Berita

V-Kool Selenggarakan Kompetisi Video Pendek “V-Kool Creative Challenge Indonesia 2016”

Menyadari betapa dekatnya media audio visual dengan generasi masa kini, V-KOOL ingin meningkatkan kesadaran atas semangat kreatifitas dan inovasi yang selama ini menjadi konsep dasar penciptaan V-KOOL kepada generasi muda. Melalui V-KOOL Creative Challenge Indonesia 2016 – kompetisi video pendek bagi filmmaker muda, kegiatan ini diyakini menjadi media alternatif untuk crowdsourcing, selain itu juga berfungsi sebagai dukungan pengembangan kreatif dan mandiri industri perfilman Indonesia.

Dengan mengusung dua tema  “You Deserve The Best” dan “Give Your Definition of KOOL”, V-KOOL Creative Challenge Indonesia 2016 membuka kesempatan luas bagi para filmmaker muda untuk berkreasi dalam kompetisi video kreatif yang memperebutkan hadiah hingga ratusan juta rupiah.  Tema ini sejalan dengan slogan V-KOOL, “You Deserve The Best”, dimana V-KOOL selalu menjaga komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi konsumen dan mitra bisnis.

Membuka Kesempatan untuk Berkreasi melalui Kompetisi Video Kreatif

Linda Widjaja, Vice President Director, PT V-KOOL Indo Lestari mengatakan bahwa, “Semangat untuk berinovasi selalu menjadi komitmen V-KOOL untuk memastikan terciptanya produk-produk terbaik yang menjadi solusi bagi masyarakat banyak. V-KOOL Creative Challenge Indonesia membuka kesempatan luas bagi generasi muda untuk berkreasi dan berinovasi dalam kompetisi video kreatif”.

Dalam V-KOOL Creative Challenge Indonesia 2016 ini V-KOOL Indonesia bekerjasama dengan pakar dan ahli bidang perfilman di Indonesia yang sekaligus akan bertindak sebagai juri, yaitu Garin Nugroho dan Kamila Andini.  Garin dan Kamila merupakan sutradara yang karyanya sukses dalam festival-festival film bergengsi dan banyak menyabet penghargaan di berbagai festival film baik di Indonesia maupun manca negara.

Ketua Dewan Juri V-KOOL Creative Challenge Indonesia 2016, Garin Nugroho, mengatakan, “Regenerasi dalam berbagai bidang itu penting.  Kompetisi film seperti ini bisa memberikan ruang untuk regenerasi, memberikan kesempatan dan bagi para kreator muda dan baru untuk menampilkan karya-karya mereka.  Bahkan mungkin akan bisa menumbuhkan bakat-bakat baru dalam industri audio visual”.

Linda Widjaja menambahkan, “Harapan kami V-KOOL Creative Challenge ini dapat menjadi sarana pendukung bagi generasi muda untuk mengeksplorasi kreatifitas mereka melalui kompetisi video pendek ini”.

Kompetisi ini dibuka pada tanggal 17 November hingga 28 Februari 2017 mendatang. Seluruh karya yang masuk akan diseleksi oleh Dewan Juri yang terdiri dari: Garin Nugroho, Kamila Andini, dan Naya Anindita.

Kompetisi akan dibagi dalam dua kategori, yaitu Kategori Video Berdurasi 5 Menit bertema You Deserve The Best serta Video Berdurasi 1 Menit dengan tema Give Your Definition of “KOOL” dengan detail informasi mengenai video yang diminta dapat dilihat di halaman http://vkoolcreative.com/challenge. Untuk contoh video berdurasi 1 menit, dapat dilihat di kanal Youtube V-Kool Creative Challenge Thailand.

Peserta dalam kedua kategori, akan memperebutkan dua penghargaan, yaitu “Jury Grand Prize” untuk video pemenang pilihan dewan juri dan “Favorite Video” untuk video favorit dengan jumlah votes atau likes terbanyak.  Peserta akan memperebutkan hadiah dengan nilai total 100 juta rupiah dan akan diumumkan pada malam penghargaan yang diselenggarakan pada Maret 2017 mendatang.

Selain Dewan Juri yang akan dipimpin oleh Garin Nugroho, karya-karya peserta akan dikurasi terlebih dahulu oleh Arbain Rambey, wartawan fotografi senior dari harian terkemuka di Indonesia, untuk akhirnya dinilai dan dipilih lebih lanjut oleh Dewan Juri.

Profil Juri V-Kool Creative Challenge

Garin Nugroho

Lahir pada tanggal 6 Juni 1961. Seorang sutradara pertama yang sukses dalam festival-festival film bergengsi dari Cannes hingga Berlin. Dua filmnya yang di putar dalam Festival Film Cannes adalah Daun di atas Bantal (1997) dan Serambi (2004) sebagai “Uncertain Regards”.

Film terbaiknya, Opera Jawa telah diputar di berbagai negara dan dinobatkan sebagai karya besar oleh majalah “Variety”,serta membuat pemutaran perdananya sendiri di Festival Film Venice.

Garin terus mengeksplorasi tema dan budaya Jawa. Bermula dari Opera Jawayang ditransformasi menjadi pertunjukan teater (digelar di Musee de quai Branly – Levi strauss Theater pada 2008) dan dibuat menjadi pameran instalasi seni di Espace Culturel Louis Vuitton Paris (2011).

Film Dokumenternya dianggap sebagai salah satu dokumenter terbaik di Asia dengan berbagai latar belakang budaya dari Sumba, Papua, Aceh hingga Jawa. Dari identitas politik Papua, kejadian 1965, anak jalanan serta dialog lokal dan global hingga interpretasi mitos baru. Filmnya menjadi peta sosial-politik dari beberapa pulau dan kebudayaan di Indonesia.

Kamila Andini

Lahir di Jakarta pada tanggal 6 Mei 1986, Dini lulus dari pendidikan Sosiologi dan Media Seni, Deakin University, Melbourne, Australia. Pada tahun 2011, Kamila menerima penghargaan sebagai “Young Outstanding Alumni” dari Pemerintah Australia.

Film pertamanya “The Mirror Never Lies”(2011), yang bercerita tentang suku Bajo, pejuang laut, telah diputar di lebih dari 30 Festival Film seperti Busan, Berlin dan Tokyo. “The Mirror Never Lies” juga memenangkan banyak penghargaan seperti “The Earth Grand Prix Awards” dari “Tokyo Int’l Film Festival”, “Fipresci Awards” dari “Hongkong Int’l Film Festival”, dan “Best Children Film” dari “Asia Pacific Screen Awards”. Film ini juga menerima 3 penghargaan dari Festival Film Indonesia untuk kategori Skenario Terbaik, Musik dan Kategori Spesial Untuk Sutradara baru.

Saat ini Kamila Andini baru menyelesaikan syuting film keduanya “Sekala Niskala” yang mendapat dukungan dari “The Hubert Bals Funds” – Belanda, “The APSA Children Film Fund” – Australia, “Wouter Barendrecht Awards”dari“HAF” serta menjadi sutradara Indonesia pertama yang terpilih dalam “Cannes Cinefondation Residency” pada tahun 2013.

Naya Anindita

Naya Anindita lahir pada tanggal 9 November 1988. Ia menyelesaikan pendidikan Komunikasi Massa dengan fokus pada Film, TV dan Iklan di Curtin University Australia. Mengawali karirnya sebagai “Production Assisten” dalam program Mata Najwa di Metro TV pada tahun 2009 hingga 2010. Sesuai dengan latar belakang pendidikannya, Naya kemudian menjadi asisten sutradara dalam film “Euphoria” (2010) dan produser film Sinema Purnama (2012). Di tahun yang sama, Naya juga menjadi asisten produser sekaligus host dalam program TV Jalan-Jalan Men (Global TV).  Film pertama yang ia sutradarai dan tulis sendiri adalah sebuah film pendek berjudul Anna & Ballerina. Naya kemudian menyutradarai sebuah film panjang yang berjudul “Kaskus The Movie” (2016).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top