Europe On Screen 2021Sundance Film Festival 2021 Asia
Berita

Kabar Terbaru Film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”

Ya, sepertinya banyak sekali penonton film Indonesia yang rindu dengan aktingnya Ladya Cheryl dalam sebuah film. Tercatat ia berakting terakhir kalinya di sebuah film panjang pada tahun 2012 dalam Postcards From The Zoo. Setelah itu, kami para penonton sempat optimistis ia akan muncul di AADC 2, namun apa daya, baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan.

Kembalinya Duet Edwin-Ladya

Ladya dan Edwin akan berkolaborasi kembali! Yeay! Kolaborasi tersebut akan hadir dalam film yang diangkat dari novel ketiga Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Dunia maya menyambut gembira berita ini. Apalagi dynamic duo ini bukan cuma telah berkolaborasi dalam dua film panjang, tapi memiliki sejarah panjang sejak Kara, Anak Sebatang Pohon, film pendek Edwin yang dibuat tahun 2005, lalu di dua film pendek lainnya Trip To The Wound dan Hulahoop Soundings. Ladya mengaku, dalam konferensi pers tanggal 18 Februari lalu di Kinosaurus, yang membuatnya tertarik, banyak eksperimen dan pakem-pakem yang berbeda ketika bekerja sama dengan Edwin dibanding dalam produksi film yang biasa ia alami sebelumnya. Apalagi setting film Kara, Anak Sebatang Pohon saat itu adalah daerah sekitar Semeru, tempat yang ingin sekali ia kunjungi, kenangnya.

Kenapa ia akhirnya mau kembali berakting setelah bertahun-tahun absen? Ia mengatakan, awalnya ragu menerima tawaran ini. Hingga ia berada dalam proses membaca novel dan skenarionya. Ia pun tertarik dengan tokoh Iteung yang akan ia perankan. Edwin mengaku, jika di film-film sebelumnya ia belum pernah melakukan casting untuk Ladya, kali ini ia melakukan hal itu. Ladya sendiri dengan sukarela mengirimkan beberapa video dari skenario yang ia terima dengan meminta Edwin memilihkan adegan apa saja. Ia menambahkan, baginya pribadi, proses diskusi dengan Edwin di film-film sebelumnya adalah proses casting. Persiapan lain yang Ladya lakukan untuk film ini (selama menunggu proses syuting akhir 2020 nanti) adalah berkaitan dengan latar film yang mengambil era delapan puluhan hingga sembilan puluhan. Ia mendengarkan musik-musik yang populer kala itu, ia belajar berdialog dengan kalimat-kalimat yang ada di novel, ia melakukan latihan fisik (mengingat Iteung adalah seorang jawara perempuan), dan juga belajar mengendarai sepeda motor kopling.

Tentang Proses Produksi

Seperti disebutkan di atas, proses syuting film ini dijadwalkan akan dilaksanakan pada akhir 2020. Kemungkinan tuntas dan bisa ditonton sekitar tahun 2021 (entah bulan apa). Jika mengingat kabar tentang film ini terdengar sejak tahun 2016, maka proses ini tergolong lama sekali.

Selalu ada milestone baru dari awal hingga hari ini, kata Meiske Taurisia, Sang Produser. Bermula dari kami semua yang belum kenal dengan Eka Kurniawan, hingga kami bisa mengontaknya, berdiskusi, penulisan skenario, meminta izin pada Pontas Agency, mencari pendanaan dan sebagainya. Novel Eka ini adalah novel yang sangat kompleks, tapi menarik, juga banyak kejutan, lanjutnya. Mbak Dede, begitu ia akrab disapa, juga mengungkapkan kalau film ini nantinya akan dibuat dengan menggunakan film seluloid 16mm. Tantangannya sampai saat ini adalah proses pencarian lab dan hal-hal teknis lainnya masih berlangsung. Edwin menambahkan, penggunaan seluloid 16mm bukanlah dimaksudkan untuk romantis-romantisan. Medium menjadi kebebasan buat film maker dan sangat penting untuk pilihan ekspresi. Hal ini juga bisa mempertemukan orang-orang yang biasa dengan cara analog dengan orang-orang yang biasa membuat film dengan cara modern, hingga adanya kerja sama dan pembelajaran disana, ujarnya.

Skenario yang ditulis oleh Eka Kurniawan bersama Edwin pun masih mengalami pengembangan hingga saat ini. Proses penulisan tersebut dilakukan secara estafet. Kadang beberapa bulan di tangan Eka, lalu beberapa bulan selanjutnya dikerjakan Edwin. Begitu seterusnya. Eka sendiri membuka pintu yang luas bagi tim Palari Films untuk menginterpretasikan novelnya tersebut. Yang jelas, film ini kan mengupas isu tentang maskulinitas dan relasi kekuasaan, tegas Edwin.

Baca juga: Membaca Karya Eka Kurniawan dalam Rekam Film

Dari segi pendanaan, film ini telah mendapatkan berbagai macam dukungan berupa: memenangkan grand prize Most Promising Project di Asian Project Market yang diselenggarakan oleh Busan International Film Festival 2016, memenangkan Post-Production Award dalam Hong Kong Asian Film Market (HAF) dari Whitelight Post pada tahun 2018, dukungan dana hibah SEA Co-production Grant dari Singapore Film Commission sebagai apresiasi atas kerja sama ko-produksi antara Indonesia & Singapura: Palari Films, Phoenix Films, dan E&W Films, serta dukungan dari Purin Pictures dari Bangkok berupa dana hibah Production Grant.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas berkisah tentang seorang jagoan bernama Ajo Kawir yang memiliki hasrat untuk terus berkelahi dan tidak takut mati. Ia sendiri memiliki sebuah rahasia: impoten. Hingga ia bertemu dengan seorang jagoan perempuan bernama Iteung yang membuatnya babak belur dengan bahagia. Ajo Kawir jatuh cinta! Lantas bisakah mereka bersatu dan berbahagia? Film ini nantinya bergenre drama, romansa dan tentu saja, laga.

Tahun 2021 sudah memberikan rindu dari sekarang, dan film ini harus segera tuntas!

Europe On Screen 2021Sundance Film Festival 2021 Asia
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top