Berita

Ganesha Film Festival 2018, Jendela Film bagi Warga Bandung

Infoscreening.co – Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB kembali menyelenggarakan even akbar dua tahunannya yaitu Ganesha Film Festival (Ganffest) 2018. Bertempat di Bandung Creative HUB, Ganffest 2018 resmi dibuka dengan tiga film pilihan berjudul Kabar Hari Ini, On The Origin of Fear dan Munysera. Ganffest 2018 sendiri berlangsung mulai dari tanggal 23 – 25 Februari 2018, bertempat di Bandung Creative HUB, Kampus ITB dan Alun-alun Cicendo.

“Tema tahun ini Jendela, harapannya dapat menjadi penghubung komunitas Bandung dan film-filmnya dengan komunitas luar Bandung dan film-filmnya. Kemudian harapannya untuk Ganffest tahun ini agar bisa menjadi etalase film pendek Indonesia di Kota Bandung. Karena Bandung masih minim film antarkomunitas”. Terang Abdul Rahman selaku Direktur Festival yang ditemui di sela-sela acara, Jum’at (23/2).

Rahman juga mengungkapkan total film yang masuk pada Ganffest tahun ini sebanyak 323 karya yang terkumpul dari seluruh Indonesia. Adapun keseluruhan film tersebut telah melalui proses kurasi untuk kemudian dinilai oleh para juri hingga memperebutkan dua penghargaan yaitu Gajah Emas dan Gajah Pinilih. Adapun untuk Gajah Emas, bertindak sebagai juri adalah Makbul Mubarak, Jason Iskandar dan Yuki Aditya. Sementara untuk kategori Gajah Pinilih, diisi oleh perwakilan dari komunitas Bandung yang terdiri dari Katya L. Yuniar, Irvan Aulia, Agus Safari, Bagja Pangestu dan Gerry Fairus Irsan.

Masukan seputar pengantar program

“Organisasinya sudah oke,karena kegiatannya (UKM) sudah intens dan mungkin karena sudah kenal lama. Soal teknis, ada beberapa gangguan merupakan hal biasa, karena di festival film Internasional juga biasa begitu.” Puji Yuki Aditya selaku salah satu dewan juri pada kategori Gajah Emas. Meski demikian Yuki pun memberi masukan “Menurut gue festival menjadi penting perannya karena punya statement. Walau tingkat mahasiswa juga perlu punya statement. Mau ngapain sih? Apakah mereka mau memajukan film mahasiswa atau mungkin film Bandung”. Terang Yuki menyoroti belum adanya pengantar tertulis dan juga data-data dari Ganffest sebelumnya yang tidak terarsip.

Bertempat di kampus ITB ruang 9009, berbagai karya kompetisi maupun program khusus diputar. Adapun berbagai program pemutaran yang disuguhkan yaitu A Look On, yang berisikan film-film pilihan dengan satu tema besar yang sama. Lalu ada Bandung Nu Aing!, berisi film-film pilihan dari pembuat film Bandung. Kemudian Horizon, berisi film-film pilihan yang telah tampil di pemutaran-pemutaran berskala Internasional. Selain itu, hadir pula program pemutaran Sinema Keliling, film-film yang telah dipilih akan diputar di sekitaran kampung-kampung di Kota Bandung. Harapannya, Sinema Keliling ini menjadi ajang bertemunya film dan pembuatnya dengan masyarakat yang lebih luas. Hal ini nampaknya dapat menjadi salah satu alternatif jawaban bagi festival-festival film yang selama ini terkesan eksklusif.

Adapun catatan khusus pada Ganffest tahun ini adalah pilihan film-filmnya yang beragam. Bukan hanya sekadar tema dan cara bertutur, namun film-film yang berkompetisi dan yang diputar juga mampu menghadirkan keberagaman Indonesia, diantaranya adalah adat istiadat dan bahasa. Sesi pemutaran Bandung Nu Aing! misalnya, menjadi semacam etalase untuk melihat karya-karya pembuat film Bandung dan tentunya menyelami lebih jauh budaya Jawa Barat, khusunya Bandung.

Selain berbagai program pemutaran, Ganffest 2018 kali ini juga menghadirkan beberapa program menarik lain seperti kelas penyutradaraan yang diisi oleh Jason Iskandar, kelas kritik dan kajian film bersama Bahasinema,dan yang tak kalah seru adalah temu kemunitas yang dihadiri berbagai komunitas film dari berbagai daerah di Indonesia.

Festival yang berlangsung selama tiga hari ini ditutup dengan diputarnya film Tiket ke Bioskop. Pada malam itu juga diumumkan pemenang dari dua kategori, untuk Gajah Emas diraih oleh film Mesin Tanah, sutradara Wimar Herdanto. Kemudian kategori Gajah Pinilih diraih oleh film Seorang Kambing, sutradara Tunggul Banjaransari.

“Ganffest selalu menyenangkan, Bandung selalu menyenangkan. Sudah dua kali dapat pengalaman menyenangkan.Berharap Ganffest konsisten terus”. Ungkap Wimar, setelah meraih penghargaan Gajah Emas Ganffest tahun ini tak lupa juga berterima kasih pada warga Jatiwangi yang dianggapnya berkontribusi besar bagi rampungnya film.

Wimar Herdanto pemenang piala Gajah Emas dalam Ganffest 2018 (foto: Panji/Infoscreening)

Berikut adalah daftar film-film yang berkompetisi pada Ganffest 2018:

Train To Heaven (Sutradara: Mahesa Desaga)
Seorang Kambing (Sutradara: Tunggul Banjaransari)
Pesan dari Barat (Sutradara: Suwardi Aditya)
Mesin Tanah (Sutradara: Wimar Herdanto)
Jendela (Sutradara: Hilarius Randi Pratama)
C’est La Vie (Sutradara: Ratrikala Bhre Aditya)
Mars (Do Not Pee Randomly) (Sutradara: Muhammad Marhawi)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top