Uncategorized
Menonton Film Karya Tugas Akhir Perdana Mahasiswa S1 Film dan Animasi Telkom University Pada “Citra Persona: Resonance”
Bandung, 5–9 Januari 2026. Program Studi S1 Film & Animasi, Fakultas Industri Kreatif, Telkom University Bandung, menyelenggarakan pameran, screening, dan presentasi karya film perdana bertajuk “Citra Persona: Resonance”. Kegiatan ini berlangsung di Studio Cinemedia dan Galeri Idealoka, Fakultas Industri Kreatif, Telkom University Bandung.
Rangkaian acara dibuka di Selasar Fakultas Industri Kreatif dan dihadiri civitas akademika serta tamu undangan. Suasana pembukaan berjalan tertib dan khidmat. Panitia meresmikan dimulainya rangkaian pameran melalui prosesi pemotongan kain sebagai simbol pembukaan “Citra Persona: Resonance” 2026. Sebelum prosesi pembukaan, Dr. Ira Wirasari, S.Sos., M.Ds., selaku Wakil Dekan Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Kemahasiswaan, menyampaikan sambutan. Ia menegaskan bahwa kehadiran Program Studi S1 Film & Animasi di Fakultas Industri Kreatif memperluas ekosistem pembelajaran dan produksi kreatif di Telkom University. Ia juga menekankan pentingnya kerja kolektif dan kolaborasi yang terus tumbuh, baik di lingkungan kampus maupun melalui jejaring dengan komunitas dan mitra di luar kampus.
Ketua Program Studi S1 Film & Animasi Telkom University, Anggar Erdhina Adi, S.Sn., M.Ds., melanjutkan sambutan dengan mengangkat kisah Odyssey sebagai refleksi perjalanan pulang setelah perang. Ia menekankan bahwa setiap capaian selalu diikuti tantangan berikutnya. Karena itu, “Citra Persona” tidak diposisikan sebagai titik akhir, tetapi sebagai penanda satu tahap yang akan dilanjutkan oleh proses-proses berikutnya. Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk menghargai proses, menjaga konsistensi, dan merawat disiplin berkarya, karena lintasan kerja kreatif pada tahap berikutnya akan semakin kompleks.
Setelah sambutan, Ketua Pelaksana sekaligus programmer acara, Zen Al Ansory, S.Sn., M.Sn., menyampaikan pengantar tentang makna pameran sebagai ruang pertemuan karya, proses, dan publik. Ia menekankan bahwa pameran ini tidak hanya menampilkan hasil akhir, tetapi juga menandai perjalanan belajar, kerja kolektif, dan keberanian mahasiswa untuk memperlihatkan cara mereka memandang dunia melalui bahasa sinema. Untuk menguatkan tema, Zen Al Ansory membacakan penggalan puisi “Tonggeret” karya Acep Zamzam Noor sebagai pembuka, yang dipilih sebagai penanda tentang ingatan, tubuh, dan gema pengalaman yang terus kembali.
Nama “Citra Persona” dipilih untuk menegaskan cara setiap pembuat film membangun dan mengekspresikan identitas personal maupun kolektif. “Citra” dipahami sebagai image yang dibentuk melalui pilihan visual, sedangkan “Persona” dipahami sebagai aktualisasi gagasan diri. Karya-karya yang dipamerkan memperlihatkan dialog yang terus bergerak antara emosi batin pembuatnya dan dunia luar yang dirumuskan melalui gambar, ritme, suara, serta detail artistik.
Tema “Resonance” menekankan bahwa karya tidak berhenti pada hasil akhir. Karya menjadi getaran yang memantul dari pengalaman pembuatnya dan bertemu dengan pengalaman penonton. Resonansi hadir dari keputusan visual yang saling menguatkan, seperti mood, warna, tekstur set, kostum, hingga bahasa kamera. Tema ini juga dimaknai sebagai identitas yang bergerak, berubah, dan bergema melalui proses kreatif. Ikon tonggeret dipakai sebagai penanda. Dengungnya kerap hadir sebagai isyarat pergantian musim penghujan. Panitia juga menempatkan ikon ini sebagai pengingat atas alam yang makin tergerus, termasuk menyusutnya ruang hidup dan menurunnya kualitas lingkungan.
Hal ini dijawab dalam karya-karya yang dipresentasikan, mahasiswa merespons isu sosial yang dekat dengan kehidupan mereka sekaligus isu degradasi lingkungan. Sejumlah film menyorot degradasi iklim dan perubahan cuaca yang ekstrem yang hari ini kita alami bersama sebagai dampak dari bencana ekologis. Beberapa karya menempatkan banjir sebagai pengalaman keseharian, termasuk dampaknya pada ruang tinggal, relasi keluarga, dan rasa aman. Karya lain menyinggung kerusakan ekosistem, sampah, berkurangnya ruang hijau, serta kecemasan generasi muda terhadap masa depan lingkungan. Isu-isu ini hadir berdampingan dengan konteks sosial lain, seperti tekanan ekonomi, konflik generasi, kesepian di kota, dan relasi kuasa dalam ruang domestik. Melalui pendekatan ini, pameran memperlihatkan cara mahasiswa membaca realitas, lalu mengubahnya menjadi bahasa sinema yang punya sikap dan arah.
Selama lima hari pelaksanaan, pameran menampilkan film-film karya mahasiswa semester tiga angkatan pertama S1 Film & Animasi. Program studi, dosen, dan mahasiswa angkatan kedua turut mendukung pelaksanaan kegiatan, mulai dari kurasi, teknis screening, instalasi karya, hingga operasional acara. Kegiatan ini menjadi puncak pembelajaran Studio 1 Eksplorasi Visual dan Integrated Project (Capstone Design) yang memadukan desain produksi, storyboard, sinematografi, animasi dasar, make up & wardrobe, serta concept art dalam satu alur kerja. Kolaborasi lintas mata kuliah ini mendorong mahasiswa mengintegrasikan ide, teknik, dan emosi untuk membangun penceritaan visual yang koheren.
Rangkaian acara selama pameran meliputi pemutaran film karya Studio 1 Eksplorasi Visual dan Integrated Project, instalasi karya, serta pembacaan puisi berbasis eksplorasi visual. Galeri Idealoka menampilkan properti, kostum, dan set hasil Integrated Project sebagai bagian dari presentasi proses kreatif. Studio Cinemedia menjadi ruang berbagi pengalaman bersinema melalui film-film dari mata kuliah Studio Eksplorasi Visual, dilanjutkan presentasi publik oleh para mahasiswa angkatan pertama.
Walaupun hanya sempat menghadiri satu hari penayangan, rasanya sangat menyenangkan menonton film-film personal karya perdana para mahasiswa S1 Film dan Animasi Telkom University. Karya-karya yang jujur, nakal, dan berani mengeksplorasi berbagai bentuk, namun terasa telah dikurasi dan mengalami proses bimbingan dari para dosen sebelum bahkan mulai proses syuting. Penulis optimis dengan konsistensi dan pembinaan berkelanjutan, S1 Film dan Animasi Telkom dapat menjadi sumber daya baru dalam perfilman di tanah air, terlebih dengan ekosistem akademis dan industri di belakangnya.