Festival Film Indonesia 2021
Berita

Melangkah Menuju Masyarakat Inklusif Lewat Film “Sejauh Kumelangkah”

Pemenuhan hak-hak kelompok difabel masih menjadi pekerjaan rumah di Indonesia. Jika menengok keadaan sekitar, mudah bagi kita melihat absennya fasilitas pendukung untuk kelompok difabel di ruang-ruang publik. Kalaupun ada, kita bisa hitung berapa yang cukup baik untuk digunakan dan berapa yang tak standar atau sudah rusak. Keadaan ini diperburuk dengan masih banyaknya masyarakat yang awam dalam memahami keberadaan kelompok difabel, sehingga interaksi semakin minim dan justru memunculkan sekat. Keadaan itu tak lepas dari stigma dan diskriminasi yang masih dialami para penyandang disabilitas.

Meski begitu, permasalahan ini bukan berarti menjadi suatu hal yang harus dibiarkan dan minim aksi. Kian hari mulai bermunculan inisiatif untuk meningkatkan kepedulian kita pada masalah ini, salah satunya melalui film dokumenter Sejauh Kumelangkah. Film besutan sutradara Ucu Agustin ini dirilis pada September 2019 dan sudah malang melintang di berbagai pemutaran serta festival film internasional. Peraih Piala Citra 2019 kategori film dokumenter pendek terbaik ini kembali melanjutkan langkah distribusinya setelah tertunda akibat pandemi. Yang terbaru, pemutaran film dengan judul bahasa Inggris How Far I’ll Go ini diadakan oleh @america pada hari Selasa, 5 Januari 2021. Film diputar dalam versi aksesibel yang dilengkapi dengan audio description dan close caption.

Melihat Difabel Bukan Sebagai Objek

Film Sejauh Kumelangkah mengangkat kisah Andrea dan Salsa, dua remaja tunanetra yang bersahabat dari kecil. Keduanya harus berpisah dan menjalani kehidupan di dua tempat yang berbeda: satu di Indonesia, satu di Amerika Serikat. Cerita kehidupan Andrea-Salsa di film ini sederhana dan tak jauh berbeda dengan remaja pada umumnya. Keduanya menjalani kehidupan sehari-hari sebagai seorang pelajar dengan berbagai tantangannya, seperti harus bangun pagi untuk sekolah, berangkat menggunakan bus sekolah, kemudian pulang di sore hari dan mengerjakan PR saat malam.

Namun, Andrea dan Salsa juga harus melewati berbagai tantangan sebagai seorang difabel di lingkungan yang belum sepenuhnya ramah penyandang disabilitas. Andrea sempat ditolak di sekolah inklusif karena dikhawatirkan sulit beradaptasi. Adapun Salsa menceritakan sulitnya menyesuaikan ritme pelajaran di sekolah karena buku pelajaran yang digunakan tidak menyediakan tulisan braille.

Pada sesi diskusi setelah pemutaran, sutradara Ucu Agustin mengungkapkan bahwa film ini adalah film tentang persahabatan. “Orang dengan disabilitas dan non-disabilitas memiliki pengalaman yang sama tentang persahabatan. Itu menjadi highlight utama film ini,” ujar Ucu. Dengan demikian, apa yang ingin disampaikan film ini sejatinya sederhana dan jelas: bahwa kelompok difabel seharusnya dilihat bukan sebagai objek pity (pitying: kasihan), melainkan sebagai bagian dari masyarakat. Stigma kelompok difabel yang dianggap lemah berakar dari pola pikir diskriminatif dan fasilitas publik yang tidak inklusif.

Meruntuhkan Sekat Kami-Mereka

Cerita Andrea dan Salsa memberikan pemahaman dan perspektif baru bagi banyak orang. Ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Andrea, “Film ini punya misi raising the awareness kepada orang yang menonton, karena saya ingin tunjukkan experience sebagai seorang difabel,” ungkap Andrea Darmawan pada sesi diskusi malam itu. Pengalaman kurang mengenakkan yang dirasakan oleh Andrea dan Salsa juga menjadi kritik bagi para pemangku kepentingan, di mana keterbatasan kelompok difabel merupakan akibat dari kebijakan yang tidak inklusif.

Baca juga: Jangan Ada Lagi Glorifikasi Disabilitas dalam Film Indonesia

Dapat disimpulkan, mengupayakan lingkungan inklusif harus dimulai dengan memahami kelompok difabel sebagai bagian dari masyarakat secara utuh dan tanpa diskriminasi. Sentimen “kami” dan “mereka” yang menjadi sekat pemisah kelompok difabel dengan non-difabel harus runtuh lebih dahulu. Film Sejauh Kumelangkah bisa jadi salah satu alat untuk mengampanyekan nilai-nilai inklusi jika distribusinya berkelanjutan. Dengan begitu, semoga bisa lebih mendekatkan penonton disabilitas di berbagai ruang putar publik. Tentunya tanpa sekat dan tanpa jarak pembeda.

Festival Film Indonesia 2021
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top