terjadi selama pandemi. Film garapan Muhammad Andriandino ini berhasil membawa pulang penghargaan Film Pendek Dokumenter Mahasiswa Terbaik UCIFEST 12.

Baca juga: UCIFEST 11: Mereka yang Menang dan Meraih Penghargaan D.A Peransi

Menyabet penghargaan Film Pendek Fiksi Pelajar Terbaik UCIFEST 12, Kampung Ghibah hadir dengan kualitas teknik penyutradaraan yang baik, serta kedalaman cerita yang menarik, membahas isu yang kompleks dengan komposisi sinematografi yang baik, relateable ke banyak kalangan dan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi namun berhasil di eksekusi dengan baik oleh seorang pelajar.

Tuyul & Pak Yul karya Rayhan Syafiq dipilih sebagai pemenang kategori Film Pendek Fiski Mahasiswa Terbaik UCIFEST 12. “… film ini dianggap memiliki penyajian paling utuh dengan teknik sinematografi yang rapi dan cerita yang mudah disampaikan,” ungkap Hanung Bramantyo selaku juri kompetisi film pendek UCIFEST 12.

Selain lima kategori utama UCIFEST 12 tersebut, Dunia Maya berhasil memenangkan kategori Poster Film Favorit UCIFEST 12. Sementara kategori Film Favorit Pilihan Penonton UCIFEST 12 dimenangkan oleh film Terima Kost Putra karya Gitamustika Ayuwardani.

Special Mention Film Kompetisi UCIFEST 12 diberikan kepada Truth Finds a Way karya Muhamma Fatih, sebuah film dengan pendekatan visual yang unik yang hadir menawarkan solusi terhadap isu kebebasan pers di seluruh dunia.

Sementara itu, pitching Terbaik UCIFEST 12 dimenangkan oleh Sedikit Ruang di Kelas Ini. Menurut penilaian juri, persiapan tim produksi asal ISBI Bandung ini sudah cukup baik. Project film pendek ini juga memiliki premis cerita yang unik, namun script yang akan diproduksi dianggap masih perlu dipertajam lagi.

Festival Film Indonesia 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top