Setelah berlangsung 4 hari, Japanese Film Festival 2025 edisi Jakarta selesai dilaksanakan. Festival film ini menghadirkan film-film klasik Jepang dan kontemporer baik yang sudah dapat ditonton di platform streaming maupun eksklusif di bioskop. Japanese Film Festival 2025 merupakan edisi ke 9 dari festival ini.
Penulis sendiri berkesempatan menonton lima dari 15 yang dihadirkan dalam Japanese Film Festival 2025, antara lain film pembuka Sunset Sunrise, Cells at Work, Ghost in the Shell, Linda Linda Linda, dan juga Seven Samurai yang kesemuanya telah direstorasi dalam bentuk 4K sehingga menontonnya di layar lebar pun terasa lebih maksimal, bukan semata menonton di layar besar.
Perjalanan di Japanese Film Festival 2025 dimulai dengan menonton film pembuka Sunset Sunrise karya Kishi Yoshiyuki, film ini secara unik menggabungkan cerita tentang bencana besar bagi dunia dan Jepang secara khusus yaitu saat COVID-19 dan juga Tsunami tahun 2011. Sebuah film yang manis sekaligus membuat iri tentang bagaimana masyarakat desa di sana bertransaksi secara barter dan dengan ringannya membantu orang lain dikarenakan kekayaan alam yang mudah didapat dan tidak dikuasai segelintir korporasi, tidak juga dikekang aturan yang otoriter tentang bertransaksi dengan uang.
Hari selanjutnya, saya menonton Ghost in The Shell yang telah direstorasi. Film dari judul yang menginspirasi Wackowski bersaudara dalam membuat trilogy Matrix ini jelas akan sulit dipahami bagi yang belum mengenal konteks dari Ghost in The Shell dan beberapa turunan produknya seperti beberapa instalasi serial atau komiknya. Dengan durasi hanya 90 menit, karena tahun 1995 waktu itu belum lazim untuk sebuah animasi dibuat berdurasi lebih dari 2 jam seperti banyak produksi saat ini. Menonton film ini perlu pemahaman lebih akan konteks dari film, kalau belum familier dengan materi aslinya kemungkinan akan kebingungan saat menonton. Namun demikian, Ghost in the Shell rasa-rasanya semakin kontekstual di era kecerdasan buatan saat ini.
Linda Linda Linda yang juga merupakan hasil restorasi 4K membawa saya kembali ke masa ketika mulai menyusuri film-film klasik mancanegara. Saat itu saya diajak teman sinefil ke pemutaran di Japan Foundation dan melihat magisnya semangat masa muda. Menonton Linda Linda Linda di layar besar, dari scene awal, dengan musik latar, sudah menjadi pengalaman magis. Terlebih bersama dengan banyak yang baru menonton pertama kali membawa semangat komunal menonton film.
Menjadi pamungkas Japanese Film Festival di Jakarta, Seven Samurai karya Akira Kurosawa. Dalam 3.5 jam, kita dibawa dalam pertentangan kelas dalam konteks Jepang era Edo, antara kaum bandit, samurai tak bertuan, dan juga petani. Seven Samurai merupakan film perang yang sangat komprehensif, tidak hanya tentang satu dua kali benturan lalu selesai, namun rangkaian benturan yang kemudian bermuara pada hasil dan juga akhir yang memperlihatkan kompleksitas dari benturan kelas itu sendiri.
Tidak lupa menyebutkan Cells at Work menjadi kejutan yang manis bagi saya yang secara random memilih untuk menonton film ini. Sebuah film edukasi tentang perjuangan sel darah merah yang ikut mengingatkan kita untuk bertanggungjawab pada diri kita sendiri.

Tahun ini Japanese Film Festival tayang di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Balikpapan, Yogyakarta, Palembang, Surabaya, Padang, Medan, dan Makassar. Jangan lewatkan kesungguhan dari Japan Foundation membagikan ragam sejarah dan budaya Jepang bagi pencintanya di tanah air.